aku sudah membawa diriku pada banyaknya perjalanan, mengusahakan cinta hingga cita-cita
apabila kegagalan selalu menemuiku, biarkan aku kecewa sejenak dan bantu aku untuk bangkit lebih lagi,
aku adalah ombak yang selalu menunggu ceritamu di bibir pantai, duduklah barang sejenak
bersenandunglah tentang apa yang kamu lakukan hari ini, bagaimana keadaanmu.
sejak beranjak menuju dewasa, mimpiku tak lagi sebesar saat aku masih kecil
kini aku hanya berharap, aku bisa tetap hidup dengan berbagai hal yang harus
aku hadapi sendirian.
tembakan di malam mencekam, yang melahirkan trauma dan tangis yang tumpah.
darah dari saudara kalian sendiri, tutup matakah kalian wahai yang katanya pelindung?
@BdgBergerakID@mLwnAdalahKunci
Tuhan;
doa tentang mimpiku tak terlalu tinggi kali ini, cukup dikuatkan diriku, bisa selalu memaknai setiap arti syukur, dan punya rumah untuk pulang. sekadar berbagi cerita dan canda.
meski, aku sedang gagal dalam segala hal dan tak melakukan apa—apa. sungguh, dalam hati aku sedang berusaha menata kepingan semangat, untuk bangkit kembali.
pulanglah pada rumah yang tepat; yang
menghargai lelahmu dan tidak menuntut
lebih di luar kemampuanmu.
butuh kabarmu, dan menemani progres
kecil—kecilanmu.
biar kata ingin menyerah berkali—kali, namun demi apapun aku selalu berusaha untuk bertahan.
biar sendiri juga, aku tak mau membebani siapapun. biar sedih dan hancur ini milikku.
jadikan aku rumah, paling tidak kamu
punya aku untuk membagi cerita dan keluh kesah.
demi apapun, aku berusaha menjadi tempat ternyamanmu untuk pulang.
di lingkaran stigma, laki—laki selalu mengusahakan air matanya tak sampai jatuh.
padahal, menangis milik siapapun. laki—laki hanya terlihat kuat, nyatanya tak semua.
laki—laki berhak atas cinta dan kepedulian di sekitarnya. tak perlu harus tampan dan kaya raya.