Aku sudah pernah berbaju orange
Aku tidak pernah membayangkan akan sampai di titik ini.
Memakai baju orange, berdiri di tengah kerumunan, dilihat banyak mata, seolah hidupku diringkas menjadi satu warna. Tapi kalau mereka mau tahu, ini bukan awal dari ceritaku. Ini hanya satu potongan kecil dari jalan panjang yang sudah kupilih, sadar atau tidak.
Baju orange ini,
Yang sering diteriakkan buzzer dan termul untuk menghinaku
Ketika dia ku sandang di tubuhku, justru
Seperti baju zirah yang membungkus perjuanganku.
Baju orange ini, di tubuhku adalah tanda perlawanan terhadap kebohongan, kepalsuan, kezaliman.
Tanda bahwa aku terus berdiri tegak dan senyuman karena aku tahu nilai apa yang terkepal di tanganku.
Aku hanya berjalan dengan apa yang kupercaya. Kadang langkahku pelan, kadang aku ragu, tapi aku tidak pernah benar-benar berhenti.
Aku tahu, apa yang kusuarakan tidak selalu nyaman untuk didengar. Bahkan mungkin membuat sebagian orang terusik. Tapi bagaimana aku bisa diam, kalau hatiku sendiri tidak bisa diajak kompromi?
Di balik senyum ini, ada banyak hal yang tidak terlihat. Ada lelah, ada takut, ada pertanyaan yang tidak selalu punya jawaban. Tapi ada satu hal yang selalu kutahan kuat-kuat: aku tidak mau kehilangan diriku dan menggadaikannya demi kenyamananku.
Hari iitu, melihat aku berbaju orange, mungkin banyak orang iba padaku, menangisiku.
Tapi di dalam diriku, muncul bara api membara seterang baju ini.
Yang membuatku tetap utuh dalam langkahku dan berkata:
Kalau ini memang harus aku jalani, ya sudah… aku jalani.
Bukan untuk membuktikan apa-apa ke dunia. Tapi supaya nanti, saat aku melihat ke belakang, aku tahu,
aku tidak pernah mengkhianati kebenaran yang kuyakini.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh…
Salam sejahtera buat semua.
Hari ini, 10 November 2025, kita memperingati Hari Pahlawan.
Saya memilih hari ini untuk menyampaikan satu hal yang berguna buat seluruh anak bangsa, dan terutama buat diri saya sendiri, dr.Tifauzia Tyassuma, https://t.co/IDuIvQSub4.
Hari Jumat lalu, 7 November 2025, saya bersama dua rekan saya, Dr.Rismon Sianipar dan Dr.Roy Suryo, (yang lebih dikenal sebagai RRT) bersama lima aktivis lainnya, ditetapkan sebagai tersangka untuk kasus dugaan ijazah Palsu Jokowi.
Pasal yang disangkakan kepada kami adalah sejumlah pasal berlapis yang bagi saya sendiri menimbulkan perasaan tidak nyaman, tapi bukan suatu perasaan TAKUT. Ketidaknyamanan itu datang dari pemikiran bahwa betapa ruwet dan runyamnya proses pikir dibalik pasal2 persangkaan ini.
Saya merasakan ada kejanggalan dalam cara pasal-pasal ini dirangkai, seolah logika hukum dipaksa menyangkal akal sehat. Bila bertanya dan meneliti dianggap kesalahan, dan keterusterangan diperlakukan sebagai kriminal, maka persoalannya jauh lebih serius daripada apa yang dituduhkan kepada kami. Ini melebihi persoalan hukum yang kasat mata.
Hari ini, ketika bangsa memperingati Hari Pahlawan, kita seperti diingatkan bahwa keberanian bukan hanya soal perang dan senjata, tetapi tentang siapa yang masih berani berkata jujur ketika kejujuran mulai ditakuti.
Saya masih percaya bahwa di dalam bangsa yang besar ini masih ada orang yang berpihak pada kejujuran, kebenaran dan keadilan. Kepada mereka ini kami menggugah akal sehat dan nalar untuk dapat ikut serta dalam perjuangan ini.
Kami bertiga, dan terutama saya, dengan tenang dan penuh keyakinan, insyaAllah siap datang dan menjalani pemeriksaan di Polda Metro Jaya. Kami sangat menghornati institusi ini dan berupaya menjadi warga negara yang baik. Kedatangan ini bukan karena saya tidak punya rasa takut, tapi justru karena keyakinan yang kuat akan adanya pertolongan Allah. Hasbunallah wanikmal wakil nikmal maula wanikman nasir" ("Cukuplah Allah sebagai penolong kami, Dialah sebaik-baik pelindung, sebaik-baik pemimpin, dan sebaik-baik penolong).
Saya berdoa, semoga Allah menolong kami, melalui tim kuasa hukum yang telah kami percayai. Saya pun bermohon pada Allah, semoga para pemeriksa kami dikaruniakan hati yang lembut, mata hati yang terbuka pada kebenaran, dan keberanian untuk mengambil sikap dalam membela kebenaran. Amin ya robbal ‘aalamin.
Saya hanya meminta satu hal: biarkan proses ini menjadi ruang untuk menemukan kejelasan, bukan ruang menimbulkan ketakutan. Biarkan hukum mengantar kita pada kebenaran, bukan pada tekanan. Karena ketika hukum berjalan dengan jujur, maka tidak ada siapa pun yang perlu merasa terancam oleh kebenaran.
Tak ada yang perlu merasa tersinggung dengan penelitian dan upaya ilmiah yang kami lakukan.
Di balik semua proses ini, saya menyimpan kepercayaan yang teguh kepada Presiden Prabowo Subianto—pemimpin yang sejak awal berdiri dan memantapkan diri untuk selalu berusaha bertindak penuh keadilan dan berdiri di atas kebenaran. Saya yakin beliau mendengar, melihat, dan memahami, bahwa bangsa ini hanya bisa maju jika kebenaran diperlakukan sebagai cahaya, bukan ancaman.
”Terima kasih.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Dengan Hormat
Dr.Tifauzia Tyassuma, https://t.co/IDuIvQSub4
Kepanikan, Mencekam dan Ketakutan melanda Zionis... mau kabur kemana ???
Bandara sudah ditutup akibat aksi Hacking.
Lubang Tikus sudah penuh sesak dengan Zionis yang ketakutan.
Ekonomi sudah hancur akibat sepinya aktifitas Pasar akibat ketakutan.
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Turut berduka atas berpulangnya Bapak Dr. K.H. Hamzah Haz, Wakil Presiden ke-9 RI. Insya Allah beliau husnul khatimah. Semoga keluarga yang ditinggalkan senantiasa diberikan ketabahan.
DI KAOSNYA ADA TULISAN
SAYA INDONESIA SAYA PANCASILA ❤️‼️
SEANDAINYA
Seandainya
Uang 500 T tdk untuk
bangun IKN
Dan seandainya
Uang 271 T tdk dikorupsi oleh oknum PT Timah
Tapi buat KESEJAHTERAN RAKYAT
Maka
Tdk ada lagi
pemandangan seperti video
di atas ini😪
Pulang ke Jogja bareng Fery, untuk menghadiri undangan acara syawalan bersama Yayasan Masjid Syuhada Yogyakarta, Keluarga Besar HMI dan jaringan relawan AMIN.
Malamnya melanjutkan perjalanan naik KA Sancaka, untuk menghadiri undangan silaturahmi & syawalan dengan para tokoh dan ulama di Surabaya pagi ini.
Perjalanan dengan kereta api selalu menyenangkan, apalagi kalau berdua saja dengan Fery.
Foto ke-3: Mas, kameranya dibalik dulu. :)