stress language.
lebih penting mengenali stress languagenya dengan mengenal lebih dalem cara dia marah, cara dia diem, cara dia overthinking, itu lebih urgent daripada love language nya.
bcs when you see their worst side and figure out how to deal with it that you really know if you’re actually compatible or not
Guys, ada diskusi yang menurut gue paling jujur dan paling berani tentang satu pertanyaan yang banyak orang pikirkan tapi jarang dibahas secara serius.
Kenapa Prabowo yang dulu kita kenal dan Prabowo yang sekarang memimpin terasa seperti dua orang yang berbeda?
Felix Siauw dan Gian membahas ini dari sudut pandang yang tidak biasa kepemimpinan dalam Islam, batas kritik dan kepatuhan, dan fenomena kekuasaan yang mengubah orang.
Pertama tentang pola pidato yang paling disorot:
Felix mengamati ada pola yang konsisten dalam pidato-pidato Prabowo: sambat dan curhat.
Curhat tentang pernah direndahkan.
Curhat tentang pernah dihina.
Curhat tentang perjuangan panjang yang tidak dihargai.
Felix tidak mengatakan ini salah secara manusia.
Tapi sebagai pemimpin ini bermasalah.
Karena pemimpin yang terlalu sering menunjukkan kelemahan emosional di depan publik tidak memberi ketenangan kepada rakyatnya.
Yang terjadi justru sebaliknya:
rakyat yang harusnya tenang malah ikut cemas.
"Kalau aku sebagai pemimpin curhat terus
yang dengar mau ngapain?"
Felix juga menyoroti bahwa trik vulnerability itu efektif untuk influencer yang sedang membangun audiens bukan untuk presiden yang sedang memimpin negara. Konteksnya berbeda total.
Dan ini yang paling mengejutkan soal pernyataan dolar tidak mempengaruhi orang desa:
Felix tidak percaya Prabowo tidak tahu bahwa pernyataan itu salah.
Karena Prabowo sendiri pernah berkali-kali berpidato tentang betapa pentingnya mata uang
bahkan mengutip kalimat terkenal tentang cara menghancurkan negara adalah dengan menghancurkan mata uangnya terlebih dahulu.
Jadi kalau bukan karena tidak tahu kenapa bisa ngomong seperti itu?
Felix menyimpulkan: meremehkan.
Bukan tidak paham.
Tapi merasa bahwa apapun yang diomongkan akan diterima begitu saja.
Tidak ada lagi rasa bahwa ada konsekuensi dari kata-kata yang keluar.
Dan itu lebih mengkhawatirkan dari sekadar kekeliruan faktual.
Dan ini tentang batas kritik dalam Islam yang paling menarik:
Felix menjelaskan dengan sangat clear.
Dalam Islam taat kepada pemimpin itu wajib.
Tapi ada syaratnya:
selama pemimpin itu taat kepada Allah dan Rasul-Nya.
Dan yang lebih penting lagi Al-Qur'an tidak menulis "taatilah Allah, taatilah Rasul, dan taatilah pemimpin kalian."
Yang tertulis adalah "taatilah Allah, taatilah Rasul, dan pemimpin di antara kalian."
Konstruksi kalimat ini penting.
Ketaatan kepada pemimpin terikat pada ketaatan pemimpin itu sendiri kepada yang lebih tinggi.
Bukan ketaatan buta tanpa syarat.
Dan dalam Islam menasihati adalah tanda peduli.
Bukan tanda pembangkangan.
Analogi yang Felix pakai sangat tepat:
bayangkan kamu naik mobil dan suami yang menyetir sambil main HP.
Kamu akan tegur karena dia yang pegang setir keselamatan semua orang ada di tangannya.
Kalau dia duduk di belakang tidak ada yang akan repot menasihatinya.
"Kita banyak nasihati pemimpin karena dia yang megang setir.
Karena keselamatan kita semua tergantung dia."
Dan ini yang paling menohok soal diam sebagai hukuman terberat:
Felix mengatakan sesuatu yang menurut gue sangat dalam.
Dalam Islam diam itu lebih berat dari marah.
Diam artinya sudah tidak peduli.
Diam artinya sudah menganggap eksistensi yang satu tidak ada lagi.
Kalau rakyat masih teriak itu tandanya masih peduli.
Masih merasa bahwa pemimpinnya bisa berubah.
Masih merasa bahwa suaranya mungkin didengar.
"Kalau anak-anak masih ngomong itu masih bagus. Kalau anak-anak sudah diam berarti mereka cerita ke orang lain.
Cari perhatian di tempat lain."
Dan itu jauh lebih berbahaya bagi pemimpin manapun.
Dan ini tentang fenomena yang paling konsisten dalam sejarah politik Indonesia:
Felix membuat observasi yang sangat sederhana tapi sangat akurat.
Orang yang di luar kekuasaan akan mengkritik habis-habisan.
Orang yang sudah masuk kekuasaan akan mempertahankan posisinya habis-habisan.
Prabowo dulu mengkritik keras soal perjalanan luar negeri yang terlalu sering.
Sekarang dia adalah presiden yang paling sering ke luar negeri.
Prabowo dulu mengkritik keras soal utang luar negeri.
Sekarang utang terus berjalan.
Prabowo dulu pidato tentang pentingnya menjaga nilai mata uang.
Sekarang rupiah di Rp17.800 dan beliau berkata dolar tidak mempengaruhi orang desa.
Ini bukan hanya soal Prabowo.
Ini adalah pola yang terjadi pada hampir semua pemimpin yang masuk ke dalam sistem tanpa mengubah sistemnya terlebih dahulu.
Dan Felix menyimpulkan ini dengan kalimat yang menurut gue paling penting dalam seluruh diskusi:
"Sistem kepemimpinan itu jauh lebih penting daripada siapa yang memimpin.
Karena terbukti siapapun yang memimpin ujungnya begitu saja.
Selama sistemnya tidak berubah."
Kursi mengubah orang.
Ini bukan teori ini fakta sejarah yang berulang.
Power tends to corrupt.
Absolute power corrupts absolutely.
Itulah kenapa dalam sistem yang sehat check and balance itu bukan pilihan. Itu keharusan.
Agar tidak ada satu orang pun yang merasa bahwa apapun yang dia katakan pasti diterima.
Agar tidak ada ruang di mana pemimpin bisa lupa bahwa kata-katanya punya konsekuensi.
Dalam Islam pemimpin yang baik bukan yang tidak pernah salah. Tapi yang ketika salah dia dengar.
Seperti imam salat yang lupa rakaat ketika makmumnya bilang subhanallah, dia berhenti, dia koreksi, dia lanjutkan dengan benar.
Bukan yang ketika diingatkan langsung membantah: "MBG bermanfaat atau tidak? Tidak.
lansung jawab dengan lantang
MBG sangat bermanfaat."
Ga. Selama emosinya ga pernah dialirkan keluar, sampai mati pun ga akan sembuh.
We're the one who needs to fight to heal.
Do not rely on time.
Time does nothing if we do nothing.