Assalamualaikum semua, saya ceo dari aplikasi belajar Quran Qara'a yang saat ini sudah bantu belajar Quran lebih dari 1juta orang.. nah saya mau kasi 2000 akses premium gratis Qara'a buat member komunitas ini untuk mendampingi ramadhan. Apakah ada yang mau?
"Perfection is not attainable, but if we chase perfection, we can catch excellence” – Vince Lombardi, legendary NFL coach.
There are some sports where perfection can be attained, a new world record, or the maximum score in target sports, or when the judges award “perfect” scores in sports like gymnastics. But in any interactive sport, such as badminton, perfection is simply not possible to either define or attain as the athletes are not in complete control of their own performances, they must react and deal with what their opponents do.
In their prime The Daddies were probably as near to perfection as humanly possible. A new level of “excellence” aesthetically, ethically, tactically and technically.
Although clinical in their determination to win, The Daddies always displayed exemplary sportsmanship. They were wonderful to watch and good in all departments of the game appearing to have no weaknesses. They worked tirelessly for each other, complimenting each other’s strengths.
Both had a wonderful defence yet were also superb in attack. Ahsan’s speed and playmaking from the rear court, his clever placement and thunderous smashes delivered with body and soul set up countless opportunities for Setiawan to anticipate, intercept and play his vast array of winners from the front court.
Complimentary styles working in complete harmony. The Daddies were simply excellence personified.
🇹 Together
🇭 Harmonised
🇪 Excellence
🇩 Doubles
🇦 Ability
🇩 Delightfully
🇩 Demonstrated
🇮 Incorporating
🇪 Exemplary
🇸 Sportsmanship
Each had their roles and qualities, Mohammad Ahsan was the playmaker
🇲 Many
🇴 Opportunities
🇭 Hatched
🇦 Amid
🇲 Magnificent
🇲 Manoeuvres
🇦 Appropriately
🇩 Deployed
🇦 Accurate
🇭 Hard
🇸 Smashes
🇦 Absolutely
🇳 Notorious
While Hendra Setiawan
🇭 Habitually
🇪 Exhibited
🇳 Net
🇩 Domination.
🇷 Reflexes
🇦 Amazing.
🇸 Stylish
🇪 Exquisite
🇹 Touch.
🇮 Instinctive
🇦 Anticipation.
🇼 Winners
🇦 Always
🇳 Notable
As they prepare for their final tournament, we can only reflect on what a privilege it’s been to watch “excellence” at work over the years.
Oh, how we’ll miss The Daddies!
📷@badmintonphoto
#Badminton
Kritikan Untuk Orang-orang NU
Oleh: Gus Baha
NU itu terlalu banyak pengajian umum. Tradisi ngaji (kitab) mulai hilang. Itu lampu merah. Orang kaya suka ulama. Suka kiai. Tapi maunya ngatur ulama, tidak mau diatur ulama.
Saya ga mau ngaji yang ribet itu. Harus pasang panggung, sound system, yang penting bupati datang. Ribet.
Mereka habis 50 juta, 100 juta tidak masalah. Tapi sesuai mau mereka, yang datang jamaahnya banyak. Coba, kalo nuruti maunya kiai, ulama, ngajinya menganalisa kitab, uangnya buat mencetak naskah, pasti tidak mau.
Saya ingin kebesaran ulama itu kembali, yaitu bisa mengatur orang kaya. Bukan seperti sekarang, diatur orang kaya.
Banyak yang datang minta pengajian umun, bawa alphard, saya jawab kalo mau ngaji datang ke sini saja. Kalo kiai diatur-atur, kan ribet.
Bukan saya anti. Dan itu perlu. Tapi sudah over. Tapi tradisi ngaji yang sebenarnya, yang jadi standar NU, sudah mulai ditinggalkan.
Ditambah, kiai yang kedonyan, cinta dunia. Klop. Yang kaya, tahunya memuliakan kiai dengan uang, kiainya juga senang. Musibah. Terutama di Jawa Timur.
Saya keluar dari kantor PWNU Jawa Timur, langsung dikasih voucher umroh. Saya jawab, tidak, saya kiai Jawa Tengah.
Makanya saat saya diundang di Tebu Ireng, Pondok Syaikhona Kholil, Termas … Saya mau asal, disediakan naskahnya Mbah Hasyim Asy’ari, Mbah Kholil, Syaikh Mahfudz Termas.
Ya, saya ngajinya kitab para pendiri pesantren itu. Bukan ngaji Gus Baha tapi ngaji Mbah Hasyim Asy’ari, dll.
Ini kan musibah. Selama ini dzurriyah, para cucu tidak peduli dengan naskah pendiri. Padahal ada ahli filologi, pengumpul naskah. Naskah masyayikh kita ada di luar negeri, cucunya ga punya.
Saya punya naskahnya Syaikh Mahfudz yang tidak ada di Termas. Saya dikasih Mbah Moen. Akhirnya, para cucu ngaji ke sini.
Coba, Sirojut Tholibin di cetak di mana-mana, termasuk Yaman. Namun, kita tahu nasibnya di Jampes.
Kiai-kiai NU itu sudah alim. Ngerti hukum secara tafsil, kok malah hobi bicara yang mujmal. Ini kan sudah mau pinter, di suruh goblok lagi.
Anda itu ngaji, sampai buka kamus, meneliti tiap kata, harusnya ngajarnya seperti itu. Agar tetap alim.
Ada kiai yang sehari manggung 3 kali. Padahal, pasti dia tidak paham problem dakwah di setiap tempat itu. Dia tidak tahu objeknya, tidak tahu obatnya. Pasti bicaranya standar, itu-itu saja, yang penting lucu dan menarik. Mana ada waktu untuk belajar lebih dalam?
Akhirnya ada orang ceramah ditambahi musik macam-macam. Karena dia tidak alim. Tidak terkontrol, yang penting menarik.
Akhirnya ya goblok beneran. Pondok NU juga ikut-ikutan tren. Bikin acara, ya pengajian umum. Yang datang banyak.
Masak, pondok NU mengundang Ustad/Kiai yg tidak jelas. Karena ikut tren tadi. Tidak tahu, keduanya itu kategorinya apa, detailnya mereka. Musibah lagi, warga NU membaca tulisan Gus Ulil, Nusron bahkan Abu Janda tapi tidak tahu naskahnya Mbah Hasyim Asy’ari.
Saya hanya ingin, tradisi ilmiah di NU itu kembali. Kiai tidak boleh diatur orang kaya. Jika tidak, NU bisa habis (orang alimnya). Saya di NU ditugasi ini, bukan yang lain. Maka, saat saya di Lirboyo, saya bilang ‘Gus Kafa, saya lebih senang disambut 4 santri yang benar-benar niat ngaji, daripada banyak santri yang niatnya tidak jelas’. Kemudian, setiap kali saya ke Lirboyo, anak, mantu, cucu dikumpulkan dulu ngaji sama saya.
Jika, kita 5 tahun saja memulai. NU akan hebat. Jika bukan anak kita yang jadi alim, cucu kita akan jadi ulama. Itulah NU. NU itu harusnya melahirkan kiai – allamah, bukan kiai-mubaligh seperti sekarang. Dan saya melihat sudah lampu merah. Padahal di zaman kakek saya, bahasa Arab itu seperti bahasa Jawa. Saya punya tulisannya Mbah Hasyim Asy’ari yang surat-suratan dengan kakek saya dengan bahasa Arab.
Keilmuan, kealiman ini jangan habis. Dulu para pendiri, kakek kita, allamah, punya naskah. Jika kita terus begini, bisa habis.
Copas FB Samsul Arifin
@abaiquny @opposite6892 Yap emang hak nasabah, tp klo ga cair krn sebab tdk sesuai perjanjian kedua pihak masak ya hrus tetap dibayar? Gak adil bagi nasabah yg lainnya.
@sempasento @opposite6892 Tapi buktinya jg ga ditutup, perusahaan asuransi tuh legal, tentang perjanjian. Pasti ada sebab kenapa tdk cair. Klo ruwet ta pasti bakal di tutup. Kya bumiputera dan Jiwasraya , sbg netizen hrs pinter jg baca data, jgn asal termakan berita negatif.