@dosenkesmas Macet, Kerjaan Ladusing/isipol mengecewakan, masak nggak dibuat one way dua arah, sementara jalur samping kosong.., Padahal dari kemarin udah dibuka one way arah Jakarta..@TMCPoldaMetro@ListyoSigitP
@dosenkesmas Macet, Kerjaan Ladusing/isipol mengecewakan, masak nggak dibuat one way dua arah, sementara jalur samping kosong.., Padahal dari kemarin udah dibuka one way arah Jakarta
INDONESIA (MEMANG) RAWAN BENCANA
Dalam sidang di KPI, @KPU_ID tampil seperti penjaga museum artefak terkutuk.
Seolah - olah jika publik bisa melihat ijazah "gaib" Drs. Ir. Joko 'Whoosh Widodo, maka bisa membongkar seluruh mitologi tentang "Nabi Jokowi".
KPU bukan saja pasang badan, tapi spt pasang takhayul, bhw membuka tabir dokumen akademik itu adalah ritual pemanggilan setan yg bisa mengguncang stabilitas nasional.
___________
INDONESIA HARI INI | bukan saja rawan bencana ekologis, namun bangsa ini berada di tengah bencana akademik berskala nasional.
Sebuah gempa intelektual, yg episentrumnya justru berada di simpulยฒ kekuasaan.
___________________
โ @KPU_ID โข @kpu_dkj โข @kpusurakarta@Kemdiktisaintek โข @Kemdikdasmen โข @UGMYogyakarta โ
___________________
Pada titik koordinat ini, "bencana akademik" bukan metafora, melainkan fenomena geologi intelektual, yg terjadi ketika kampus dibajak bandit pencitraan, manajer reputasi & para bangsawan akademik.
Kebenaran akademik mengalami likuefaksi moral.
Tanah etika yg gembur & subur, amblas ditindas beban kepentingan bedebah politik asal Solo.
Pada akhirnya, negara ini menghadapi dua ancaman ;
1. Bencana ekologis, akibat rakusnya kuasa atas hutan dan sumber daya alam.
2. Bencana akademik, akibat kerakusan kuasa atas legitimasi.
Yang pertama menumbangkan pohon dan merusak hutan.
Yang kedua menumbangkan nalar & menghancurkan ingatan kolektif ttg apa yg disebut kebenaran.
Indonesia tak kekurangan orang yg berijazah asli, tapi kekurangan keberanian utk menyatakan bhw kebenaran adalah hal yg tak perlu menghaburkan milyaran rupiah utk menyewa bodyguard ijazah.
Karena ;
KEBENARAN TAK PERLU PEMBELAAN SEMEWAH KEBOHONGAN.
________________
Bahkan, LISA pun dibungkam oleh para bangsawan akademik UGM, ia dilarang mengatakan kebenaran.
Tampaknya LISA hanya boleh berkata benar tanpa benar - benar mengatakan kebenaran.
.
.
Bareng mbak Risma, kita belanja sembako di Pasar Dolok Sanggul, Humbang Hasundutan, Sumut untuk disalurkan ke saudara-saudara kita yang terdampak bencana di Sumatera.
Semoga, bantuan ini bisa meringankan beban mereka. Mari kita doakan agar Sumatera kembali bangkit seperti semula.
Terimakasih untuk warga Sumut yang membantu gotong royong..Lemah teles, gusti Allah sing bales...
Terima kasih atas tulisannya Bapak ๐๐๐Semoga semangat itu akan terus ada saat ini. Gotong royong bekerja membantu saudara saudara kita. Semoga Tuhan memberikan kekuatan kepada saudara2 kita yg terkena bencana. Juga membukakan hati kita semua untuk membantu mereka bangkit kembali.๐๐๐๐
Saya harus akui, jantung saya berdetak kencang, ingatan saya kembali menyergap tajam saat melihat berita bencana di Sumatera pekan ini.
Dulu, hampir dua dekade lalu, saya ada di sana. Bukan sebagai pengacara, melainkan penerbang sipil yang dipanggil negara, berdesakan di lambung pesawat tua. Ya, pesawat TNI AU uzur.
Kami terbang gila-gilaan, hampir tidak kenal pagi, siang, atau malam. Seringkali, kami sudah harus take off dari Halim sebelum subuh. Tujuannya: Banda Aceh.
Kami bawa Hercules C-130 yang sudah sepuh itu. Pesawat itu, Bapak-Ibu sekalian, adalah potret jujur bangsa ini: tua, berisik, kurang terawat, tapi untungnya sangat andal dan pekerja keras.
Di dalam perutnya yang gelap, kami duduk di jaring samping. Telinga berdengung raungan Allison T56.
Jika Anda mau tau, bau di dalam kabin itu adalah campuran unik: solar, minyak mesin yang bocor halus, keringat relawan yang tidak mandi tiga hari, dan aroma timpahan mi instan basi.
Intensitasnya? Luar biasa. Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) mendadak menjadi terminal paling sibuk di dunia. Ada Hercules TNI, ada C-17 Amerika, ada Ilyushin dari Rusia, semua berebut slot. Air Traffic Controller (ATC) kita seperti pesulap. Semua ingin cepat, semua jadi pahlawan tanpa berharap bintang.
Ironinya adalah pada sistem logistik kita.
Di satu sisi, kita punya Hercules TNI yang bertempur mati-matian, mengangkut puluhan ton barang. Di sisi lain, muncul pahlawan yang datang dari sektor yang paling tidak kita duga: Maskapai Sipil.
Ya, maskapai-maskapai besar seperti Lion Air dan Batavia Air ikut menyumbangkan free lift dari Jakarta. Mereka menggunakan pesawat komersial, kursi dilepas, diisi karung beras. Mereka bergerak karena kemanusiaan, mendahului banyak surat izin dan nota dinas yang mungkin masih diketik di kantor-kantor pusat.
Dan pahlawan sejati di udara adalah Susi Air. @susipudjiastuti Saat pesawat-pesawat besar TNI dan asing fokus ke Banda Aceh, Meulaboh dan Simeulue masih jadi titik buta. Landasan hancur, Susi dengan dua pesawat kecil Cessna Caravan-nya mengangkut obat-obatan dan susu bayi. Susi dan crew pilot asingnya terbang nekat, masuk ke landasan perintis. Mereka adalah antitesis dari birokrasi yang kaku. Contoh nyata bagaimana rule of law itu sejenak harus tunduk pada rule of need. Kebutuhan lebih dulu, baru administrasi.
Saya ingat, interaksi kami dengan crew Susi itu terasa sangat kontras. Di dekat Hercules yang penuh serdadu, mereka berdiri di samping Caravan kecil, mengenakan kaos, mengangkut sendiri kardus-kardus tanpa forklift mewah. Salah satu pilot asingnya pernah menyindir, "Saya pikir tugas saya hanya lobster, ternyata saya juga delivery harapan kemanusiaan." Tawa kami pecah. Tawa terdengar pahit tapi kejujurannya nyata hanya berharap pahala.
Saat ini, kita kembali menghadapi bencana di Sumatera. Apa yang berubah? Infrastruktur mungkin lebih baik. Teknologi komunikasi pasti lebih canggih. Namun, saya khawatir, jiwa gotong royong yang non-bureaucratic itu justru semakin menipis. yang jelas saya tidak dipanggil lagi menerbangkan pesawat, mungkin pilotnya sudah banyak. Mungkin juga karena memang tak ada landasan yang bisa didaratin fix wing. Mungkin juga kita makin terbiasa menunggu instruksi pusat, menunggu dana cair, menunggu SOP selesai dicetak.
Padahal, semangat yang dibutuhkan saat bencana adalah semangat Susi Air: bergerak cepat, tidak bertanya izin, dan langsung menuju titik yang paling terluka. Semangat yang harusnya diwarisi oleh setiap aparatur sipil dan militer.
Sudah saatnya kita belajar dari Hercules tua dan Cessna kecil.
Aset terbaik bangsa ini bukanlah pesawat baru atau regulasi yang tebal, melainkan keberanian mengambil risiko dan keikhlasan untuk bergerak tanpa menunggu tepuk tangan.
Jika tidak, setiap bencana hanya akan jadi pengulangan tragedi birokrasi yang mematikan.
#ethadisaputra #majalahforumkeadilan #tsunamiaceh #operasikemanusiaan #hercules #susiair #dahlaniskan #hukumdanlogistik #militersipil #bencanaindonesia