@mihyael10 "Warnanya monoton," timpalnya tanpa pikir panjang. Mungkin Ziel tampak tak terlalu peduli, tapi (wujud) gadis kecil itu duduk bersila di lantai tak jauh dari Ryohei, mengamati pemuda itu.
"Aku warna-warni, bagus. Seperti aurora," ia mendelik sambil menyeringai. "Seleramu jelek."
Dengan langkah riang, ia kembali kemana Ryocchi-nya berada.
"Nih!" ia menyodorkan satu cone di tangan. "Vanilla dan cokelat, warnanya sesuai hidupmu. Kurang berwarna," celetuknya spontan, sambil menjilat es krim bubblegumnya yang berwarna biru cerah.
@mihyael10
Ia tak sabar, tapi harus menunggu lama sekali. Memang ternyata segala sesuatu di dunia ini butuh perjuangan. Lihatlah lagak bijaknya dari mengantre es krim.
Dua cone es krim berada di masing-masing tangannya, senyuman lebar tersungging di wajah.
@mihyael10 Diterimanya lembaran uang itu untuk dengan girang. "Ryocchi yang terbaik! Akan kubelikan rasa yang tertinggal!" sebelum pemuda itu bisa bereaksi, Ziel memacu kakinya cepat. Kabur.
@mihyael10 "Hehehe.." ia malah nyengir sambil cengengesan. Kan, memang disitu letak masalahnya. Bisa saja mengambil diam-diam, tapi kan itu tidak baik. Meski agak bandel dia tetap malaikat.
@mihyael10 Andai saja ia punya uang sendiri, dia kan tidak perlu minta. Bagaimana kalau mereka jatuh miskin karena ia kebanyakan jajan? Apa mungkin langit akan menghukumnya?
Godaan makanan memang mengerikan. Apa ada yang masuk neraka karena ini?
@selcothy "Semua ada hukumnya, kalau kata orang yang kukenal, apa yang kau tanam, itulah yang kau tuai.."
Manik kebiruannya memperhatikan sosok di hadapan. "Wah, kau orang yang hebat!" pujinya, tulus. Serius. "Kau ingin kematian yang seperti apa, memangnya?"
@selcothy Menarik, Ziel suka pembicaraan seperti ini. Mengenal berbagai pemikiran dari kepala yang berbeda bisa menambah wawasannya.
Akan ada yang mengadili, ya. Ziel mengangguk, "Ya, Tuhan.. Semesta.. Kehidupan.. Apapun yang kau percayai," sengaja ia tak membuka fakta yang ia yakini.
@selcothy "Kau percaya surga dan neraka?" Ziel berani bersumpah, ia tidak membaca pikiran siapapun. "Jika hanya kembali, agak tidak adil bagi orang yang berbuat kebaikan maupun keburukan, kan?" tanyanya dengan sebuah cengiran lebar. "Kau orang yang seperti apa, Tuan?"
@selcothy Kehidupan dan kematian sudah menjadi tontonannya sehari-hari. Ziel merasa sangat dekat dengan hal itu, dan manusia tidak akan mengerti. Tapi tidak, dia tidak akan mengungkap hal apapun tentang dirinya yang mungkin di luar nalar manusia, bersikap wajar sudah keharusan.