@wah_am@ainunnajib Mau menulis kritik sekomprehensif-komprehensif nya tetap aja pak, akar rumput sudah guyub rukun dan nggak terlalu paham bahasa yang sangat intektual dari bapak. Di daerah saya, ketika orang NU ada hajatan pasti orang MU merasakan nasi berkatan. Itu saja sudah cukup
@wilsonsun@0xAlansari Secara implisit anda mau merendahkan? Dan menganggap China punya slogan seperti itu jauh lebih baik. Dunia ini hanya sementara, akhirat yang lebih kekal. Saya ulangi akhirat lebih kekal. Kejar duniawi saja tanpa itu membuatmu terlena
gambar dibawah ini transformasi industri dirgantara china di tahun 1960an hingga sekarang.
dari gudang kayu dengan spanduk tulis tangan, hingga sekarang
slogan yg tertulis di kedua gambar tetap sama:
一定要赶上和超过世界先进水平!
"Kita harus mengejar dan melampaui tingkat kemajuan dunia!"
@sitsnoe Halah kak, ngomong ndakik ndakik berteman dengan orang yang personality dan moral compass nya 11:12 atau apalah, selama disana masih ada saling menguntungkan terus ada saat tidak konsisten itu artinya apa? Tidak tulus. Berarti tidak tulus tandanya apa harus di cut off
@auraaaw Seandainya tidak ada anjuran dari ajaran agama untuk memperbanyak keturunan, laki-laki bisa kok berdiri sendiri tanpa butuh dukungan emosional sedikitpun dari perempuan.
@SAIBdelvi Kenapa ya kebanyakan perempuan itu dimana butuh banget divalidasi padahal mereka harusnya tahu apa yang mereka lakukan. Tapi lagi dan lagi penyakitnya bimbang dan overthinking. Simple lho, tapi kebanyakan perempuan butuh banget divalidasi
Suka engga suka shalat berjamaah itu secara engga langsung melatih diri bahwa “lu itu bukan pusat dunia”
Shaf lurus, status sosial hilang, semua gerak seragam, bahkan termasuk sunnah menjenguk tetangga yang biasa bejamaah tapi saban hari absen ikut
Alias anti-ego-individualism