Pernah punya atasan tukang forward message. Kerjaannya LITERALLY cuma forward pesan dari grup dinas ke grup kantor. Diajak diskusi nggak nyambung, kasih instruksi nggak jelas. Pesan dia cuma "kerjakan ya". 😭
Suatu hari, ada perintah A dari dinas. Kami sbg bawahan udah kasih masukan bahwa perintah A itu nggak bisa dilakukan karena alasan abcde. Tapi dia nggak mau tahu, nggak kasih alternatif, nggak bisa diajak mikir, pokoknya pesan dari dinas diforward di grup kantor. Terpaksa harus bawahan yang approach langsung ke kepala dinas, karena kalo nunggu atasan ini, masalah justru makin ruwet.
Untungnya sekarang atasan kami udah ganti 😭🙏
Buat Gen-Z yang atasannya micro-manage aku punya tips ofis politik yang etis:
> Balas atasanmu dengan micro update. Semua task kecil update ke atasanmu itu, selalu minta review, feedback evaluasi detail dalam bentuk pertanyaan tertulis, email.
> Kalau perlu sebelum mulai selalu alignment. Kasih ide kamu + tanya atasanmu mau gimana. Tanya yang detail sekecil mungkin. Setelahnya, setiap detail kecil yang udah dikerjain, mintain evaluasi dan feedback.
> Kuat-kuatan mental aja siapa yang paling mampu micro. Most of the time itu atasanmu yang nyerah duluan + atasan micromanage biasanya gak begitu bisa kerja.
> Kalau atasan ga nyerah juga? Saat performance review sampaikan aja atasan micromanage tapi tiap kali kamu minta feedback, dia ga jawab. Jangan lupa lampirkan bukti email. Next stepnya minta untuk tidak micromanage lagi.
> 100% works ya. Tapi tips ini tidak berlaku untuk perusahaan keluarga, BUMC, BUMN, BUMD, dan usaha tidak terstruktur.
Silakan dicoba. :)
Ga pernah sih liat design karya manusia ada yang bilang "memuakkan". Ternyata cuma robot bisa bikin design memuakkan 😂 Thread menarik mengenai memuakkannya gambar AI sudah saya attach di reply yaa!
Guys.. no.. ☹️
Sebagai org yg pernah sampe bolak balik psikolog & psikiater minum obat gara2 seorang avoidant.. I now feel pity for them..
Mereka tuh sebenernya juga butuh dan mau mencintai.. but it scares them so much (bisa krn banyak faktor) and most of the time they already hates themselves.. it’s actually pretty sad..
Instead of blaming them (the avoidants) aku skrg lebih berusaha memahami kalo mereka cm berusaha melindungi diri mereka sendiri due to their traumas..
The best way to face avoidants is.. just let them be. Gaperlu coba untuk “memperbaiki” mereka dgn cara kasih cinta yg lebih banyak, it only scares them. Instead, set your own boundaries, self respect and expectations. Pahami bahwa bukan salah dan tanggung jawab kita bahwa mereka blm mampu buat meregulasi emosi dan komunikasi mereka scr baik. And find peace with the situation.
I hope both avoidants and their “victims” are healed and can develop secure attachment. May we find love that is gentle and soft. Sending hugs for everyone 🫂