Stop dulu bentar 🤚
Kalau tuduhan harus dibuktikan oleh yang dituduh, bisa sembarangan tuduhan disebar dan sang penuduh ongkang-ongkang kaki 🤔
Seperti disampaikan Pak Jokowi: yang menuduh seharusnya yang membuktikan. Bukan dibalik.😏👀
Setuju kan kalau kita harus #BijakBersikap di tengah banjir informasi saat ini? Semua pihak harus belajar menahan diri dan jangan menambah kegaduhan🙏
Prabowo: "Dalam sejarah kita telah terjadi beberapa pergantian. Bung Karno, turun dengan damai. Pak Harto, turun dengan damai. Gus Dur turun dengan damai. Melalui proses. Tidak melalui kekerasan."
Dibayar oleh rakyat untuk mempertanggung jawabkan segala keputusan yang melibatkan anggaran dan keuangan. Ketika ditanya, hanya menjawab : "Pokoknya ada."
Capek banget, astaga.
Pernyataan Menteri ESDM @bahlillahadalia soal mematikan kompor saat masakan sudah matang mungkin terdengar sederhana. Bahkan bagi sebagian netizen, dianggap “nyeleneh” dan jadi bahan bullyan. Padahal kalau kita tarik sedikit ke konteks yg lebih luas, justru di situlah letak masalahnya: kita sering meremehkan hal kecil yg berdampak besar.
Faktanya, konsumsi LPG di Indonesia terus meningkat setiap tahun. Sebagian besar digunakan oleh rumah tangga, dan mayoritas masih disubsidi negara. Artinya, setiap pemborosan kecil di dapur sebenarnya ikut membebani anggaran negara yg seharusnya bisa dialokasikan ke sektor lain seperti pendidikan, kesehatan, atau bantuan sosial.
Di sisi global, dunia sedang menghadapi tekanan energi akibat konflik geopolitik, termasuk di kawasan Timur Tengah. Ketika suplai energi terganggu, harga bisa melonjak dan negara-negara harus melakukan penyesuaian. Dalam kondisi seperti ini, efisiensi bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan.
Jadi ketika pemerintah mengajak masyarakat untuk hemat energi, bahkan lewat cara yg sangat sederhana seperti mematikan kompor setelah masakan matang, itu bukan sekadar himbauan receh. Itu bagian dari strategi menjaga ketahanan energi nasional.
Sayangnya, di media sosial, narasi sering dibalik. Yang sederhana dianggap konyol, yg logis dianggap bahan ejekan. Padahal negara-negara maju justru menekankan efisiensi energi dari level paling kecil: rumah tangga.
Kalau mau jujur, ini bukan soal siapa yg bicara. Ini soal apakah kita mau jadi bagian dari solusi atau justru ikut memperbesar masalah.
Kadang, langkah besar memang dimulai dari kebiasaan kecil. Dan dalam konteks krisis energi global, mematikan kompor tepat waktu bukan hal sepele—itu bentuk kesadaran.
Yes bener, jaringannya lebih kecil.
Setelah 6 tahun membangun jaringan sensor kualitas udara Nafas, kami harus mengambil keputusan yang sangat berat.
Kami harus mengecilkan jaringan kami.
Bukan karena datanya tidak penting. Tapi karena pendanaan untuk jaringan ini tidak cukup. Kami sudah berusaha keras. Cari funding, cari sponsor, cari cara supaya jaringan ini bisa terus jalan. Tapi kenyataannya, membangun infrastruktur publik seperti ini butuh dukungan yang jauh lebih besar dari yang bisa kami tanggung sendiri.
Karena itu, kami mengubah jaringan sensor Nafas menjadi sebuah Yayasan - @yayasannafas . Artinya jaringan ini sekarang milik publik. Dan kalian bisa ikut menjaganya.
Ada 3 cara kalian bisa bantu:
1. Donasi langsung lewat Kitabisa (link di tweet berikutnya)
2. Sponsori satu sensor. Bisa patungan bareng komunitas kalian.
3. Ajak perusahaan kalian untuk sponsori kampanye kualitas udara.
Kalau kalian tertarik sponsori sensor atau kampanye, DM saya langsung - bisa disetup untuk sensor2 tertentu.
Kami sudah kasih yang terbaik selama 6 tahun ini. Sekarang kami butuh bantuan keluarga digital kami.
Kalau kalian nggak bisa donasi, bantu share ke orang yang mungkin bisa.
Itu sudah sangat berarti. 🙏
Menurut saya, pernyataan "Kita bukan anak kecil" adalah statement paling bodoh yang keluar dari setiap manusia yang punya mulut.
Apalagi seorang pejabat.
Apalagi seorang pemimpin.
Apalagi seorang...presiden...