another rekomendasi bacaan di substack lately yang aku suka! especially the second one from Kehinde about: Do it or Do not, You Will Regret Both.
ada kalimat yang paling aku suka and it took myself a minute. .
“Whatever risk you want to take or whatever goal you have set in mind, do it. Fake the confidence and the bravery if you have to, and live life. I know it is scary.
You may be disappointed. You may be rejected.
But you must remember that whatever the choice may be, we’ll only ever know the outcome of the one we take. And none will ever resolve the uncertainty of life.”
bacaan kalian akhir-akhir ini apaa? sharing yuu 🥺
Kita justru menghancurkan hubungan yang sebenarnya kita takut kehilangan.
Relationship sabotage tuh ga melulu soal sengaja nyari ribut. Kadang bentuknya malah milih ngejauh (avoidant parah), gampang nyerah, atau stop effort saking takutnya ujung-ujungnya bakal disakitin juga.
Ternyata ada 3 pola utama kita nyabotase hubungan. Defensiveness, trust difficulty, sama lack of relationship skills. Intinya sih dikit-dikit ngerasa diserang terus bawaannya defensif, trust issue mendarah daging (dikit-dikit overthinking atau cemburu buta), dan literally clueless gimana caranya ngadepin konflik dengan sehat.
Kadang apa yang kita kira sebagai coping mechanism buat ngelindungin diri, eh jatohnya malah jadi bom waktu yang ngancurin hubungan pelan-pelan. Risetnya juga nge-spill kalo pola-pola ini relate abis sama insecure attachment yang bikin vibes hubungannya makin drop.
Terus how to stop this cycle? Bukan berarti kamu harus maksa jadi pasangan green flag tanpa celah ya. Tapi lebih ke naikin self-awareness buat ngenalin red flag di diri kita sendiri.
Belajar buat gak langsung tantrum atau defensif pas dikritik, berani ngasih trust tanpa jadi controlling freak, dan biasain komunikasi sampe clear bukan malah ngasih silent treatment. Pelan-pelan mulai upgrade relationship skills dan healing insecure attachment kita. Biar kita gak kejebak muter-muter di toxic cycle yang itu-itu aja.
Kehilangan spark itu nggak selalu gara-gara pasangan. Kadang kerjaan, rutinitas, lingkungan, masalah keluarga, atau terlalu lama jadi “orang yang harus kuat” juga bisa bikin kita pelan-pelan mati rasa.
Sampai suatu hari bukan sedih, bukan juga bahagia. Cuma… yaudah kayak Nggak excited sama apa-apa. Mungkin yang kita butuhkan bukan orang baru buat bikin hidup berwarna lagi, tapi waktu buat ketemu diri sendiri yang dulu pernah seseru itu.
Teruslah makan makanan yang enak, teruslah memberi dirimu hadiah kecil, teruslah pergi ketempat yang kamu mau, teruslah bahagia. Terusiah bertahan hidup.
fear of communication is trauma based.
you either feel like your voice doesn’t matter, you think expressing how you feel is going to bring negative consequences, or you’re used to being silenced or invalidated
Functional depression is real. You work, joke around, you show kindness, take care of people around you. But mentally you're drowning in your own thoughts but still smiling and nobody knows it