Salah satu culture shock mengASIhi di Korea adalah betapa ga lazimnya ASI eksklusif disini. Pas lahiran udah ditanya sama obgynnya mau diresepin obat untuk stop ASI atau ga? Dan berdasarkan pengalaman pribadi keluarga & temen2 Korea, mereka banyak yang minum obat stop ASI ini, karena memang lumrah, mereka ga mau kena engorgement karena ASI mulai penuh, dan juga karena dari awal udah memutuskan sufor. Bahkan RS juga udah menyediakan sufor + botolnya untuk setiap jam makan si bayi selama di RS.
Setelah pulang dari RS, biasanya ibu & bayi lanjut ke post partum center (joriwon) selama 3 hari - 2 minggu. Disana diajarin dbf dan pumping (tapi katanya cuma sekali aja pas awal masuk), pompa ASI disediakan, tapi tetep mayoritas pilih formula. Aku sendiri ga ke joriwon, karena aku ada anak pertama yang nungguin di rumah, terus karena makanan harus halal, bakalan banyak pantang makan, jadinya aku merasa rugi aja kalau bayar mahal untuk joriwon ini. Dan joriwon ini itungannya mahal ya.
Aku penasaran dong, kenapa negara maju ini ga biasa untuk mengASIhi.
Berdasarkan Journal of Korean Medical Science (Hong et al, 2023): https://t.co/pwK7S38Uzy…. Ternyata persentasinya untuk ASI (tidak eksklusif) selama 6 bulan turun setengahnya dari 65.9% pada tahun 2010-2012, jadi 33.6% pada tahun 2019-2020. Dan untuk ASI eksklusif malah lebih parah, dari 42.8% ke 13.1%.
Alesannya kenapa?? Menurut studi ini, karena pemberian sufor terlalu dini, ibu yang kembali bekerja, terbatasnya konselor laktasi, kurang pengalaman menyusui (terutama untuk anak pertama), kesulitan karena kondisi bayi, karena ibu perokok dan konsumsi alkohol.
Bedasarkan pengalaman aku sendiri, aku cari RS terbaik di Korea yang juga support rooming in dengan bayi dan inisiasi menyusui dini. Karena ternyata (culture shock lagi), cuma kurang dari 10 RS di Korea yang memberikan fasilitas ini, sisanya terpisah sama bayi dan cuma bisa ketemu sebentar sesuai jadwal besuk bayi. Dengan adanya aturan ini aja, udah ga mungkin untuk ibu-bayi bisa direct breastfeeding per 2 jam setelah lahir.
Walaupun di RS top dan support ASI, disini ga ada konselor laktasinya. Konselor laktasi ada sih di Korea tapi jarang sekali, biasanya pricey juga. Untuk aku yang selalu ada masalah perlekatan, jadinya harus pumping juga, tanpa support system selain suami, dan ngurus newborn + anak 1, ini sulit banget ngatur waktunya, bukan cape lagi, kekuras jiwa raga. Alhamdulillahnya suami full urus bareng anak-anak dan rumah. Tapi ya tetep kejar-kejaran untuk naikin supply ASInya.
Untuk alat pompa asi, di Korea walaupun negara company-nya Spectra, entah kenapa sparepartnya lebih mudah di Indonesia. Disini sewa itu juga ga biasa, ada tapi yang nyewain Spectra officialnya langsung dan mahal, itung-itung mending beli langsung. Ada juga sewa dari puskesmas, tapi itu tergantung areanya, ga semua ada, di areaku sayangnya ga ada. Jual beli pompa asi preloved di marketplace juga ga boleh karena termasuk barang medis.
Jadi beruntunglah mama2 yang di Indonesia dengan segala kemudahan dan suportifnya dalam mengASIhi, semoga aku kuat dan tetep semangat menjadi ibu minoritas yang memberikan ASI eksklusif 2 tahun disini. Doain ya 🙏
cc : irinaaulia
Orang-orang klo bikin polisi tidur bisa nggak sih yg normal-normal aja? Yang lewat jalan nggak cuma pajero sama fortuner aja btw. Ini nasib pengguna beat karbu sama vario juga tolong lah diperhatikan 🥲
Amalan buruk selama 2 bulan ini
- lupa ngecap berkas berttd
- salah tf dengan nominal fastastis (amit-amit, sekali aja ya Allah)
- jadi gaptek excel karena udah lama bgt ga pegang excel, yg saking gapteknya ampe malu gitu loh. Paham gak sih 😭
Cara Simpel Atasi Tanda Kortisol Tinggi:
1. Tidur cukup tiap malam (ini paling penting)
2. Kurangi gula & makanan manis pelan-pelan
3. Jalan kaki 30–45 menit sehari
4. Kelola stres 5–10 menit (napas dalam atau duduk tenang)
5. Makan protein + sayur, minum air cukup, kurangi garam malam hari
Hasil biasanya mulai keliatan dalam 2–4 minggu kalo konsisten.
Ini tips umum ya, kalau gejalanya parah mending cek ke dokter.
GIYSSS NEED HELPPP. Selain Harum Manis dan Seribu Rasa, ada saran tempat makan yang oke gak buat expats VIP cobain makanan indo?
Jangan yang ada di bawah ini ya:
- AMANAIA
- PLATARAN
- DAILAH
Izin bahas dari pendekatan psikologi. Tapi disini aku bukan mau membahas terkait Zara karena aku ga tahu dinamika keluarganya seperti apa. Tapi aku jadi kepikiran tentang bagaimana kedekatan emosional orang tua-anak dan pola attachment bisa memengaruhi relasi seseorang ketika dewasa.
Tinggal serumah dengan ortu ≠ otomatis dekat secara emosional.
Menurut teori attachment dari John Bowlby, anak bukan cuma butuh kehadiran fisik ortu, tapi juga kehadiran emosional: merasa didengar, aman, dipahami, diterima & direspons secara konsisten.
Masalahnya pola attachment ortu ini juga memengaruhi gimana mereka membangun kedekatan dengan anak. Ada ortu yg hadir secara materi, tapi kurang hadir secara emosional karena ada trauma, pola asuh yg dulu mereka terima, kesibukan, atau kemampuan regulasi emosi yg terbatas.
Nah, kurang hadirnya secara emosional ini ternyata bisa berdampak pada anak dimana tumbuh dengan perasaan misalnya:
"Aku harus memendam sendiri"
"Perasaanku merepotkan"
"Aku harus jadi kuat sendiri agar dicintai"
Pola ini yg ngebentuk attachment anak: Secure, anxious, avoidant, atau disorganized. Dimana ini sering terbawa sampai dewasa dalam relasi pertemanan maupun percintaan.
Pada akhirnya, relasi pertama anak adalah keluarga. Dari sana anak belajar tentang rasa aman, cinta, konflik, dan kedekatan. That's why kalau kebutuhan emosional yg ga terpenuhi di masa kecil itu bisa terbawa hingga dewasa dan memengaruhi cara seseorang menjalani hubungan dengan orang lain. Mulai dari cara mencintai, mempercayai orang lain, menghadapi konflik, mencari validasi, hingga merespon kedekatan saat dewasa.