Hari ke-25 meminta Menteri @kpp_pa, Menteri HAM @NataliusPigai2, & Menteri @Kemdikdasmen untuk mendukung "edukasi musikal cegah kekerasan terhadap perempuan & anak" di satu sekolah setiap minggu non-stop.
Uang rakyat harus kembali ke rakyat, kementerian bisa kurangi anggaran untuk acara-acara seremonial, dialihkan untuk pendidikan pencegahan kekerasan.
Hampir setiap hari ada berita kekerasan seksual, bullying, KBGO, KDRT, femisida, dll, bahkan statusnya sudah layak jadi darurat nasional. Maka tindakan pencegahannya juga harus luar biasa dengan cara-cara kreatif.
Kami akan post konten ini setiap hari sampai ada perhatian & follow up dari 3 kementerian ini, karena pencegahan kekerasan adalah kewajiban negara. Juga supaya publik bisa menilai bagaimana 3 kementerian ini merespon aspirasi komunitas seni & pendidikan, serta permasalahan yang urgensinya tinggi.
Kawan-kawan netizen juga bisa mendukung kami dengan donasi seikhlasnya atau sekedar bantu menyebarkan konten ini. Terima kasih banyak 🙏💜
Contoh edumusikal: https://t.co/ehuNLZkxEk
lah padahal mah bener dong, LEBIH BAIK punya anak itu ketika punya resources yang memadai untuk membesarkannya.
kalo gaji aja cuma ngepas buat ngehidupin diri sendiri ngapain punya anak? gak kasian sama anaknya cuma hidup sekadarnya?
ini orang-orang beranak tuh sebenernya mikir ga sih anak itu MANUSIA juga?
temen2 boleh help rt?
uang makanku sama nenek udah sekarat bangett
aku jual nasi serba 10rb barangkali kakak2 mau beli untuk dibagikan jumat berkah besok 🙏✨️
aku dom palembang ya 🙏
“Mungkin kami bukan warga Indonesia, makanya kami dibedakan,” kata Lestari, perempuan penyintas bencana di Hutanabolon, Tapanuli Tengah, Sumatra Utara.
Di bulan ketika Indonesia bersiap merayakan 81 tahun kemerdekaan, ribuan penyintas banjir dan longsor di Tapanuli Tengah masih berjuang mendapatkan tempat tinggal dan kehidupan yang layak.
Tujuh bulan setelah bencana November 2025 menghancurkan rumah, sawah, kebun, dan usaha, serta merenggut nyawa keluarga mereka.
Di atas kertas, bantuan pemerintah tersedia. Namun, di lapangan, warga justru tersesat dalam labirin pendataan, verifikasi, dan pencairan yang tak kunjung pasti.
Dalam liputan terbaru Tonggo Simangunsong menelusuri bagaimana korban banjir Tapanuli Tengah harus berjibaku bukan hanya melawan dampak bencana, tetapi juga labirin birokrasi untuk mendapatkan bantuan yang dijanjikan pemerintah.
Liputan selengkapnya dapat dibaca di https://t.co/jwQjXdq3od
#RezimGagapBencana #Sumatra #Banjir #Longsor #YaAkuBakalDibaca
Begitu nemunya orang yg mikirnya bener langsung ngerasa kesenggol wibawanya wkww, padahal kalo jago tinggal disanjung itu si mbaknya krn waras, sambil minta bantu callout yg emang anak KIP alih2 berisi "padahal tadinya blabalabla"
Yang ucapan kayak gini tuh masuknya misoginis ya guys, karena perempuan langsung dianggap “gak bener” karena dianggap gak sesuai dengan norma & standar perilaku yg dibebankan kepada perempuan hanya karena gendernya, seolah-olah pilihan mereka harus selalu diawasi & dinilai.
Mindset kayak gini juga bikin perempuan seolah harus terus membuktikan bahwa dirinya “baik” di mata orang lain, sementara laki-laki sering gak dibebani tuntutan yg sama.
Jangan sampai standar ganda kayak gini terus dianggap wajar.