Keponakan Luhut ini SPEKULAN Pasar Modal / Birsa dan dia yang memgusulkan membuat perusahaan CANGKANG yang bernama GOTO dengan menggunakan Dana TELKOM yang sejak masuk Bursa Selalu Berdarah-darah, hingga Sebagian Saham Tokopedia dibeli Tiktok sebesar 37 Triliun sempat membuat Saham GOTO Positif dan setelah itu Kembali HANCUR
Ini tipe Economic Hitman
Jika John Perkins dalam bukunya memotret EHM klasik sebagai agen asing yang menjebak negara berkembang dengan proyek infrastruktur fiktif bernilai miliaran dolar agar berutang ke IMF/World Bank, maka di era Industrial Revolution 4.0/5.0 ini, kita melihat evolusi varian baru: Domestic Economic Hitman.
Anatomi Operasi "Modern Economic Hitman" di Kasus Ini
1. Modus "Finansialisasi" Aset Publik (Kasus Telkom-GoTo)
Seorang EHM domestik bekerja dengan cara mengalihkan likuiditas atau aset riil milik negara (dalam hal ini cash/dana publik di BUMN seperti Telkom) ke dalam instrumen spekulatif yang nilainya diciptakan dari "angin" (valuasi bakar uang).
Dana Riil Ditukar Saham "Kertas": Triliunan rupiah dana Telkomsel yang seharusnya bisa digunakan untuk membangun infrastruktur digital nasional yang mandiri, justru disuntikkan ke entitas swasta (GoTo) sebelum IPO.
Privatize the Gains, Socialize the Losses: Ketika harga sahamnya hancur pasca-IPO, para pendiri dan spekulan awal sudah melakukan exit strategy atau mengamankan posisi mereka.
Sementara BUMN (dan rakyat sebagai pemilik negara) terpaksa menelan pil pahit berupa unrealized loss (kerugian yang belum direalisasikan) yang membebani neraca keuangan negara.
2. Modus "Exit Ramp" Menggunakan Korporasi Asing (TikTok-Tokopedia)
Masuknya TikTok dengan dana Rp24–37 triliun sering kali dinarasikan sebagai "kemenangan investasi".
Namun dalam kacamata EHM, ini adalah clean-up operation atau jalur penyelamatan (bailout) terselubung bagi para spekulan agar pasar tidak panik total.
Setelah ekosistem lokalnya dikuasai asing melalui transaksi tersebut, fundamental GoTo tetap tidak tertolong dan kembali hancur.
Efek jangka panjangnya? Pasar digital domestik (e-commerce) kini secara legal beralih ke tangan raksasa teknologi asing, sementara pemain lokal hanya menjadi penonton di atas infrastruktur yang dibiayai dari darah dana publik.
3. Institusionalisasi Lewat Megastruktur: "Danantara"
Indikator paling berbahaya dari seorang Economic Hitman adalah ketika mereka berhasil NAIK KELAS dari sekadar makelar saham menjadi regulator atau pengelola utama aset tertinggi negara.
Dengan posisi sebagai CIO di Danantara (Super Holding BUMN), pola pikir spekulatif ini dilegitimasi oleh undang-undang.
"Listen to the Market" adalah MANTRA EHM: Kalimat yang diucapkan di Bloomberg tersebut adalah sinyal tunduk kepada kartel finansial global.
Artinya, kebijakan ekonomi, komoditas, dan hajat hidup orang banyak di Indonesia akan selalu disesuaikan agar kompatibel dengan kepentingan pasar modal internasional, bukan untuk kemakmuran rakyat sesuai amanat Konstitusi.
Kesimpulannya:
Jika EHM masa lalu menghancurkan negara lewat jebakan utang luar negeri, EHM modern menghancurkannya lewat "Kedaulatan Algoritma Pasar".
Mereka menyusup ke jantung pengambil kebijakan, menguras likuiditas negara untuk proyek spekulatif berbaju "kemajuan teknologi", dan menyerahkan kendali komoditas strategis kembali ke pelukan pasar bebas global.
Melihat rekam jejak dari GoTo hingga Danantara, strategi yang dimainkan memang bukan untuk membangun kemandirian nasional, melainkan sebuah skenario besar finansialisasi yang rapi.
Memang benar, menyiapkan kopi hitam dan kipas adalah cara terbaik untuk melihat seberapa jauh struktur rapuh ini bisa bertahan sebelum hukum gravitasi ekonomi meruntuhkannya.
😎
Indonesia will “listen to the market” as it builds a body to oversee key commodity exports, according to Pandu Sjahrir, chief investment officer of sovereign wealth fund Danantara https://t.co/K2EcPySi4x
@kerjadarirumahq@angga_fzn Masalahnya mau berorganisasi dan jd oposisi jaman srkg beratnya bukan main, wkt dia jd gub aja di jauhin jokowi kaya apa. Yg gue msh mikir dia harus bikin partai baru atau gimana yaa, lobby2 logistiknya bakal seperti apa
@kerjadarirumahq@angga_fzn Lu ribet bang, kampanye yg gimana yg lu maksud? Bukan gak sampe kebawah, cuma di bawah terlalu bodoh buat mikir lebih dalem. Jgn kan dibawah, gue di kampus aja dosen2 udh pada ngasih isyarat milih amin kalo di kelas. Eh pas nongkorong tmn2 pada ngobrol ttp aja milih wowo
@txtdrhrdoet@AnKiiim_@aniesbaswedan Lu yg tolol bang, semua negara didunia ini ada oligarkinya. Cuma pemimpin yg bener yg bisa bikin untung mereka dr 70:30 sama negera jd 30:70 atau minimal 50:50
Ini nasihat bagus bgt:
Berhenti nyalahin diri sendiri atas keputusan yg kamu buat waktu dulu, pas masih kurang pengalaman.
Soalnya ada beberapa hal yg baru bisa dipahami setelah bener2 ngalamin.
Banggalah dgn apa yang udah kamu pelajari, bukan merasa malu kapan kamu belajar itu.
Melihat sesuatu dari sudut pandang yg berbeda sekarang sebenarnya hal yang bagus.
===
Apa pengalamanmu yg kadang bikin malu kalau dibahas?
"politik gak ngaruh di kehidupan gw"
KTP lu diurus negara, sekolah anak lu diatur negara, gaji lu dipotong negara.
BPJS naik, bensin naik, pajak naik. gorengan aja udah 2rb, lu pikir itu gara-gara abang gorengannya serakah?
dari lahir sampe mati hidup lu udah diatur sistem.
lu gak bisa beli rumah
lu gak bisa beli tanah
lu gak bisa beli mobil
lu tetep kerja duitnya gatau kemana
tapi katanya ga ngaruh.¿
Kilas balik...
Si wartawan mewawancara pendemo kecurangan pemilu dianggap orang yg awam,gak taunya cadas, ente boleh bilang gitu kalo sama pendemo sebelah mas yg dukung 58 persen
Note: jadi gosah bangga jadi lurah, kl begini jalannya.
Untuk ibu yg diwawancarai, aku sll bangga padamu ( she's my friend)
Temenku ini pinter, hari ini memang banyak dia ✨💸
Pesen kue di aku 15rb/pak.
Dia jual lagi 25rb/pak.
Kemahalan ga? Buat circle dia sih engga kayaknya. Buktinya order sampai 44 pak!
Aku, dari tiap pak untung sekitar 7 ribuan — keluar tenaga, waktu.
Dia, untung 10 ribu — modal WA & relasi hihi.
Terus aku dengki ga? Ya engga lah.
Selama dia pesen, aku juga dapet cuan. Dia juga ga minta diskon, ga nawar aneh-aneh, ga ngerugiin.
Ga kayak makelar MBG yang… yah taulah ya 😂
Dari sini kita belajar sesuatu:
Kadang masalahnya bukan di produk kita. Tapi di pasarnya.
Barang yang sama,
di circle yang berbeda,
nilainya bisa beda.
Jadi kalau dagangan belum laku,
belum tentu karena barangnya jelek.
Bisa jadi… kita cuma belum ketemu pembeli yang tepat. ✨
Kalian ingat ga?
jadi... dulu sblm era vega ega.
ada Rio Haryanto (33), yang ikut balap F1. Tapi bikin pecah belah netizen twitter.
Doi dapat sponsor dari pertamina ± Rp.75 M dr pertamina dan kemenpora, tanding di F1, 12 kali. dan Nol Poin.
1). Februari 2016, Rio resmi bergabung dengan Manor Racing sebagai pembalap Indonesia pertama di F1, didukung sponsor utama Pertamina (sekitar €5 juta atau Rp 75 miliar) plus dana tambahan dari Kemenpora dan swasta. Ini memungkinkan Rio bayar sebagian seat fee (total butuh ~€15 juta).
2). Maret–Juli 2016. Rio debut dan ikut 12 pertamdingan Grand Prix. Kritik muncul dari netizen serta utama soal ekonomi, dana BUMN (@pertamina) dianggap boros untuk olahraga elit, imbal hasil bagi Pertamina (branding/eksposur) tidak jelas dan tak sebanding biaya, apalagi di tengah isu ekonomi nasional.
3). Juli 2016, Dana sponsor macet. Rio (dan tim sponsor) hanya bayar separuh dari kesepakatan ke Manor. Manor gantikan Rio dengan Esteban Ocon mulai GP Belgia (Agustus 2016). Pertamina langsung cabut iklan/logo dari mobil Manor setelah demosi Rio.
4). Agustus–Desember 2016, Kritik netizen dan pengamat semakin keras. sponsorship dianggap pemborosan uang negara tanpa ROI transparan. Pertamina klaim tak rugi karena dapat eksposur global, tapi banyak yang ragu manfaatnya nyata bagi perusahaan atau Indonesia. ini kalau akun @txtdaritaxpayer udh ada. selesai tuh pertamina.
5). Desember 2016–Januari 2017. Pertamina resmi hentikan total dukungan untuk Rio di F1 2017 (karena telat deadline pembayaran dan prioritas bisnis lain).
6). Rio resmi kehilangan peluang kembali ke F1, sbg pembalap cadangan. Manor Juga akhirnya bangrut.
7). Begitulah, kala ambisi nasional bertabrakan dengan realitas pay-driver F1 dan kontroversi dana publik yang dianggap kurang akuntabel.
8). cek aja, menpora tahun 2016.
cc : @MercedesAMGIndo