Marriage isn’t about 50:50. It’s not about 100:0 either.
Yesterday I wasn’t feeling well. Husb bought us dinner from pasar malam and fed me medicine while I was in bed. He ironed the clothes for us and the kids, did the laundry and washed the dishes.
Today, he went to bed early. Just after Isyak, he dozed off. I could see how exhausted he was. So I took care of the rest of the house chores, ironing the clothes, doing the laundry and washing the dishes.
You see, yesterday, it was 30:70. And today, it’s 70:30. The ratio is never fixed. Sometimes it’s 55:45. Sometimes it’s 60:40. Depends on day. Sometimes it even got to 43.8:56.2
Marriage is about partnership. It’s about complementing and backing each other up. You can’t define it by an exact ratio. As long as both respect each other, understand partnership and responsibility, they’ll make it, insyaAllah.
Tiap liat film Indonesia, isinya Reza lagi, Reza lagi. Mang eaaaak?
Coba tonton sampe abis, supaya tahu judul film Indonesia yang ada (dan otw masuk) di Netflix yang nggak ada Reza Rahadiannya👇
@Adriandhy Untung sempet nonton pas libur lebaran sebelum balik ke Singapore, skrg anak2 masih suka nanya kapan bisa rewatch Jumbo , ayokk kapan tayang di SG :)
It's been 24 hours since OpenAI unexpectedly shook the AI image world with 4o image generation.
Here are the 14 most mindblowing examples so far (100% AI-generated):
1. Studio ghibli style memes
Hehehehe dari kemarin gatel mau komentar.
Pertama, ini orang harusnya kerja, minta diskresi supaya milyaran uang rakyat di-keep untuk dia ttp bisa S3, kemudian malah pergi pakai beasiswa lain ke kampus yang kuliahnya lumayan padat, selisih waktunya 11-12 jam sama Indonesia.
LDM sama suami di Harvard aja repot loh komunikasinya. Ini gimana kerjanya sbg stafsus?
Ditambah lagi, ini master yang ketiga. Rasanya gak urgent sama sekali pergi kuliah lagi.
Stafsus ini dibayar loh. Dan yang dibayar bukan cuma 1 orang tapi juga beserta timnya. Dan yang melekat pada jabatan bukan cuma gaji, tapi juga berbagai kewenangan dan akses. Sekalipun gajinya buat beasiswa, tapi kan atas nama dia? Ibaratnya dia pakai gaji dari rakyat untuk naikin brand equity diri sendiri. Maladministrasi pula.
Kedua, yang bikin kesal karena aturan mudah kali dibengkokkan untuk antek rezim.
Ketiga, emang mungkin gak ada aturan per se yang dilanggar (karena tinggal dibengkokin aja). Tapi kok gak ada etikanya sebagai pejabat publik? Saat di-scrutinize malah merongrong balik. Bapak ini pejabat publik. Kalau gak siap ditanyakan akuntabilitasnya ya mundur aja.
Keempat, yang membuat kita tambah marah adalah apa signifikansinya orang ini sebagai stafsus yang minta segitunya diistimewakan? Apakah dg adanya beliau pendekatan utk masalah di Papua jd tidak militeristik lagi? Apa masalah lingkungan di Papua jadi selesai karena orang ini? Mungkin kalau iya kita gak ramai-ramai bilang “All eyes on Papua” atas eksploitasi yang dilakukan. Mana bukti advokasi yang beliau lakukan. Jadi jangan kartu ini yang dipakai.
Begitu loh 🙏🏽
Tony Blair explains the 3 key decisions Lee Kuan Yew took that made Singapore rich.
“Each one of them now seems obvious. Each one at the time was deeply contested.”
Waktu saya jadi anak kecil, kata ‘berani’ itu jelas artinya.
Kesatria melawan naga. Jagoan masuk sarang penjahat. Prajurit maju menembak. Perkasa, tidak ragu, percaya diri.
Waktu saya makin dewasa, saya belajar arti kata ‘berani’ yang benar2 berbeda, dan saya rasa, jauh lebih tepat. Siap?
Berani, adalah takut yang (setengah mati) dihadapi.
Semakin seseorang ketakutan, semakin berani yang dia lakukan.
Menurut saya, ini indah banget.
Maju perang tanpa takut, mungkin bukan pemberani. Ya, mungkin, sudah biasa aja. Atau, mungkin dia sudah jago, sudah kuat. Atau kemungkinan konyolnya, dia nggak waras. Melengos masuk ladang ranjau tanpa akal yang sehat.
Seorang yg pemberani, tidak demikian.
Seorang yang lemah, seorang yang masih belum banyak tahu dan belum banyak pengalaman. Di kepalanya, banyak skenario buruk balapan.
Tetapi sambil menghadapi semua tadi, sambil tetap tidak yakin dan gemetar, namun dia tetap lakukan,
itu baru, keberanian.
Setelah mengerti arti ‘berani’ yang baru ini, saya tidak terpukau oleh mereka yang melangkah ringan ke panggung besar, tawa sumringah dan berkelakar renyah.
Tapi mereka yang naik perlahan dengan kertas contekan yang bergetar, matanya bergerak liar, tangannya mengelus dada berusaha menenangkan, lalu ketika bicara suaranya seperti tersedak buah rambutan,
mereka itu baru saya kagumi.
Mereka takut, tapi mereka hadapi. Itu baru berani.
Saya juga selalu mengingatkan diri.
Bahwa ketika semua keadaan baik dan bagus, lalu saya bisa berharap baik dan bagus ke depan, yah, nenek-nenek juga bisa.
Tapi ketika keadaan sulit, namun saya tetap bisa melihat surya akan terbit di cakrawala,
itu saya baru jadi, pemberani.
Makanya saya juga suka kata-kata: ‘mengumpulkan keberanian’.
Karena dia memang adanya bukan melimpah seperti samudra.
Dia jarang-jarang, berserakan, hanya sedikit-sedikit berceceran di padang gersang ketakutan.
Namun ketika seseorang memaksa dirinya untuk kumpulkan, satukan, dan dengan sedikit yang ada ini, dia mulai melangkah ke depan,
itu baru namanya, keberanian.
“Courage is not the absence of fear, but the triumph over it.”
-Nelson Mandela
--- Tulisan ini adalah salah satu tulisan yang sering saya terbitkan di Instagram dengan username yang sama
😣😠🤩
Ketertarikanku pada bahasa, menemukan bahwa Ayat Kursi (Q.S Al-Baqarah 255) memiliki struktur mirroring (simetris) dalam susunan kalimatnya. Ada 9 kalimat, 4 kalimat awal, 1 kalimat tengah (yang jadi cermin) 4 kalimat bawah yang isinya adalah reverse dari 4 kalimat atas.🤍
Gw bukan fans Taylor Swift tapi akhirnya gw ngerti kenapa doi keren banget: Her showmanship is at another level.
Dia gak kayak lagi perform, tapi lagi celebrating the moment bareng penonton.
Dia berhasil hipnotis segitu banyaknya orang untuk bikin dirinya lebih reachable.
Let's go hands-on with #GeminiAI.
Our newest AI model can reason across different types of inputs and outputs — like images and text. See Gemini's multimodal reasoning capabilities in action ↓