Rupiah dah disebut sebagai the worst performing currency in Asia right now. Even Bank Indonesia masuk campur pun still tak membantu. Bapak Presiden relax pergi Perancis dengan segala rombongan. Oh ya orang di desa ga pake dolar ya kan pak.
Guys, ada satu nama yang menurut gue paling banyak menimbulkan pertanyaan dari semua orang yang paham sistem militer Indonesia.
Bukan nama jenderal bintang empat.
Bukan nama menteri senior.
Bukan nama tokoh yang sudah puluhan tahun mengabdi.
Namanya Teddy Indra Wijaya.
Letkol. Baru 14 tahun dinas.
Dan dia mungkin pejabat paling berpengaruh di sekitar Presiden Prabowo saat ini.
Dan ini faktanya angka demi angka:
Teddy lulus Akademi Militer 2011.
Artinya pada tahun 2025
dia baru 14 tahun berdinas.
Di usia dinas 14 tahun itu
dia menerima Bintang Mahaputra Utama.
Sebuah penghargaan negara tertinggi.
Dan ini yang membuat seluruh komunitas militer tergeleng-geleng:
Untuk sampai ke Bintang Mahaputra seseorang normalnya harus melewati sekitar 15 tingkatan penghargaan secara berurutan:
Satya Lencana Kesetiaan 8 tahun belum punya. Satya Lencana 16 tahun belum punya.
Satya Lencana 24 tahun belum punya.
Satya Lencana 30 tahun belum punya.
Bintang Kartika Eka Paksi Nararia belum.
Pratama belum.
Utama belum.
Bintang Yuda Dharma Nararia belum.
Pratama belum.
Utama belum.
Bintang Dharma belum.
Bintang Mahaputra Nararia belum.
Pratama belum.
Dan Teddy langsung dapat Bintang Mahaputra Utama.
Melompati 15 tingkatan sekaligus.
Dalam 14 tahun dinas.
Dan bandingkan dengan yang lain:
Panglima TNI bintang empat
belum dapat Bintang Mahaputra.
Wakil Panglima TNI bintang empat belum dapat.
Tiga Kepala Staf Angkatan semuanya bintang empat belum dapat.
Mereka yang sudah berdinas 33-37 tahun.
Yang sudah memimpin pasukan di berbagai operasi.
Yang sudah menanggung tanggung jawab strategis negara selama puluhan tahun.
Belum dapat.
Teddy 14 tahun dinas, pangkat Letkol sudah dapat.
Dan bukan hanya dapat tapi dapat yang Utama.
Dan ini karir Teddy yang perlu diketahui:
Dari Akademi Militer langsung menjadi ajudan.
Dari ajudan ke ajudan.
Tidak pernah menjadi komandan kompi.
Tidak pernah bertugas di daerah operasi.
Tidak pernah ditugaskan ke Papua atau perbatasan. Kulitnya kata para senior TNI masih terlalu bersih untuk seorang perwira tempur.
Di era Wismoyo Aris Munandar sebagai Kasdam Udayana ada seorang komandan batalion yang kulitnya dinilai terlalu bersih.
Langsung dikirim ke Timor Timur dulu.
"Tunggu kulitmu gosong baru saya berangkatkan."
Teddy tidak pernah melewati proses itu.
Dan jabatannya sekarang:
Sekretaris Kabinet.
Dan ini yang aneh secara struktural Seskab yang seharusnya minimal setingkat eselon 1 atau setingkat menteri di era Prabowo menjadi eselon 2.
Dijabat oleh seorang Letkol.
Artinya secara struktural Teddy berada di bawah Sekretaris Negara dan Sekretaris Militer.
Tapi kenyataannya di lapangan Menko-menko yang bintang empat dan setingkat menteri senior tidak bisa bertemu presiden karena harus melalui filter yang ada di sekitar presiden.
Dan nama yang paling sering disebut sebagai filter itu adalah Teddy.
Dan ini yang paling mengkhawatirkan dari seluruh situasi ini:
Doktor Selamat Ginting profesor ilmu politik yang karya akademisnya seluruhnya tentang hubungan sipil-militer bilang dengan sangat tegas:
"Sebenarnya agak rawan kalau komunikasi presiden hanya melalui satu filter seorang Teddy Indra Wijaya.
Menko-menko, pejabat setingkat menteri sudah setahun lebih ada yang belum pernah bertemu presiden. Berarti ada masalah."
Dan dia menambahkan perbandingan yang paling mengerikan:
"Presiden Soeharto juga merasa tidak apa-apa. Sudah diingatkan oleh akademisi, oleh orang kritis soal krisis ekonomi.
Tapi Soeharto tetap berangkat ke Mesir.
Begitu pulang kondisinya sudah seperti itu.
Saya tidak mau Presiden Prabowo mengalami hal yang sama."
Dan soal Bintang Mahaputra yang diterima Teddy bersamaan dengan Mayor Jenderal Syamsudin:
Mayor Jenderal Syamsudin adalah purnawirawan yang sudah puluhan tahun mengabdi.
Lulusan Akademi Militer 1959. Pensiun 1992.
Pernah membebaskan sandera dari OPM hanya dengan ajudannya tanpa menembakkan satu peluru pun.
Menyerahkan pistolnya sendiri sebagai gestur perdamaian.
Keberanian yang seharusnya sudah mendapat Bintang Sakti dari dulu.
Dan baru diakui sekarang setelah puluhan tahun.
Tapi dalam upacara yang sama
Teddy yang baru 14 tahun dinas dan 3 tahun saat Syamsudin pensiun menerima penghargaan yang sama.
"Ini ketidakadilan yang sangat nyata."
Dan soal Gibran ini yang belum banyak disorot:
Seorang wakil presiden secara otomatis mendapat 17 bintang tanda jasa negara.
Gibran Rakabuming usia 37 tahun, baru sebentar jadi walikota, belum ada rekam jejak pengabdian panjang secara otomatis sudah punya 17 bintang.
Sementara jenderal bintang empat yang sudah 35 tahun mengabdi belum dapat satu pun.
Sistemnya memang sedang diobrak-abrik.
Dan ini pertanyaan yang paling fundamental:
Apa yang istimewa dari Teddy?
Apa prestasi luar biasa yang membuat dia layak melewati 15 tingkatan penghargaan dalam 14 tahun dinas?
Negara belum pernah menjelaskan.
Tidak ada buku biografi yang diverifikasi sejarawan.
Tidak ada karya ilmiah tentang dirinya.
Tidak ada rekam jejak operasi lapangan yang bisa diverifikasi publik.
Yang ada hanya satu hal:
kedekatan dengan presiden.
Dan kedekatan dengan presiden bukan prestasi pengabdian seharusnya tidak pernah menjadi dasar penghargaan tertinggi negara.
Bintang Mahaputra bukan sekadar lencana.
Itu adalah simbol pengakuan negara atas pengabdian luar biasa yang sudah teruji oleh waktu, oleh medan, oleh tanggung jawab yang nyata.
Ketika simbol itu diberikan kepada orang yang belum melewati satu pun dari 15 tahapan yang seharusnya bukan hanya Teddy yang dirugikan.
Yang dirugikan adalah semua orang yang sudah melewati semua tahapan itu dengan jujur.
Dan yang paling dirugikan adalah presiden itu sendiri. Karena setiap penghargaan yang kehilangan legitimasi moralnya akan menghantui pemberi penghargaan jauh lebih lama dari yang menerimanya.
"Jangan karena seorang Teddy semua kepangkatan, jabatan, pemberian bintang, tanda jasa diacak-acak semua."
Guys, lu pada tau gak ada kasus keracunan MBG yang baru terkonfirmasi dan ini bukan keracunan biasa yang bisa diselesaikan dengan minta maaf lalu lanjut?
162 siswa dari PAUD sampai SMP di Air Asuk Kepulauan Anambas tumbang serentak pada 15 April 2026.
Bukan karena sakit perut biasa.
Bukan karena makanannya basi.
Tapi karena di dalam makanan yang dikirim negara ke mulut anak-anak itu ditemukan boraks dengan kadar 100 hingga 5.000 miligram per liter ditambah dua bakteri berbahaya sekaligus E. coli dan Bacillus cereus.
Tiga kontaminan.
Satu menu.
Ratusan anak.
yang paling gila ada boraks
sekali lagi boraks
Mari kita bicara soal boraks dulu karena ini yang paling serius dan paling tidak bisa dimaafkan.
Boraks adalah bahan kimia industri.
Dia dipakai untuk membuat deterjen keramik dan pupuk.
Di Indonesia penggunaannya dalam makanan dilarang keras berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan sejak puluhan tahun lalu.
Bukan dilarang karena sedikit berbahaya dilarang karena konsumsi berulang menyebabkan kerusakan ginjal kerusakan hati gangguan sistem saraf dan pada anak-anak yang tubuhnya masih berkembang efeknya jauh lebih destruktif dari pada orang dewasa.
Kadar yang ditemukan di makanan MBG Anambas adalah 100 sampai 5.000 miligram per liter.
Untuk konteks ambang batas yang mulai menunjukkan gejala toksisitas pada manusia dewasa adalah sekitar 5.000 miligram total.
Anak-anak PAUD yang beratnya mungkin 15 kilogram jauh lebih rentan dari angka itu.
Dan yang membuat ini lebih mengkhawatirkan boraks tidak muncul secara alami di telur kecap tempe goreng atau tumis sawi wortel buncis.
Ketua Tim Investigasi BGN Arie Karimah Muhammad sendiri menegaskan bahan-bahan seperti telur tempe dan sayuran tidak membutuhkan pengawet kimia apapun.
Tidak ada alasan teknis yang sah untuk boraks ada di sana.
Artinya hanya ada satu kesimpulan yang bisa ditarik. Seseorang di dalam dapur SPPG Air Asuk secara sadar dan sengaja memasukkan boraks ke dalam makanan yang akan dimakan anak-anak.
Kemungkinan besar untuk membuat tekstur makanan lebih kenyal lebih menarik dan lebih tahan lama sambil menekan biaya produksi serendah mungkin.
Memotong biaya dari anggaran yang sudah dikucurkan negara dengan cara meracuni anak-anak yang seharusnya dilindungi.
Sekarang soal E. coli dan Bacillus cereus karena keduanya bercerita tentang kegagalan yang berbeda dan sama-sama sistemik.
E. coli ditemukan di sampel makanan yang diuji BPOM. E. coli adalah bakteri yang hidup di usus besar manusia dan hewan.
Kehadirannya dalam makanan mengindikasikan satu hal dan hanya satu hal ada kontaminasi feses di suatu titik dalam proses produksi.
Bisa dari tangan pekerja yang tidak mencuci tangan dengan benar.
Bisa dari peralatan masak yang dicuci dengan air yang terkontaminasi.
Bisa dari sumber air bersih yang digunakan untuk memasak yang ternyata tidak bersih sama sekali. Tapi apapun jalur masuknya E. coli di makanan anak sekolah adalah kegagalan higienitas yang fundamental dan tidak bisa dijelaskan dengan kecerobohan kecil.
Bacillus cereus adalah bakteri yang berbeda karakternya dan justru karena itu lebih berbahaya dalam konteks seperti ini.
Dia berkembang biak di makanan yang tidak disimpan pada suhu yang tepat khususnya makanan yang sudah matang lalu dibiarkan terlalu lama di suhu ruangan sebelum sampai ke tangan penerima.
Yang membuatnya sangat berbahaya adalah toksin yang dihasilkannya tahan panas.
Artinya bahkan kalau makanan dipanaskan ulang sebelum disajikan toksin itu tetap ada dan tetap bekerja merusak sistem pencernaan.
Ini mengindikasikan ada masalah serius dalam rantai distribusi dari dapur ke sekolah makanan dikirim terlambat disimpan terlalu lama atau tidak dijaga suhunya selama perjalanan.
Tiga kontaminan dari tiga sumber yang berbeda dalam satu paket makanan yang sama.
Ini bukan tentang satu kecerobohan di satu titik. Ini adalah gambaran dari sebuah dapur yang gagal dari hampir semua dimensi secara bersamaan dari penggunaan bahan kimia ilegal dari higienitas dasar yang tidak terpenuhi dan dari sistem penyimpanan dan distribusi yang tidak memadai.
Dan ada satu detail yang menurut gua adalah bagian paling menyayat hati dari seluruh cerita ini.
41 orang tua dan anggota keluarga ikut keracunan. Bukan karena mereka makan di kantin sekolah.
Bukan karena mereka iseng mencicipi makanan anak.
Tapi karena anak-anak mereka membawa pulang sisa makanan dan orang tua yang tidak mau menyia-nyiakan rezeki yang sudah ada di tangan memakan sisa itu di rumah.
Orang tua yang hemat.
Orang tua yang bersyukur anaknya dapat program makan gratis dari negara.
Orang tua yang tidak punya kapasitas untuk tahu bahwa makanan yang dibawa pulang anaknya mengandung boraks dan dua jenis bakteri berbahaya.
Dan justru kebaikan hati mereka untuk tidak membuang-buang makanan itulah yang membuat mereka ikut masuk rumah sakit bersama anak-anak mereka.
Sekarang soal respons pemerintah.
Dan ini adalah bagian yang menurut gua harus membuat semua orang marah dengan alasan yang sangat konkret.
BGN men-suspend SPPG Air Asuk sementara. Meminta SPPG memperbarui Sertifikasi Laik Higiene Sanitasi sebelum boleh beroperasi kembali. Menekankan perlunya peningkatan pengawasan.
Tidak ada pengumuman proses hukum pidana terhadap siapapun yang terbukti memasukkan boraks ke makanan anak-anak.
Ingat menggunakan boraks dalam makanan bukan hanya pelanggaran administratif.
Ini adalah tindak pidana yang bisa dijerat dengan UU Pangan Nomor 18 Tahun 2012 dengan ancaman hukuman penjara maksimal 5 tahun dan denda maksimal Rp10 miliar.
Tapi sampai berita ini ditulis tidak ada satu pun nama yang disebut akan diproses secara pidana.
Tidak ada audit nasional terhadap ribuan SPPG lain yang beroperasi di seluruh Indonesia.
Kalau satu SPPG bisa beroperasi dengan boraks dan dua bakteri berbahaya tanpa ketahuan selama berminggu-minggu sebelum ada korban massal berapa SPPG lain yang kondisinya sama tapi belum ada yang keracunan parah cukup untuk memicu investigasi?
Dan BPOM sendiri sudah mengakui bahwa mereka hanya sanggup mengecek lima dapur MBG secara nasional.
Lima dapur.
Alasannya adalah minim anggaran.
Program yang dianggarkan Rp335 triliun di tahun 2026.
Tapi lembaga yang bertugas mengawasi keamanan pangan di program itu tidak punya cukup anggaran untuk mengecek lebih dari lima dapur dari ribuan yang beroperasi.
Dan ini perlu dilihat dalam konteks yang lebih besar lagi.
Kasus Anambas bukan kasus pertama dan bukan kasus yang paling banyak korbannya.
Secara nasional kasus keracunan MBG sudah lebih dari 6.000 kasus dari berbagai daerah sejak program ini berjalan.
Dari Sumatera sampai Jawa sampai Sulawesi.
Di sekolah-sekolah yang mestinya jadi tempat anak-anak tumbuh dengan aman.
6.000 kasus keracunan.
Dan baru di Anambas ada hasil lab yang mengkonfirmasi boraks digunakan secara sengaja.
Pertanyaannya adalah dari 6.000 kasus sebelumnya berapa yang juga melibatkan boraks tapi tidak pernah diuji labnya karena tidak ada anggaran?
Berapa yang cukup ringan sehingga orang tuanya hanya berpikir anaknya masuk angin lalu tidak pernah dilaporkan?
Berapa yang tidak pernah masuk data karena tidak ada media yang meliput?
program senilai Rp335 triliun dengan niat mulia memberantas stunting dan memastikan anak Indonesia tumbuh sehat harus bisa menjamin satu hal paling dasar yang bahkan tidak perlu standar tinggi untuk dipenuhi.
Makanan yang dikirim ke mulut anak-anak tidak boleh mengandung racun.
Bukan standar internasional.
Bukan sertifikasi ISO.
Hanya satu syarat jangan ada boraks di dalam telur kecap dan tempe goreng yang dimakan anak PAUD.
Dan syarat sepedas itu ternyata tidak terpenuhi.
Di program yang diklaim akan mengubah generasi Indonesia.
Di negara yang Menkeu-nya baru saja bilang kita sedang survival mode tidak boleh bikin stupid mistake lagi.
Suspend tiga hari dan perbarui sertifikasi bukan jawaban yang proporsional untuk 162 anak yang keracunan boraks.
Yang proporsional adalah proses pidana yang nyata transparansi penuh tentang kondisi semua SPPG di seluruh Indonesia dan pertanggungjawaban yang konkret dari siapapun yang membuat keputusan untuk meloloskan SPPG beroperasi tanpa pengawasan yang memadai sejak awal.
dulu aku karyawan yang selalu tenggo sampai ditegur bos, kek???
bos: kok udah pulang aja? yg lain masih kerja loh
aku: udah jam 5 pak, kerjaan saya hari ini udah selesai
bos: ya jgn langsung pulang dong
aku: sudah jam 5 pak, permisi.
😭 simple sih, tapi gedegnya ada bgt
Adik-adik, kakak-kakak semuanya. Kali ini gw mau bicara tentang sesuatu yang sudah menyiksa rakyat Indonesia selama bertahun-tahun. Bukan korupsi. Bukan inflasi. Tapi sesuatu yang lo rasain setiap kali mau mudik atau liburan dan buka aplikasi Traveloka, lalu langsung menutup aplikasinya lagi karena tidak sanggup melihat angkanya.
Yes. Tiket pesawat domestik Indonesia. Yang harganya bisa lebih mahal dari tiket ke luar negeri. Yang bikin relawan bencana harus muter lewat Malaysia dulu baru bisa ke Aceh. Yang udah dikeluhkan jutaan orang tapi tidak pernah beneran berubah.
Gw udah baca risetnya. Gw udah cek datanya. Dan sekarang gw mau cerita ke lo semua, pelan-pelan, dengan bahasa yang bisa dimengerti semua orang, kenapa ini terjadi dan siapa yang sebetulnya diuntungkan dari penderitaan kita bersama. 🧵
Prabowo ini bikin semua presiden pendahulunya jadinya terlihat bener kerjanya.
SBY itu nilainya 3/10, Jokowi 2/10 tapi Prabowo ini beneran 0/10. Nepotismenya gila. Temennya ditunjuk jadi Menhan yang ngurusin koperasi. Ajudannya dijadiiin Seskab. Adiknya dikasih jabatan multifungsi. Ponakannya dikasih Deputi BI.
Ekonomi lagi ambruk-ambruknya tapi presidennya macem gini. Hancur total.