ilmu dari hengky ketika beli saham:
- pilih saham yang rame jangan yang sepi ntar cuma pantengin doang ngantuk
- sebelum trading tandain dulu di angka berapa resist sama supportnya
- banyak trader cuma modal baca bid offer doang padahal kurang lengkap
- harus crossing dulu antara TA sama bid offer biar makin yakin
- perhatiin bid tebel apa offer tebel di harga berapa
- kalo offer abis dimakan sekali hap itu pertanda bagus banget
- abis offer abis biasanya nanti diisi bid gede lagi itu sign positif
- studi kasusnya di ptro sebelum stocksplit dari 10rb sampe naik ke 10400an
- kalo offer abis tapi bid malah kosong atau dicabut itu tandanya mau ada yang jualan
"Perhatikan market reaction-nya.
Selain itu noise.
Yang informatif cuma tiga: kurs, CDS, dan yield SBN.
Di situ informasi paling jujur yang kasih tau apa yang sebenarnya market pikir."
Ilmu mahal banget 👆
Katanya sih karena member grup menekan Hengky ketika saham rugi. Sebaliknya, menurut hengky, dia gak merasa kasih stockpick dengan trade plan itu kewajiban.
Jadi yang wajib nya setelah peserta bayar 20 juta adalah kelas belajar.
Kemudian ada bonus, yaitu masuk grup 1 tahun.
Di grup itu, Hengky kasih stockpick tapi cuma petunjuk. Contoh: Guys, gw mau masuk di saham A harga sekian. Kalian sendiri tentukan harga beli nya ya.
Selain itu, ada beberapa saham yang meleset analisa nya dan ngebuat sangkut para member. Misalnya, Coco, Buva, Dssa, Dll.
Gue rasa sih ini peserta merasa setelah bayar 20 juta, maka analisa host nya harus 100% akurat. Dan orang2 yang bayar 20 juta ini gak ngarep belajar, tapi ngarep stockpick di grup. Alias, market fit nya gak klop. Aturan mah belajar ya belajar, grup ya grup aja.
IHSG sekarang diperdagangkan sekitar 12 kali laba, anjlok dari 17 kali di awal tahun. Pakai proyeksi laba 2026, bahkan cuma sekitar 10 kali, terendah sejak pandemi. Padahal laba emiten diproyeksi masih tumbuh di atas 8% tahun ini. Kenapa bisa semurah ini? Bukan karena perusahaan kinerjanya melemah. Dana asing menarik keluar puluhan triliun rupiah sepanjang tahun ini, menekan hampir semua saham.
Lagi ramai narasi kebijakan fiskal dan moneter Indonesia "tabrakan".
BI naikin rate 100 bps dalam 2 bulan sambil nyerap likuiditas via SRBI.
Di saat yang sama Kemenkeu melebarkan defisit dan menempatkan dana pemerintah Rp400 triliun di Himbara.
Satu ngerem, satu ngegas.
Kalau kombinasinya begini, rupiah arahnya ke mana?
Based on framework klasiknya Mundell-Fleming.
Dampak policy mix ke kurs tergantung seberapa bebas modal asing keluar-masuk.
• Di negara high capital mobility: kurs digerakkan capital flow. Rate naik → asing masuk ngejar yield → currency menguat.
• Di negara low capital mobility: kurs lebih digerakkan neraca dagang. Fiskal ekspansif → impor naik → trade deficit melebar → currency melemah.
Indonesia di tengah2.
Capital account terbuka, tapi asing terus menyusut di dua pasar sekaligus: di SBN porsinya tinggal ~13% dari ~40% satu dekade lalu, di equity dari ~65% ke 42%.
Untuk mix moneter ketat × fiskal ekspansif, jawaban teorinya: indeterminate.
Rate tinggi menarik inflow, ekspansi fiskal bikin investor minta risk premium.
Dua gaya tarik-menarik.
Rupiah akan menguat atau melemah tergantung gaya mana yang lebih kuat.
Ada satu istilah, namanya differential.
Differential itu selisih suku bunga acuan BI dan the Fed (BI Rate dikurangi Fed Funds Rate).
Kenapa ini yang dilihat investor global?
Mereka selalu punya pilihan parkir di aset dollar, currency paling aman di dunia.
Buat mau pindah ke aset rupiah (yang lebih berisiko) harus ada bayaran ekstra.
Differential itulah bayarannya.
BI 5,75% dan Fed 3,63% artinya differential ~2,1pp: pegang SBN dapat ekstra ~2,1% per tahun dibanding instrumen dollar.
Pertanyaannya: cukup nggak differential tersebut untuk compensate risiko rupiah yang ditanggung?
Cara ngukurnya bisa dilihat langsung dari perilaku asing di SBN secara historis.
• Era differential tebal 2010–2016, rata2 6,5pp: asing masuk hampir tanpa henti, porsinya naik dari belasan persen ke hampir 40%.
• 2017–2019 differential menipis ke ~3,4pp, tapi asing bertahan di 38–40%. Posisi yang sudah terbangun itu sticky/lengket.
• Setelah 2020 porsinya longsor. Diawali efek banjir penerbitan SBN era COVID, lalu asing benar2 keluar di 2022 saat differential terkompresi ke 0,4–2pp. Sekarang porsinya cuma 12,75%, terendah dalam dua dekade.
Posisi sekarang, differential 2,1pp hari ini masih jauh dari pembanding historisnya.
Era yang membangun porsi asing 40% itu differential rata-rata 5,5pp, dan dipertahankan satu dekade.
Respons asing terhadap hike kemarin juga masih tipis: 12,6% → 12,75% di Q2.
Rupiah masih di ~17.900.
Artinya concern fiskal masih jadi overhang di mata investor global, dan yield yang ditawarkan belum menutupnya.
Tentu bukan PR yang bisa diselesaikan BI sendirian.
Hike hanya memperbaiki sisi kompensasi.
Sisi risikonya: arah defisit, kualitas belanja, kejelasan pembiayaan, hanya bisa dibereskan dari fiskalnya sendiri.
Era asing 40% dulu dibangun dengan keduanya: differential lebar dan fiskal yang disiplin.
Apakah secara historis reversal dari bottom harus didukung foreign net inflow?
IHSG naik 7,6% Selasa dan 2,7% Rabu.
Asing? Masih net sell Rp 2,45 T dan Rp 3,13 T.
Banyak yang menyimpulkan Asing masih buang barang atau ini rally ini palsu.
Sounds logical.
Tapi premisnya layak diuji dengan data.
Apakah flow Asing/Domestik ini relevan dalam menentukan ini reversal atau bukan?
Saya backtest 4 crash terbesar IHSG: GFC 2008, Taper Tantrum 2013, koreksi 2015, dan COVID 2020.
Tiga dari empat reversal dimulai saat asing masih net sell.
Di 2013 dan 2015, kumulatif flow bahkan masih negatif di bulan keenam, padahal index sudah naik 15–16%.
Inflow besar baru datang di bulan ke-5 sampai ke-12, setelah recovery terbentuk.
COVID paling ekstrem: IHSG naik 56% dalam 12 bulan, dan sepanjang itu asing tetap kumulatif net sell sekitar Rp 27 T.
Asing baru berbalik net buy bulanan pertama kali November 2020, saat index sudah jauh di atas bottom.
Apakah ini berarti 8 Juni sudah pasti THE bottom?
Tidak ada yang bisa menjamin itu, termasuk saya.
Yang bisa dikatakan dengan jujur: rebound dua hari ini terjadi di atas turnover yang naik (Rp 21,7 T → 28,0 T → 31,7 T), breadth-nya lebar, dan absennya foreign inflow bukan alasan valid untuk mendiskreditkan rally, karena secara historis memang tidak pernah jadi prasyarat.
Satu catatan lagi yang jarang dibahas. Label "asing" di data bursa itu flag pada order broker, bukan beneficial ownership.
Dengan makin umumnya struktur nominee dan jasa "masking" kepemilikan.
Garis pemisah antara "real" foreign vs domestic makin kabur.
Watch the tape, not the nationality flag on it.
IHSG turun kelas ke 'Frontier Market'? Menurut gua ini bukan salah konglo tapi salah.. 🤔
Katanya flow asing kabur karena konglo, tapi jujurly, investor kabur karena capek liat kebijakan internal kita yang hobi bikin kejutan.
Mari kita bedah komedi tragis IHSG👇
(A Thread)
Intinya gini:
Prediksi broker asing soal outflow MSCI Mei 2026 gede banget: USD 1.7-3.4 Miliar (Rp 30-60 T)
Tapi kalau dihitung realistis dari data kepemilikan ETF + Mutual Fund per April 2026, total outflow cuma sekitar Rp 10 T aja
• ETF (pasif, ikut indeks): Rp 7.8 T (terbesar AMMN, BREN, TPIA)
• MF (aktif, lebih longgar): Rp 2.1 T
Deadline efektif 1 Juni, tinggal ±10 hari kerja. Bisa bikin tekanan jual, apalagi saham likuiditasnya kecil (contoh BREN butuh 17 hari kalau lewat pasar reguler).
Kesimpulan: Outflow nggak sebesar yang ditakutkan. Bisa jadi kesempatan beli saham bagus dengan harga diskon via block sale
Setelah rebalancing selesai, market bisa lebih tenang.
Guys, Gema Astronaci baru keluarkan warning yang menurut gue paling serius dan paling komprehensif soal kondisi ekonomi Indonesia yang pernah gue dengar dari konten kreator manapun belakangan ini.
Dan ini bukan clickbait.
Datanya nyata.
Angkanya bisa dicek.
Situasi Indonesia sekarang dua api sekaligus:
Gema menyebut Indonesia sedang dihimpit dari dua arah bersamaan untuk pertama kalinya dalam sejarah modern:
Api pertama internal:
APBN tekor.
Defisit sudah Rp638 triliun.
Total utang pemerintah Rp10.470 triliun.
Bunga utangnya saja sudah Rp600 triliun per tahun belum pokok utangnya.
Api kedua eksternal:
Perang Iran-Israel yang belum benar-benar selesai. Harga minyak naik ke 105 dolar dan berpotensi ke 120-130.
Rupiah sudah tembus 17.100 dan di commercial banking sudah jual di atas 17.200.
Dulu Indonesia pernah kena satu api saja.
1998 itu krisis internal politik kacau.
2008 itu krisis eksternal subprime mortgage Amerika. COVID itu eksternal.
Tapi 2026 ini keduanya datang bersamaan.
Dan menurut Gema kita tidak siap.
Enam dimensi kematian yang perlu dipahami:
Satu — minyak naik:
Biaya energi global naik.
Biaya produksi industri naik. Inflasi merembet ke seluruh sektor.
Dua — inflasi pangan:
Harga bahan pokok naik minimum 20-30%.
Beras yang 2019 harganya Rp2.000 per kilogram sekarang Rp16.000-18.000.
Kenaikan 33%.
Tapi gaji pekerja tidak bisa naik secepat itu.
Tiga — dolar menguat, rupiah ambruk:
Utang dalam dolar makin berat.
Bahan baku industri yang 80% diimpor jadi makin mahal.
Trade deficit hampir pasti terjadi.
Empat — perdagangan global melambat:
Ekspor susah karena perang.
Tarif Trump menambah tekanan.
Supply chain terganggu.
Pertumbuhan ekonomi dunia melambat.
Lima — kepercayaan pasar turun:
Moody's dan Fitch sudah downgrade outlook Indonesia ke negatif.
Artinya kemampuan Indonesia untuk berutang juga makin terbatas.
Enam — inflasi biaya hidup merata:
Semua domino jatuh bersamaan ke rakyat paling bawah.
Angka yang paling bikin gue geleng-geleng:
UMP Jakarta Rp5,3 juta.
Kebutuhan hidup layak individu Jakarta menurut BPS: Rp6-7 juta.
Sudah defisit Rp600.000-700.000 per bulan sebelum ada pengeluaran tak terduga.
Biaya hidup keluarga dua orang plus satu anak:
Rp12-15 juta.
Tapi gaji rata-rata aktual pekerja Indonesia: Rp3,9 juta.
Di bawah UMP nasional Rp3,31 juta.
Artinya: banyak keluarga Indonesia yang secara struktural tidak mungkin mencukupi kebutuhan hidupnya dari satu sumber penghasilan.
Dan konsekuensinya sudah terlihat di data: 45 juta orang bergantung pada pinjol per Januari 2026. Angka ini all-time high. Dan terus naik.
Data yang paling mengkhawatirkan:
Kelas menengah Indonesia tahun 2019 ada 21,4% dari populasi. Sekarang turun. 1,1 juta orang keluar dari kelas menengah dalam satu tahun. Mereka tidak naik kelas mereka turun ke bawah menengah.
Tabungan kelas bawah yang sebelum COVID ada Rp4,2 juta per orang — sekarang tinggal Rp1,7 juta.
85% masyarakat mengalami perlambatan konsumsi — menunda beli. Dan kalau konsumsi turun — UMKM mati. UMKM mati — PHK. PHK — konsumsi makin turun. Lingkaran spiral ke bawah.
Soal BBM — ini yang perlu disiapkan:
Gema membuat proyeksi berdasarkan harga minyak 105 dolar:
Subsidi BBM yang dianggarkan 2026: Rp210 triliun. Proyeksi beban subsidi aktual kalau minyak di 105 dolar full year: Rp441 triliun. Lebih dari dua kali lipat anggarannya.
Artinya mau tidak mau harga BBM bersubsidi kemungkinan besar akan naik. Pertalite bisa ke Rp19.000-20.200. Solar subsidi ke Rp20.800-21.500. Pertamax ke Rp19.200-19.500.
Ini bukan prediksi doom. Ini kalkulasi matematika dari ketidakseimbangan antara anggaran dan beban nyata.
Indonesia sangat bergantung impor dan ini yang paling berbahaya saat rupiah lemah:
Gandum: 100% impor. Kedelai untuk tahu tempe: 97% impor. Bawang putih: 100% impor.
Total impor Indonesia Januari-Desember 2025: 241 miliar dolar naik 2,83%.
Artinya setiap kali rupiah melemah 100 perak harga tahu, tempe, mie instan, roti, bawang putih semuanya naik. Karena bahan bakunya dibeli dengan dolar.
Satu-satunya yang menurut Gema masih bisa diandalkan:
Menkeu Purbaya. Gema menyebut sistem keuangan Indonesia relatif aman di tangannya. Cadangan devisa masih USD148 miliar cukup untuk 6 bulan impor.
Tapi Purbaya sendirian tidak cukup. Kata Gema: lebih dari 60% menteri tidak punya kompetensi untuk menghadapi krisis seberat ini. Dan keputusan-keputusan yang keluar dari beberapa kementerian justru memperparah situasi.
Saran konkret dari Gema untuk pemerintah dan rakyat:
Untuk pemerintah: pertahankan rupiah di bawah 17.500. Potong belanja tidak produktif perjalanan dinas, seminar, proyek fisik tidak mendesak. Relaksasi KUR untuk UMKM ke 4-5%. Subsidi langsung ke produsen pangan loka bukan impor. Percepat swasembada pangan.
Untuk rakyat: jangan konsumtif. Jangan resign sembarangan di kondisi seperti ini. Buka penghasilan tambahan. Tingkatkan skill minimal bahasa Inggris yang bagus bisa menaikkan gaji Rp2-3 juta. Perbanyak cash. Siapkan dana darurat.
Gema Astronaci bukan sedang menakut-nakuti.
Dia sedang membaca angka-angka yang memang ada dan angkanya tidak bagus.
Indonesia 2026 menghadapi tekanan yang belum pernah terjadi bersamaan dalam satu waktu: APBN tekor, rupiah lemah, inflasi naik, geopolitik tidak stabil, ketergantungan impor tinggi, dan kelas menengah yang terus menyusut.
Kalau ini tidak ditangani dengan orang-orang yang kompeten dan keputusan yang tepat bukan bagi-bagi jabatan politik maka dalam 1-2 tahun ke depan yang akan hilang bukan hanya pertumbuhan ekonomi.
Yang akan hilang adalah kelas menengah Indonesia. Dan tanpa kelas menengah tidak ada daya beli.
Tanpa daya beli tidak ada UMKM.
Tanpa UMKM tidak ada lapangan kerja.
Dan tanpa lapangan kerja yang tersisa hanya dua kelompok: yang sangat kaya dan yang sangat miskin.
Itu bukan prediksi.
Itu matematika.
Guys, ini gilaa sihh
Suster Natalia.
Perempuan yang tidak menikah.
Tidak punya harta pribadi.
Mengabdikan seluruh hidupnya untuk gereja dan umatnya di Labuhanbatu, Sumatera Utara.
Dan sekarang dia harus menanggung beban Rp28 miliar yang raib bukan uangnya sendiri
tapi uang 1.900 jiwa umat yang dia jaga amanahnya.
bahkan dia bilang
ke teman dia yang suster juga
dia akan masuk penjara.
dia cerita
Setiap kali ketemu umat yang sederhana itu,
saya selalu katakan:
mari, masa depan anak-anakmu melalui menabung.
Tapi sekarang masa depan mereka itu hancur di tangan saya.
Kronologi yang perlu semua orang pahami:
Credit Union Paroki Aek Nabara koperasi simpan pinjam di bawah naungan gereja sudah berjalan 45 tahun tanpa masalah.
Umat menabung perak demi perak.
Untuk sekolah anak.
Untuk biaya sakit.
Untuk masa depan.
Total yang terkumpul dan ditempatkan di deposito: Rp28 miliar lebih dari 1.900 anggota.
Di 2019 Andi Hakim Febriansyah
Kepala Kas BNI Unit Aek Nabara
mendatangi pengurus CU.
Menawarkan produk bernama BNI Deposito Investment
dengan bunga 8% per tahun.
Lebih tinggi dari deposito biasa.
Pengurus percaya.
Karena siapa yang tidak percaya kepada kepala kas bank negara yang datang dengan seragam resmi, ID card BNI, dan pick-up service resmi yang sudah berjalan sejak 2015?
Tujuh tahun berjalan.
Bunga masuk rutin setiap bulan.
Tidak ada masalah.
Sampai Desember 2025 dan semuanya mulai runtuh:
CU mengajukan pencairan Rp10 miliar untuk pinjaman ke anggota.
Bertahap minta Rp2 miliar dulu.
Januari 2026 tidak cair.
Februari 2026 tidak cair.
5 Februari Suster Natalia panggil Andi.
Andi bilang besok.
Besok tidak cair.
Andi minta semua bilyet deposito untuk pembaruan. Suster menyerahkan semuanya karena percaya.
Sore hari Andi sudah di jalan ke Medan katanya cuti.
Lalu 23 Februari bukan Andi yang datang.
Tapi kepala kas baru.
Dengan kalimat yang mengubah segalanya:
Per hari ini saudara Andi Hakim Febriansyah bukan pegawai BNI lagi.
Dan produk yang ditawarkan itu bukan produk BNI.
Suster Natalia pingsan lima menit.
Yang lebih ngeri dari hilangnya uang itu:
Bilyet deposito yang dipegang Andi dibakar. Sengaja. Supaya tidak ada barang bukti.
Tapi Andi salah hitung.
Satu bilyet tersimpan di tangan pastor lain yang kebetulan tidak ada di tempat saat pengambilan.
Satu bilyet itu yang menjadi bukti bahwa semua ini nyata.
Andi sudah menyiapkan skenario dari jauh hari. Tanggal 23 Februari itu hari yang sama dia ambil semua bilyet dia sudah mengajukan pengunduran diri. Dan dua hari kemudian dia terbang ke luar negeri bersama istrinya lewat Bali ke Australia, lalu ke New Zealand.
Sambil cuti dia masih angkat telepon Suster Natalia. Masih bilang "aman, Suster."
Masih janjikan pencairan.
Setelah red notice diterbitkan oleh Interpol dan Australian Federal Police Andi kembali ke Indonesia 30 Maret 2026 dan ditangkap di Kualanamu.
Di dalam pemeriksaan dia mengakui semua perbuatannya.
Uangnya?
Dipakai untuk sport center, kafe, mini zoo, tanah, dan berbagai aset yang kini sedang dilacak dalam proses TPPU.
Dan sekarang masuk ke bagian yang paling mengkhawatirkan:
BNI melakukan verifikasi internal sendiri.
Tanpa transparansi.
Tanpa melibatkan korban dalam proses.
Hasilnya: BNI bersedia mengganti Rp7 miliar.
Dari Rp28 miliar lebih.
Dan pada 26 Maret 2026 tanpa persetujuan CU-PAN BNI mentransfer Rp7 miliar itu ke rekening korban secara sepihak.
Seolah dengan mentransfer itu kasus selesai.
Kuasa hukum CU-PAN dari Gani Djemat & Partners menolak keras.
Karena:
Berdasarkan prinsip Vicarious Liability perusahaan bertanggung jawab atas tindakan pegawai yang dilakukan dalam kapasitas jabatannya.
Andi beroperasi dengan ID card BNI, jabatan BNI, fasilitas pick-up service BNI, dan atas nama BNI selama tujuh tahun.
Ini bukan tindakan pribadi yang kebetulan dilakukan oleh orang yang bekerja di BNI. Ini tindakan yang bisa terjadi karena dia adalah BNI di mata korban.
POJK Nomor 22 Tahun 2023 Pasal 10 ayat 1 juga menegaskan: pelaku usaha jasa keuangan wajib bertanggung jawab atas kerugian konsumen akibat kesalahan pegawainya.
Tidak ada klausul kecuali kalau pegawainya nakal.
Dan respons BNI yang paling menyakitkan menurut korban:
Enam kali mediasi.
Satu kali aksi damai.
Sepanjang itu tidak satu pun pejabat BNI dari kantor cabang atau wilayah yang mengucapkan kata "maaf" atau kami prihatin kepada korban.
Yang datang dari pihak BNI hanya satu permintaan berulang: Berikan kami bukti pendukung.
Padahal semua data transaksi ada di sistem BNI sendiri.
Semua perpindahan uang dari kas lancar ke rekening Andi tercatat di rekening koran BNI.
Bukan di tangan korban.
Baru Wakil Menteri BUMN yang mengundang korban dan itulah pertama kalinya ada pejabat yang mengucapkan kata permohonan maaf dan rasa prihatin.
Satu hal yang tidak bisa diabaikan:
Suster Natalia sekarang punya utang pribadi ke beberapa orang.
Karena ada anggota CU yang butuh uang untuk berobat yang tidak bisa dia biarkan meninggal di rumah sakit sementara dana CU tidak bisa diakses.
Dia yang tidak punya harta pribadi meminjam uang untuk membayar tagihan rumah sakit umatnya.
"Saya tidak bisa biarkan umat meninggal di rumah sakit, Pak."
BNI adalah bank BUMN.
Bank milik negara.
Diawasi oleh OJK.
Dijamin kepercayaannya oleh nama negara Indonesia.
Dan di bawah namanya selama tujuh tahun seorang kepala kas menjalankan skema penipuan yang menyedot uang 1.900 jiwa umat gereja yang menabung perak demi perak untuk masa depan anak-anak mereka.
BNI tidak bisa menyebut ini hanya masalah oknum lalu cuci tangan dengan transfer Rp7 miliar yang tidak transparan prosesnya.
Karena korban bukan menyimpan uang kepada Andi Hakim.
Korban menyimpan uang kepada BNI.
Dan BNI harus mengembalikannya penuh tanpa pengecualian.
Kalau tidak ini bukan hanya kasus kriminal biasa.
Ini adalah konfirmasi bahwa di negeri ini orang miskin yang menabung untuk masa depan anaknya bisa kehilangan segalanya karena sistem yang seharusnya melindungi mereka justru membiarkan hal ini terjadi selama tujuh tahun.
Ga di Australia ga di Indonesia paling males kalo kerja ama India 🤣
Ga di tempat kerja ga di kuliahan. Paling males ama orang India 🫠
"Wah rasis nih"
Kalo uda pernah ngerasain pasti tau lah 😅
Salah satu alasan kenapa Pertamina ketinggalan jauh dari Petronas :)
Laba Pertamina tahun lalu Rp 73 triliun.
Laba Petronas? Rp 270 triliun.
Padahal thn 80an Petronas belajarnya sama Pertamina.
Hal2 kayak gini yg bikin Pertamina susah majunya.
Kerja kasar 3 tahun di Australia, tabungan bisa capai Rp 1 M.
Kerja kasar 9 tahun di Australia, tabungan bisa capai Rp 3 M.
9 tahun, sambil kerja kasar, sambil belajar invest saham.
Tinggal hidup di Bali, bawa modal Rp 3 M, ambil 300 jt untuk biaya hidup selama 3 tahun kedepan.
Sisanya invest ke saham dgn return 25% setahun. Tiga tahun kedepan uang kamu udah jadi Rp 5.4 M. Lakukan hal yg sama, 3 tahun kedepan uang kamu jadi Rp 10.2 M.
Happy Financial Freedom.
Ada 2 kesalahan berpikir tentang emas
Nganggep instrument investasi ❌
Nganggep nilai emas batangan = emas perhiasan ❌
Padahal emas itu adalah Hedge Fund ✅
Coba kita luruskan biar ga kejebak sama kesalahan yg dibenarkan ini~
Barangkali ada yg bingung kenapa vonis hukuman 20 tahun, tapi kok baru menjalani penjara sekitar 8 tahun, Jessica Wongso bisa bebas bersyarat?
Jadi Narapidana tuh punya hak reintegrasi sosial setelah menjalani 2/3 masa pidananya.
Tapi bukannya 2/3 dari 20 tahun itu 13 tahunan?
Penampakan hari ini (04JUL) Airbus A330 T7-MMM (San Marino Executive) yang mendarat darurat di Solo pada malam hari 02JUL ketika mengoperasikan GIA6239.
Konon kabarnya pesawat menunggu pengiriman mesin baru dan jadwal akan terganggu hingga minimal 07JUL.
📷: Albatross/IG:adhiesolo