Dan juga ini kadiv udah ke brain washed sama gub. Dan apa2 yg gub perintahin dia main iya2 aja ga disaring dulu.
Oke kalau dia di pemrintaham bakal cepet naik jabatan tapi bakal juga gampang jadi kambing hitam
Tapi dia dibatasin gitu ruang geraknya karena diduga oposisi dan takut2nya nih proker diskusi itu ngedatengin "musuh" untuk jadi narasumber.
Gila aja kali. Ga ada untungnya jg kali ngacak2 himpunan?
Lalu, dicurigai lah anggota ini. Ruang geraknya dibatasi karena takut menganggu stabilitas himpunan. Disisi lai dia jg punya sohib yg jg adalah anggota gue yg di duga HMI karena pacarnya HMI. But he's not. Dan dia tuha sekarang lagi marah2 karena dia dikekang?
Demi stabilitas, dan meminimalisir serangan saat muhim, akhirnya Gub nerima orang2 yg dia pikir membahayakan himpunan dengan dalih merangkul semua.
Salah satu anggota gue adalah anak HMI. Which is kayaknya banyak deh yg gasuka HMI??? And I dont know why?
Kasarnya mungkin begini; mudah terdoktrin dan tidak begitu kritis.
Gue kayak gitu. Ga terlalu kritis untuk hal beginian.
Gue sendiri bukan tipe orang yg bisa menyapaikan pendapat gitu aja. Atau mengkritisi rezim ini.
Disinilah awal mulanya.
Setelah terpilihnya gubernur jurusan gue dari partai sebut aja ijo, dia udah merancamg semua hal sedemikian mungkin.
Orang2 yg dia jadiin kadiv sekdiv dan bendiv adalah orang2 yg dia percaya bisa membantu menstabilkan himpunan.
Semua keruwetan ini berawal pada saat gue menerima tawaran menjadi bendahara divisi. Gue kira himpunan adalah rumah yg kedatangan pemimpin baru dan jg keluarga baru, mungkin begitu.
Lalu... ternyata gubernur angkatan gue ini otoriter...
Yang disebut DPM (dewan perwakilan mahasiswa). Pasti adalah ya instrumen2 ini di tiap kampus juga???
Tapi aku disini mau curhat bagaimana ruetnya politik ini di kampus. Oke tiap politik kampus pun mungking begitu.
*negara
Maksudnya, ketua BEM fakultas disebut presiden dan wapres. Beserta isi BEM itu ada divisi2 yg merupakan kementrian. Untuk himpunan ada kahimnya disebut Gubernur. Dan ada juga perwakilan mahasiswa yg diambil tentu dari tiap2 partai pemenang atau yg dapet kursilaaah.
Jadi gini, gue kuliah disalah sayuh univ swasta fakultas ilmu sosial dan politik (fisip). Jadi di kampus gue praktek politik organisasinya udah kauak miniatur Indonesia. Ada partai, ada pemilihan raya yg dilakuin setaun sekali, dan pemimpin2nya disebut dg istilah2 negata