Aku dulu mempunyai ibu yang amat sangat baik hebat tiada tanding, sampai pada titik lemahnya menahan sakit dibagian kepalanya, ia tidak kuat sampai tertidur pulas dan tidak bangun lagi untuk selamanya.
ada kata-kata bagus banget:
"semoga kamu selalu dipertemukan dengan seseorang yang dapat berbicara bahasa mu, sehingga kamu tidak perlu menghabiskan waktu seumur hidup untuk menerjemahkan jiwamu"
Semalam aku mendengar satu podcast yang sangat ngena.
Hidup sebaiknya berpaksikan waktu sholat.
• Bekerja setelah Subuh
• Makan siang sebelum Zuhur
• Makan malam sebelum Magrib
• Tidur setelah Isya
• Punya waktu untuk diri sendiri sebelum Subuh dengan qiyamul lail
• Menikmati ketenangan pagi saat matahari terbit
Ketika hidup berpaksikan sholat, bukan hanya waktu yang menjadi lebih teratur, tetapi hati juga terasa lebih tenang.
"Jangan selipkan sholat di sela-sela kesibukanmu. Selipkan kesibukanmu di antara waktu-waktu sholat."
luangkan waktu untuk untuk baca ini di setiap Pagi:
• Inna fatahna laka fathan mubina — 9x
• Inna hāzā la rizqunā mā lahu min nafād — 3x
• Setiap kali dapat rezeki, baca: Hāzā min fadli rabbī 🤍
dibiasakan, terbiasa, sudah biasa & biasalah.
pada akhirnya waktu juga yg akan membiasakan hingga kamu terbiasa dengan semuanya.
kadang yg mendewasakan manusia bukanlah usia, tapi berbagai peristiwa sulit yg berhasil dilalui, yg mungkin pernah dibayar dengan luka & rasa kecewa.
sadar ngga sih? semakin dewasa, semakin banyak rasa takut & trauma dari berbagai hal. mungkin salah satunya dikisah percintaan. kayak takut kenal orang baru, takut jatuh hati lagi dan lain-lain, ketakutan itu terjadi karena trauma yg sebelumnya masih ada & belum sepenuhnya pulih.
Antara Qabiltu atau Innalillahi,
Antara Dia atau Malaikat Izrail,
Antara baju Pengantin atau kain Kafan,
Antara surat Undangan atau batu Nisan,
Antara Pernikahan atau Kematian,