A nation is not conquered
Until the hearts of its women are on the ground.
Then it is finished,
No matter how brave its warriors
Or how strong their weapons.
@GrabID min.. driver harus bisa baca peta gak sih 😭.. mau dicancel ga tega udh deket. ditelpon pertama ga ngomong2, kedua ga diangkat. tapi malah muter2 ga sampe2 tapi notifnya udh tiba.. gemana sih
@yogyaonlineID kak saya pas checkout sudah pilih alamat utama, toko juga sudah yg terdekat dari rumah, kok pas selesai pembayaran malah alamat lain ya yang muncul??
@KAI121 min bageur, saya teh lagi numpak Malabar yg malem dr jogja ke bandung, lihat live tracking ada stasiun Rancaekek.. itu teh lewat doang apa berenti, min? Kalo berenti mah mau turun di situ aja ntar 😂
Masih berduka atas gugurnya Ast Masinis tempo hari jadi keingetan..
ini perlintasan Kiaracondong bandung tahun 2021. Semoga sekarang mah udah gak kayak gini lagi yaaa min @KAI121 😭
aslinya bikin emosi orang waras yang liat...
20 TAHUN TSUNAMI. "Biasanya kenyataannya tak sedahsyat yang dibayangkan," kata jurnalis Tempo, Nezar Patria di dalam mobil yang membawa kami dari Medan menuju Banda Aceh, 28 Desember 2004.
Ia lalu mencontohkan pengalaman liputan di Timor Leste di masa konflik hingga periode "bumi hangus" usai referendum 1999. Saya mengangguk setuju. Sebab memang begitulah lazimnya liputan lapangan. Imajinasi kita sering lebih liar dibanding setelah menyaksikan atau mengalaminya sendiri.
Seperti saat meliput perang di Aceh setahun terakhir itu. Di Jakarta, santer beredar kabar orang-orang pendatang, terutama Jawa, diincar dan dibunuh. Rumahnya dibakar. Yang hidup diusir. Bom waktu dari program transmigrasi yang bercampur dengan konflik politik antara Jakarta dan Aceh.
Memang terjadi di beberapa daerah dengan alasan-alasan tertentu. Tapi tak berarti setiap pendatang random dari Jawa mengalami hal serupa. Sepanjang liputan perang itu, saya justru merasa lebih aman bersama kawan-kawan jurnalis Aceh masuk ke basis-basis gerilya seperti Tiro, Tangse, atau Idi Rayeuk, ketimbang bersama rombongan jurnalis dari Jawa, menempel pasukan NKRI.
Begitulah jarak antara imajinasi dan kenyataan lapangan yang sering saya dan Nezar alami. Termasuk imajinasi tentang dampak tsunami. Bersama kami saat itu juga ada Edy Tjan, jurnalis Kantor Berita Radio (KBR) 68H.
Karena imajinasi memang nyaris menjadi satu-satunya bekal yang kami bawa sejak dalam perjalan dari Jakarta-Medan, dan mengambil jalan darat menuju Banda Aceh.
Gambar tercepat yang ditayangkan televisi baru dari Lhokseumawe, itupun harus menempuh 8 jam sampai Medan untuk dikirim ke Jakarta lewat satelit. Gambarnya "hanya" suasana kepanikan saat gempa dan bangunan rusak.
Jangan membayangkan teknologi pengiriman foto atau video seperti sekarang.
Foto korban pertama justru datang ke meja redaksi https://t.co/1vmn8M0w78 dari Bireuen yang dikirim melalui warnet. Seorang perempuan wafat tertelungkup di dapur rumahnya karena tsunami.
Komunikasi dengan Banda Aceh terputus. Satu-satunya sambungan yang berhasil kami lakukan hanya lewat telepon satelit (Byru) sehari setelah tsunami. Seorang warga dari Simpang Surabaya, menggambarkan situasi Banda Aceh sebagai berikut:
"Ada jenazah di atas pohon, dan saya bisa melihat (pantai) Ulee Lheue dari lapangan Blang Padang."
Selebihnya, gelap.
Dan imajinasi tumbuh subur di tempat-tempat gelap. Tapi kami percaya, ia kerap salah karena cenderung melebih-lebihkan situasi sebenarnya.
Sampai di Pidie, kami hanya melihat bangkai ternak seperti sapi dan kerbau. Kami turun memeriksa keadaan. Kawasan pesisir itu memang sudah babak belur. Tapi ini pesisir timur Aceh. Sama sekali tak tahu bahwa bagian terburuk ada di pesisir barat.
Pun begitu, bau busuk dan amis tercampur dan semua sepakat, itu bau bangkai binatang.
Kami pun melanjutkan perjalanan.
Menjelang adzan maghrib, bau busuk meruap menembus ke dalam kabin mobil. Kali ini jauh berbeda dengan jenis bau di Pidie.
Lalu sampailah kami di perempatan Lambaro, Banda Aceh. Dan sekali lagi, imajinasi terbukti salah. Kali ini karena kenyataannya lebih dahsyat dari kesanggupan kami berimajinasi.
Al Fatihah untuk semua korban. Semoga kita yang hidup masih sempat mengambil pelajaran.
@HiFicares ini gimana caranya ya biar direspon.. korban migrasi dari #MNCPlay, jadi ada bundling iptv premium. mau minta diubah aja kek nagih utang gini..
@YLKI_ID@zakee2012ad
Terima kasih kepada seluruh kawan-kawan yang telah bersolidaritas untuk Septia sampai saat ini. Namun, perjuangan kita belum usai. Besok, Septia akan memberikan pembelaan dalam sidang pledoi.
#BebaskanSeptia
Orang tua sekaligus pemilik toko roti & kue LINDAYES di Penggilingan, Cakung meminta korban (Dwi Ayu) untuk segera melaporkan anaknya (George Halim) setelah aksi brutalnya tersebut