Apa yang terjadi pada Pee Wee Gaskins (PWG) adalah fenomena besar yang belum terulang dalam dua dekade terakhir di peta musik Indonesia. Bayangkan saja, ada band yang di-gatekeep secara ekstrem oleh penggemarnya sendiri, sampai-sampai melahirkan cultural elitism.
Di awal 2000-an, fans PWG yang dikenal dengan sebutan Dorks, tidak rela apabila musik PWG mulai dinikmati banyak orang (mainstream), terutama oleh orang-orang dari kalangan biasa atau bahkan jamet kabupaten. Menurut mereka, selera musik adalah simbol perbedaan "kelas sosial", jadi mereka memutuskan untuk banting setir menjadi haters. Selain itu, banyak juga haters yang latar belakangnya ialah mantan fans Killing Me Inside, yang kecewa karena Sansan memutuskan keluar dari KMI dan lebih memilih PWG.
Di situlah akhirnya muncul apa yang dulu kita kenal dengan Anti Pee Wee Gaskins (APWG). Anggota komunitasnya di fanpage Facebook dulu sampai ribuan dan tiap harinya tak pernah kehabisan bahan untuk menggunjing PWG. Setiap PWG merilis lagu, mereka jadi pendengar nomor satu. Setiap ada konser PWG, mereka rela datang dengan kaos sablon khusus bertuliskan “APWG Dogs” sambil membawa alat tempur berupa sandal, ember, sampai es cekek untuk dilemparkan ke arah panggung. Sangat brutal.
Kapan lagi coba kita bisa melihat fenomena aneh di mana ada paguyuban haters yang jauh lebih effort daripada fans-nya sendiri?
Ilmu keuangan yang diajarkan Papa nya dr Tirta ke dirinya:
"Kalau sudah beli mobil, ya sudah, harus dipelihara sampai rusak. Dan kalau dapat duit itu investment nya cuma tiga, deposito, asset properti, atau bisnis lagi, udah itu yang diajarkan papaku semua.
Jadi makanya privilege tertinggi ku itu menurutku adalah kedua orang tuaku yang memiliki ilmu keuangan diatas rata-rata.
Dan aku baru punya kartu kredit diumur aku 25. Kenapa? Ya papahku ngajarin, kamu boleh kredit kalo kamu udah ngerasain kredit itu seperti apa. Karena bapaku itu direktur bank perkreditan rakyat. Jangan kredit demi konsumtif kalo gaya hidupmu ga sesuai.
Kreditlah karena kamu bertujuan untuk menunda payment bukan karna gaya hidup. Jadi krtu kredit itu kan sebenernya kita bisa menunda payroll, kita beli sekarang, dibayar bulan depan, itu akan bagus kalau digunakan utk kegiatan yang bermanfaat. Nah itu yg diajarin papahku. Kalo kamu belum di level itu, ngga usah punya kartu kredit."
Ingat dulu KKN PPM UGM di Pantai Cemoro Sewu, Bantul bawa program Solar Water Pumping System (SWPS) karena dosen pembina KKN dari Pusat Studi Energi.
Selama bersama warga, kami sosialisasi sekaligus mengumpulkan timbal balik. Kami terima di antaranya masukan untuk pembuatan pompa tenaga gravitasi, gitu istilah mereka, dengan dana KKN kami.
Dalam imajinasi, pemuda setempat menjelaskan, jadi pakai galon berisi air sebagai pancingan tekanan. Galon itu keluarkan isi air akibat gravitasi, tapi di ujung bukaan lain disediakan lubang selang ke arah sumur. Nanti air galon perlahan akan habis karena keluar, tapi secara bersamaan air sumur akan dihisap masuk ke dalam galon.
Begitu seterusnya selamanya, pompa gratis tanpa tenaga listrik.
Masalah pengairan di daerah itu mendesak untuk pertanian, makanya ini adalah masalah yg dekat buat kehidupan. Dan mereka ingin sekali menemukan solusi hingga sampai ke eksperimen dalam kepala seperti itu.
Hanya butuh semalam buat kami mahasiswa teknik kala itu berdiskusi dan sampai ke kesimpulan, “itu menyalahi hukum kekekalan energi serta prinsip entropi dalam termodinamika”.
Energi potensial air yang keluar dari galon tidak dapat secara neto mengangkat air dari sumur secara berkelanjutan, apalagi dengan adanya kerugian akibat gesekan dan ketidaksempurnaan sistem.
Masyarakat kita itu tahu apa masalahnya tapi pendekatan dan pengetahuannya terhadap solusi teknis masih terbatas. Hal ini menunjukkan pentingnya pemahaman yang lebih kuat tentang hukum dasar alam melalui pengujian empiris. Ga heran kalau ide-ide kreatif seperti ini kadang muncul tanpa sempat diuji konsistensinya dengan prinsip fisika.
Meski sepakat “teori” mereka ini menyalahi Fisika, kami tidak begitu tega menyampaikan kebenaran. Karena seharusnya yg bisa mengoreksi adalah Guru dan Sekolah setempat.
Di sisi lain ini adalah cerminan tantangan kualitas pendidikan Fisika di daerah tersebut. Selain minim fasilitas mungkin juga tidak pernah ada eksperimen untuk membantah ide-ide liar di kepala.
Daripada membenahi kualitas dan kesejahteraan Guru, lebih baik ganti nama kurikulum dan bagi-bagi makanan kan? Toh ga ada yg lebih genting dari perut lapar.
"Suatu saat, di kelak kemudian hari, kekayaan yang ada di segelintir orang akan pelan-pelan menetes ke bawah"
Yang disebut Prabowo itu, dikenal sebagai trickle-down effect: salah satu ilusi ekonomi terbesar dalam sejarah kapitalisme modern.
Secara sederhana, ini adalah keyakinan bahwa kalau kelompok kaya dibiarkan makin kaya, diberi ruang akumulasi lebih besar, diberi insentif, atau dilindungi kepentingannya, maka pada akhirnya kekayaan itu akan “menetes” ke masyarakat bawah lewat investasi, lapangan kerja, dan pertumbuhan ekonomi.
Masalahnya, sejarah membuktikan bahwa teori ini sangat jauh dari kenyataan. kekayaan tidak otomatis menetes, yang terjadi justru kekayaan justru mengendap, berputar di lingkaran yang sama, lalu berubah menjadi kekuasaan politik.
Bahkan IMF sendiri pernah menunjukkan bahwa ketika porsi pendapatan kelompok terkaya naik, pertumbuhan malah justru cenderung melemah, sama halnya yang terjadi di Indonesia.
Pendeknya, trickle-down economics adalah dongeng paling sukses yang pernah dijual elite kepada rakyat miskin.
Dan dia adalah bagian dari elite yang menjual dongeng itu.
🟢 Tutorial membuat sticker Whatsapp bergerak 🟢
1. Unduh dan buka aplikasi https://t.co/b4X5QS2k4U di ponsel Anda (tersedia untuk Android dan iOS).
2. Masuk menggunakan akun Google atau Apple Anda.
3. Ketuk ikon "+" (Tambah) di bagian bawah layar, lalu pilih opsi "Animated" (Animasi/Video).
4. Pilih video yang ingin Anda jadikan stiker dari galeri HP Anda.
5. Potong durasi video agar tidak terlalu panjang (idealnya 1-3 detik saja).
6. Tambahkan teks, emoji, atau hiasan lain jika diperlukan, lalu ketuk "Next" (Selanjutnya).
7. Buat paket stiker baru dan beri nama pak tersebut.
8. Ketuk "Add to WhatsApp" (Tambahkan ke WhatsApp). Stiker Anda kini siap digunakan!
Di abad ke 19, ada satu wilayah di Pulau Sumatera yang bikin Belanda frustrasi bukan kepalang.
Bukan karena wilayah itu kaya raya.
Bukan karena pasukannya besar.
Tapi karena ada satu orang di sana yang tidak pernah bisa dibeli, ditipu, atau dihancurkan.
Namanya: Sisingamangaraja XII.
Dan ini adalah ceritanya.
Utas panjang. Siapkan minuman dulu. ☕
Bagaimana kalau kita hidupkan lagi kerajaan-kerajaan Nusantara.
Sebuah caption dari video di bawah untuk sekedar bahan diskusi.
Udah muak banget ga sih liat pemerintahan sekarang, bener-bener gak ada penyeimbang, pejabatnya kebanyakan memperkaya diri, semua lembaga negara gak ada yg gak korupsi.
Opsi berikut layak utk dipertimbangkan.
Sc. IG fubidon
BEM yang itu ngaku dibayar 300juta.
Ibu-ibu ngaku dibayar 100ribu dan dapat panci.
Terus kita bisa apa?
Lapor kemana?
Audit itu dana dari siapa?
harus minta tolong kemana?
Kita udah dikasih pengakuan,
tapi seperti biasa hanya bisa diam.
Mau sampe kapan?
Pas Mbak Dian Sastro nyebut channel Predictive History (Profesor Jiang) waktu podcast sama Raditya Dika, gue langsung pengen cek.
Terus gue buka cek videonya yang Game Theory #3: Rich Dad, Poor Dad.
Gila, otak gue kayak kena reboot setelah nonton. Dia breakdown pake logika Game Theory kenapa yang kaya makin tajir terus, sementara yang miskin susah banget naik kelas. Bukan cuma ngomong doang.
Dear Istriku... aku gak tergoda sama
pelakor. Tapi jujur, aku butuh ini darimu
1. Pelakor itu menang bukan di wajah.
Aku gak butuh yang lebih cantik dari kamu,
Bun. Pelakor menang karena bikin suami
ngerasa dihargai. Itu aja. Hargain aku lagi,
dan gak ada yang bisa ngalahin kamu.
2. Aku butuh disambut, bukan disaingin
sama HP.
Capek kerja seharian, yang aku cari pas buka
pintu itu senyum kamu bukan layar HP
yang lebih sering kamu tatap daripada aku.
3. Aku punya kebutuhan, dan aku mau itu
dari kamu.
Aku gak munafik. Sentuhan kecil dari kamu,
pelukan dari belakang, isyarat kalau kamu
masih pengen aku itu jauh lebih nendang
daripada godaan siapa pun di luar sana.
4. Aku butuh ngerasa jadi jagoan.
Di luar, aku sering diremehin orang. Di
rumah, aku cuma pengen satu orang yang
bikin aku ngerasa hebat. Cuma kamu yang
bisa kasih itu, Bun.
Pria yang sudah menikah selalu
diukur dari bagaimana sikap istrinya
di depan umum.
Jika istrinya berisik, suka berdebat,
dan tidak tahu tata krama; dunia
kehilangan respect pada suaminya.
Jika ia lembut, feminim, dan penuh
rasa syukur; dunia menaruh respect
pada suaminya.
Karakter melampaui kecantikan.
Pilihlah istrimu dengan penuh kebijakan.
Anak tetanggaku nggak ikut les apapun.
Nggak les matematika. Nggak les Inggris.
Nggak les coding. Umur 10 tahun.
Sepulang sekolah main.
Ibu-ibu komplek sudah lama geleng-geleng.
Di grup WhatsApp komplek, topiknya selalu sama. Anakku baru mulai les piano. Anakku ranking 1 lagi, Alhamdulillah. Anakku ikut olimpiade sains minggu depan. Ibunya si anak itu diam saja. Nggak pernah posting apapun.
Arisan komplek bulan lalu.
Seorang ibu nyeletuk langsung ke dia:
Nggak khawatir?
Anak sekarang kalau nggak diasah dari kecil,
nanti ketinggalan.
Ibunya senyum. Di asah kok. Tapi caranya beda. Di asah gimana? Les apa? Bukan les. Aku ajak dia ngobrol setiap malam. Beberapa ibu saling pandang.
Ngobrol doang? Iya. Tentang apapun yang dia mau ceritain hari itu. Aku nggak boleh pegang HP waktu dia ngobrol. Aturannya cuma itu. Ruangan mulai senyap.
Terus anaknya nggak ketinggalan pelajaran? Kemarin gurunya nelpon. Semua menunggu. Pasti ada masalah, pikir mereka.
Gurunya bilang, anakku satu-satunya murid yang kalau ada teman kesulitan dia yang pertama nawarin bantuan. Bukan karena disuruh. Tapi karena dia mau. Gurunya bilang itu langka sekarang. Satu meja. Senyap.
Ibu yang tadi nanya anaknya ikut 4 les sekaligus. Senin matematika. Rabu Inggris. Jumat coding. Sabtu piano. Minggu lalu anaknya nangis di mobil sepulang les. Bilang capek. Bilang nggak mau sekolah lagi. Dia nggak cerita itu di grup.
Yang paling membekas adalah ini. Aku tanya ke ibunya setelah arisan bubar: Bu, nggak takut anak ibu nggak bisa bersaing nanti?
Dia jawab pelan: Aku lebih takut anakku bisa bersaing — tapi nggak tahu caranya berteman. Bisa juara — tapi nggak tahu caranya mendengarkan orang lain. Pintar — tapi kesepian. Itu yang aku takuti. Bukan nilai rapornya.
Aku pulang arisan. Anakku lagi hafalan perkalian untuk persiapan les besok. Aku tanya: Hari ini gimana, Nak? Dia jawab nggak sambil liat aku. Fokus ke buku. Aku nggak ingat kapan terakhir kali dia cerita sesuatu ke aku dengan mata berbinar.
Ibu itu nggak anti les. Nggak anti prestasi. Dia cuma nggak mau anaknya tumbuh jadi orang yang bisa segalanya - tapi nggak punya siapapun untuk diajak berbagi. Dan malam itu aku sadar - aku sibuk membentuk anakku jadi juara. Tapi lupa nanya: juara di mata siapa?
cc:threadlilydes2026