Izin berpendapat, setuju ga setuju rapopo.
Pinter tok kurang lengkap kalo ga banyak nongkrong.
Banyak nongkrong, banyak pov baru, banyak dengerin hal baru, banyak ide.
Setiap manusia punya “echo chamber” nya masing2, sampe di tongkrongan tau “oh jebul ngene”
Pandji Pragiwaksono mengubah panggung komedi tunggal menjadi kritik politik. Tajam, kena, cerkas.
#TempoPlus terbit setiap hari dalam bentuk digital. Baca di https://t.co/chrGx95TgD atau https://t.co/lSdKqIkLbv.
#TempoPlus
Saya rasa bangsa yang besar tidak perlu kebakaran jenggot dengan Oxford — dengan marah menuntutnya untuk mengakui peneliti Indonesia. Tanggung jawab kita sebagai peneliti, dan masyarakt untuk mengangkat derajat bangsa sendiri: membedah, mendiseminasi dan menarasikan epistemologi Yogyakarta, Sunda, Bugis, Ternate dan banyak lagi - ke muka dunia.
Science adalah mata uang diplomacy and as Zhou En Lai suggested, diplomacy is a battlefield.
Chronicles mencoba mencari tahu ilmuwan-ilmuwan Indonesia dibalik Wallace, Rumphius, Raffles. Science is not just facts, its narrated. https://t.co/rcCHykxbfy
PBNU itu contoh elit-elit ormas agama yang sibuk jadi mesin politik kekuasaan.
Alih-alih memperkuat umat, mereka hidup dari menempel dan memperkuat rezim demi rezim. Lalu saling berebut remah-remahan.
Anak-anak muda NU yang sudah lama gelisah dan muak, perlu melakukan sesuatu.
Orang cerdas bisa menjelaskan sesuatu dengan sederhana. Orang malas minta segala sesuatu dijelaskan dengan sederhana.
Kesederhanaan yang dimaksud Einstein adalah dalam konteks teori yang tidak dicemari oleh koefisien koefisien ad hoc, yang bisa “menjelaskan” fenomena fisik tanpa harus dikalibrasi terus menerus.
Kesederhanaan yang dimaksud adalah yang lahir dari proses yang panjang setelah menguasai hal yang rumit. Bukan dari kenaifan, bukan dari sentimen moral bahwa yang sederhana, polos, kekanak-kanakan adalah yang adiluhung.
Kesederhanaan yang mengorbankan akurasi (dan oleh karenannya akuntabilitas) adalah jalan masuk populisme dan kediktatoran.
Strive for the complex. Do not assume people are stupid. Chances are they’re probably smarter than you.
“Yang penting kerja, bukan teori.”
Mungkin ini adalah racun pemikiran terbesar dalam cara berpikir bangsa kita. Sebuah pernyataan paling bodoh yang diucapkan dengan kesombongan moral yang terselubung.
Dua hal yang hanya dimiliki Homo sapiens: dagu, dan kemampuan berteori.
kemampuan berteori (membentuk model mental abstrak untuk menjelaskan realita dan memprediksi masa depan) adalah ciri khas evolusi kognitif Homo sapiens.
No great nation despise theory. Ketika ada pandemi, bencana, atau anything unpredictable, the first thing a great nation does is to build “models” - turning uncertainty into foresight, and chaos into governance. We on the other hand confuse improvisation with progress. Gali sumur panas bumi, gagal, gali lagi, repeat.
Skeptisisme akan kemampuan berteori adalah peninggalan kolonialisme yang diinternalisasi:
Teori adalah milik barat (maka jahat), kerja itu takdir pribumi (maka baik).
Pikiran ini mencemari ruh perguruan tinggi; Itulah mengapa sangat sedikit, kalaupun ada, penulis Indonesia yang memiliki ekspertis/menulis buku/berteori tentang negara lain. Tapi banyak sekali penulis asing berteori tentang Indonesia.