Lo baru sadar HPnya ilang, langsung buka Find My Device lewat laptop.
Last seen 5 jam lalu di Stasiun Gambir. Abis itu? Udah.
Nggak gerak lagi. Langsung offline.
Si maling langsung matiin internet biar ga ke trace. Itu cara jadul.
Dulu sampe situ doang.
Sekarang? Nggak lagi.
Yg tetap kerja pd hari libur nasional berhak atas upah lembur (2x upah/jam hingga jam ke-8, 3x upah/jam pd jam ke-9, 4x upah/jam pd jam ke-10 dst) & ga boleh diganti hari libur.
Ada tanggung jawab yang datang untuk memperlihatkan seberapa luas pundakmu sebenarnya.
Tekanan sering terasa berat, dimana seolah hidup sedang meminta terlalu banyak.
Padahal justru karena langit tahu ada kapasitas besar yang dititipkan di dalam dirimu.
Mungkin hari ini kamu belum melihatnya. Mungkin kamu masih merasa goyah. Tapi belum sadar, bukan berarti tidak punya.
Pressure is privilege.
Sebab tidak semua orang dipercayai memikul hal yang besar. Tidak semua orang diberi ruang untuk bertumbuh lewat beban yang besar.
Dan Allah sudah lebih dulu menenangkan hati kita:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
QS. Al-Baqarah 2:286.
Tarik napas dalam. Tenangkan hati. Jalani pelan-pelan.
Kamu tidak dipilih untuk ini tanpa kemampuan.
Kamu Son Goku yang belum tau bisa jadi Super Saiya 1, 2, dan 3.
Kenapa rape jokes & obrolan yg melecehkan GA BOLEH walaupun di trongkrongan inti?
1. Menormalisasi kekerasan seksual
2. Membentuk cara berfikir, awal nya sekedar obrolan, lama-lama itu bisa jadi kebiasaan ketika memandang perempuan
3. Mengobjektifikasi perempuan
4. Echo chamber
Ini lah kenapa pas pemilu jangan pada bego. Kalau ada yg bilang coblos siapa aja ga ngaruh di hidupnya, itu cuma belum. Cepat atau lambat, kalau pemerintahannya bobrok ya lu pasti ngerasain beratnya hidup.
Jadi, mulai lah melek politik wahai semuanya. Jangan sampai lo ga milih!
Guys Feri Amsari baru saja bilang sesuatu yang perlu lebih banyak orang Indonesia dengar soal Board of Peace.
Dan ini bukan soal perasaan pro Palestina atau pro Amerika.
Ini soal hukum yang sangat konkret.
Indonesia join Board of Peace tanpa persetujuan DPR.
Pasal 11 Undang-Undang Dasar sudah sangat jelas. Presiden mau buat perjanjian soal perang, perdamaian, atau perjanjian internasional apapun harus minta persetujuan DPR dulu sebelum pergi.
Dan setelah pulang — harus diratifikasi DPR dalam bentuk undang-undang.
Dua-duanya tidak dilakukan.
DPR mengaku masih reses.
Sementara Presiden sudah tanda tangan.
Sudah komitmen kirim 8.000 prajurit TNI ke Gaza. Dan belum ada penjelasan yang jelas soal apa manfaatnya bagi Indonesia.
Feri bilang ini bukan pertama kali.
Hari pertama kabinet dilantik saja Seskab Teddy dilantik tanpa berhenti dari TNI aktif.
Padahal undang-undang TNI tidak mencantumkan sekretaris kabinet sebagai jabatan sipil yang boleh diisi TNI aktif.
Hari pertama sudah langgar undang-undang.
Jadi ini bukan anomali.
Ini pola.
Dan soal 8.000 prajurit yang mau dikirim ini yang paling gw catat dari Feri.
Palestina sendiri sudah bilang jangan kirim pasukan. Tapi Indonesia tetap jalan. Untuk apa? Feri khawatir prajurit kita dijadikan pasukan darat tameng kepentingan Amerika dan Israel sementara perangnya sendiri sudah pakai drone dan teknologi. Yang kena duluan justru manusia di lapangan.
Dan biayanya pakai uang siapa? Nyawanya milik siapa?
Soal argumen ekonomi yang sering dipakai untuk membela keputusan join BOP bahwa kita bisa dapat tarif 0 persen dari Amerika Feri kasih konteks yang menarik.
Mahkamah Agung Amerika sendiri sudah putuskan bahwa Trump tidak boleh tentukan tarif dagang tanpa persetujuan Senat. Artinya tarif yang dijanjikan itu fondasinya sudah digugurkan pengadilan tertinggi Amerika. Dan Trump tetap jalan seenaknya.
Jadi kita berikan konstitusi kita untuk perjanjian dengan orang yang pengadilannya sendiri bilang dia tidak berwenang buat perjanjian itu.
Feri simpulkan dengan satu kalimat yang gw rasa paling jujur.
Ini adalah hari yang gelap untuk konstitusi bangsa ini.
Bukan karena Indonesia tidak boleh punya kepentingan ekonomi. Bukan karena bergaul dengan Amerika itu salah. Tapi karena ketika Presiden sendiri tidak patuh pada konstitusinya dan tidak ada yang bisa mengawasi karena DPR koalisinya satu suara yang hilang bukan cuma prosedur.
Yang hilang adalah jaminan bahwa keputusan sebesar ini yang menyangkut nyawa prajurit dan posisi Indonesia di dunia diambil dengan akuntabilitas yang seharusnya.
Guys gw mau cerita tentang sesuatu yang jarang dibahas secara serius.
BJ Habibie menjabat presiden cuma 17 bulan.
Dan banyak orang mengenang dia cuma sebagai ilmuwan pesawat terbang yang romantis sama Ainun.
Padahal dia melakukan sesuatu yang secara ekonomi hampir tidak masuk akal.
Waktu Habibie naik jadi presiden Mei 1998 kondisi Indonesia sudah dalam kondisi kritis total.
Rupiah di angka Rp16.800 per dolar.
Seperempat rakyat Indonesia di bawah garis kemiskinan.
Bank-bank kolaps.
Orang antri panjang untuk tarik uang karena takut banknya tutup besok.
Perusahaan-perusahaan bangkrut karena utang dolarnya tiba-tiba membengkak seiring rupiah jatuh.
Dan dunia internasional tidak percaya sama Indonesia sama sekali.
Dalam 17 bulan Habibie balik rupiah dari Rp16.800 ke Rp7.000-an.
Hampir setengahnya.
Dalam waktu kurang dari dua tahun.
Gimana caranya?
Pertama dia beresin perbankan duluan.
Karena dia paham tidak ada kepercayaan ekonomi yang bisa dibangun kalau sistemnya sakit.
Bank-bank yang masih bisa diselamatkan direstrukturisasi.
Yang sudah terlalu parah ditutup.
Dan dari proses ini lahir Bank Mandiri gabungan empat bank pemerintah bermasalah yang sekarang jadi salah satu bank terbesar Indonesia.
BCA juga diselamatkan di era ini sebelum akhirnya dibeli konsorsium yang di dalamnya ada Grup Djarum.
Kedua dia pisahkan Bank Indonesia dari pemerintah. Ini krusial.
Karena selama BI masih bisa disetir presiden investor asing tidak akan percaya bahwa kebijakan moneter Indonesia itu serius dan independen.
Habibie undangkan itu tahun 1999.
Untuk pertama kali dalam sejarah Indonesia bank sentral benar-benar independen secara hukum.
Ketiga dia negosiasi dengan IMF dan dapat pinjaman 43 miliar dolar.
Tapi yang menarik dia tidak sepenuhnya nurut sama IMF.
IMF minta subsidi BBM dan listrik dicabut. Habibie menolak tegas.
Alasannya sederhana di tengah krisis yang sudah sepedas ini, kalau subsidi dicabut sekarang yang hancur adalah daya beli rakyat paling bawah. Dan tanpa daya beli ekonomi tidak akan pulih dari akar rumput.
Itu keputusan yang butuh nyali. Karena menolak syarat IMF waktu itu bukan hal yang gampang secara politik.
Keempat dia stabilkan politik.
Karena investor asing tidak akan masuk ke negara yang kondisi politiknya kacau. Habibie bebasan pers. Izinkan pemilu 1999. Lahirkan undang-undang partai politik yang mengakhiri monopoli Golkar selama 32 tahun.
Dan kelima dia selamatkan sektor swasta strategis. Astra hampir kolaps waktu itu karena beban utang dolar yang membengkak. Sinar Mas juga sama. Habibie intervensi lewat BPPN dan program restrukturisasi utang. Perusahaan-perusahaan itu berhasil diselamatkan dan sekarang masih jadi pemain besar di ekonomi Indonesia.
Dan utang IMF yang dia ambil itu lunas lebih cepat dari jadwal. Dilunasi di era SBY tahun 2006.
Gw cerita ini bukan untuk nostalgia.
Tapi karena sekarang rupiah lagi di Rp17.000-an. Defisit APBN hampir jebol. Harga minyak naik karena perang Iran. Dan banyak orang bingung mau pegang apa.
Habibie membuktikan bahwa kondisi yang kelihatannya tidak mungkin diperbaiki bisa diperbaiki. Tapi dengan syarat keputusannya diambil berdasarkan data dan logika. Bukan gengsi. Bukan pencitraan. Bukan ketakutan dikritik.
Dan yang paling penting dia tahu mana yang harus diselesaikan duluan sebelum yang lain.
Guys Seskab Teddy baru bilang pemerintah tidak akan biarkan rakyat hadapi kesulitan sendiri.
Negara hadir.
Negara bekerja.
Negara berpihak kepada rakyat.
Gw tidak mau debat niatnya.
Gw mau debat faktanya.
Karena di hari yang sama minggu yang sama pernyataan itu keluar ini yang terjadi di lapangan.
Transfer ke daerah dipotong dari 30 persen jadi 17 persen.
Hampir setengahnya hilang.
Yang kena langsung adalah anggaran pendidikan dan kesehatan di daerah.
Jusuf Kalla sendiri yang bilang ini berbahaya.
Anggaran pendidikan nasional dipotong dalam skema efisiensi.
Bukan anggaran perjalanan dinas pejabat yang dipotong duluan.
Bukan pengadaan kendaraan dinas.
Tapi pendidikan.
Subsidi BBM mau dibikin tepat sasaran di saat harga minyak dunia sedang di titik tertinggi.
Timing paling buruk untuk kebijakan yang memang perlu dilakukan tapi tidak perlu dilakukan sekarang.
Koperasi merah putih 7 bulan masih minus.
Solusinya bukan evaluasi model bisnis tapi larang Indomaret dan Alfamart buka cabang baru.
MBG masih jalan dengan anggaran puluhan triliun. Tapi belanja makanannya cuma Rp242 miliar paling kecil dari semua pos.
Kendaraannya Rp1,39 triliun.
Dan Danantara baru mau terbitkan surat utang Rp7 triliun dengan bunga 2% di bawah deposito bank mana saja.
Teddy bilang sudah renovasi 16.000 sekolah dan toilet.
Sudah bangun 218 jembatan gantung.
Itu bagus.
Sungguh bagus.
Tidak ada yang menyangkal itu.
Tapi Gen Z kek gw yang Teddy maksud itu bukan tidak tahu berterima kasih atas jembatan gantung.
Mereka tahu bahwa jembatan gantung dan toilet sekolah tidak bisa menjawab pertanyaan yang lebih besar.
Kenapa lulusan sarjana masih jadi driver ojol karena industrinya tidak ada yang menyerap?
Kenapa kelas menengah turun 9,5 juta orang dalam 5 tahun?
Kenapa pegadaian dan pinjol omzetnya meledak tanda orang sudah makan tabungan?
Kenapa di tengah semua tekanan ini yang dipotong justru yang langsung menyentuh rakyat?
Kami tidak butuh pernyataan yang menenangkan hati.
Kami butuh kebijakan yang angkanya masuk akal. Prioritas yang logis.
Negara hadir itu bukan slogan.
Itu dibuktikan dengan keputusan yang dibuat ketika kondisi sedang paling berat.
Dan keputusan itu yang sekarang sedang kami tunggu.
Sumber: Liputan 6
🚨 Pernyataan Sikap Kami atas Video ini 🚨
Kawan-kawan, Handai Tolan. Coba perhatikan mulai dari menit 5:41. Kacau ini presiden. Mental dendamnya kentel banget. Kemampuannya dalam mencerna kritik sangat buruk. Amat sangat buruk.
"Berarti kamu butuh MBG ya? Soalnya katanya MBG gak penting. Banyak orang-orang pintar di Jakarta yang bilang kalau MBG gak penting. Buang-buang anggaran."
Woy, Gendut. Kalau sedari awal 'blueprint' MBG itu menyasar anak-anak sekolah yang nasibnya seperti Yamisa, KAMI JAMIN, gelombang kritik dan protes ngga akan semasif seperti sekarang. Nilai gizi perporsi bakalan lebih bagus, anggaran yang dipakai juga nggak bakalan setekor sekarang.
Masalahnya adalah, den, presiden, MBG udah berjalan setahun lebih, sektor yang dikorbankan sudah banyak, anggaran udah kebuang triliunan rupiah, tapi pendistribusiannya masih sangat carut marut. Masih banyak siswa/i kayak Yamisa yang belum kebagian, tapi di lain sisi siswa/i yang ortunya mampu, yang biaya SPP sekolahnya ada di level menengah sampai mahal, malah kebagian, dan bentuk menu yang disajikan terkesan melecehkan kemampuan ekonomi mereka.
Mosok koyok ngono rak paham sih, Ndut?
Tolong hentikan narasi dan berbicara pada khalayak publik perihal banyak orang pintar yang menolak MBG. Tidak ada yang menolak MBG apabila program ini berlandaskan kajian dan riset yang kuat, roadmap yang mateng, dan target kategori penerima manfaat yang sangat jelas. Dengan terus-menerus menarasikan kritik terhadap MBG sebagai bentuk penolakan, maka bukan tidak mungkin kalau kami mengecap presiden sebagai dalang konflik warga vs warga, rakyat vs rakyat.
"Ya kan untuk bisa merata kami perlu waktu."
Alah, omong kosong. Kalau pelaksana program sedari awal mau untuk melakukan riset yang lebih dalam terlebih dahulu, mengizinkan para ahli untuk turut terlibat, waktu dan biaya tidak akan banyak terbuang seperti sekarang. Dan tidak akan ada anak-anak sekolah seperti Yamisa, yang terlambat mendapatkan haknya.