Marcas de televisores que no deberías comprar: [Última versión 2026]
🥉 Aceptables
· Xiaomi (panel correcto, software limitado fuera de su ecosistema)
· TCL (buena entrada de precio, brillo bajo en salones luminosos)
· Hisense (mejora cada año, pero el procesado de imagen sigue por detrás)
· Toshiba (gama básica, suficiente para uso ocasional)
· JVC (marca con nombre pero hardware genérico actual)
🥈 Normales ↓↓
TEST!!!
.
ada 300k buat 3 orang winners @100k each
Boleh bt top up token listrik
Boleh bt beli gas
Boleh bt beli beras
Boleh bt beli minyak goreng, bensin asal bkn perfumes
Boleh bt bl lauk dan gorengan
Jgn bt judol dan maksiat!
End tonight, malem minggu
Good luck everyone
Like Repost and comments
Guys, ada satu nama yang menurut gue paling banyak menimbulkan pertanyaan dari semua orang yang paham sistem militer Indonesia.
Bukan nama jenderal bintang empat.
Bukan nama menteri senior.
Bukan nama tokoh yang sudah puluhan tahun mengabdi.
Namanya Teddy Indra Wijaya.
Letkol. Baru 14 tahun dinas.
Dan dia mungkin pejabat paling berpengaruh di sekitar Presiden Prabowo saat ini.
Dan ini faktanya angka demi angka:
Teddy lulus Akademi Militer 2011.
Artinya pada tahun 2025
dia baru 14 tahun berdinas.
Di usia dinas 14 tahun itu
dia menerima Bintang Mahaputra Utama.
Sebuah penghargaan negara tertinggi.
Dan ini yang membuat seluruh komunitas militer tergeleng-geleng:
Untuk sampai ke Bintang Mahaputra seseorang normalnya harus melewati sekitar 15 tingkatan penghargaan secara berurutan:
Satya Lencana Kesetiaan 8 tahun belum punya. Satya Lencana 16 tahun belum punya.
Satya Lencana 24 tahun belum punya.
Satya Lencana 30 tahun belum punya.
Bintang Kartika Eka Paksi Nararia belum.
Pratama belum.
Utama belum.
Bintang Yuda Dharma Nararia belum.
Pratama belum.
Utama belum.
Bintang Dharma belum.
Bintang Mahaputra Nararia belum.
Pratama belum.
Dan Teddy langsung dapat Bintang Mahaputra Utama.
Melompati 15 tingkatan sekaligus.
Dalam 14 tahun dinas.
Dan bandingkan dengan yang lain:
Panglima TNI bintang empat
belum dapat Bintang Mahaputra.
Wakil Panglima TNI bintang empat belum dapat.
Tiga Kepala Staf Angkatan semuanya bintang empat belum dapat.
Mereka yang sudah berdinas 33-37 tahun.
Yang sudah memimpin pasukan di berbagai operasi.
Yang sudah menanggung tanggung jawab strategis negara selama puluhan tahun.
Belum dapat.
Teddy 14 tahun dinas, pangkat Letkol sudah dapat.
Dan bukan hanya dapat tapi dapat yang Utama.
Dan ini karir Teddy yang perlu diketahui:
Dari Akademi Militer langsung menjadi ajudan.
Dari ajudan ke ajudan.
Tidak pernah menjadi komandan kompi.
Tidak pernah bertugas di daerah operasi.
Tidak pernah ditugaskan ke Papua atau perbatasan. Kulitnya kata para senior TNI masih terlalu bersih untuk seorang perwira tempur.
Di era Wismoyo Aris Munandar sebagai Kasdam Udayana ada seorang komandan batalion yang kulitnya dinilai terlalu bersih.
Langsung dikirim ke Timor Timur dulu.
"Tunggu kulitmu gosong baru saya berangkatkan."
Teddy tidak pernah melewati proses itu.
Dan jabatannya sekarang:
Sekretaris Kabinet.
Dan ini yang aneh secara struktural Seskab yang seharusnya minimal setingkat eselon 1 atau setingkat menteri di era Prabowo menjadi eselon 2.
Dijabat oleh seorang Letkol.
Artinya secara struktural Teddy berada di bawah Sekretaris Negara dan Sekretaris Militer.
Tapi kenyataannya di lapangan Menko-menko yang bintang empat dan setingkat menteri senior tidak bisa bertemu presiden karena harus melalui filter yang ada di sekitar presiden.
Dan nama yang paling sering disebut sebagai filter itu adalah Teddy.
Dan ini yang paling mengkhawatirkan dari seluruh situasi ini:
Doktor Selamat Ginting profesor ilmu politik yang karya akademisnya seluruhnya tentang hubungan sipil-militer bilang dengan sangat tegas:
"Sebenarnya agak rawan kalau komunikasi presiden hanya melalui satu filter seorang Teddy Indra Wijaya.
Menko-menko, pejabat setingkat menteri sudah setahun lebih ada yang belum pernah bertemu presiden. Berarti ada masalah."
Dan dia menambahkan perbandingan yang paling mengerikan:
"Presiden Soeharto juga merasa tidak apa-apa. Sudah diingatkan oleh akademisi, oleh orang kritis soal krisis ekonomi.
Tapi Soeharto tetap berangkat ke Mesir.
Begitu pulang kondisinya sudah seperti itu.
Saya tidak mau Presiden Prabowo mengalami hal yang sama."
Dan soal Bintang Mahaputra yang diterima Teddy bersamaan dengan Mayor Jenderal Syamsudin:
Mayor Jenderal Syamsudin adalah purnawirawan yang sudah puluhan tahun mengabdi.
Lulusan Akademi Militer 1959. Pensiun 1992.
Pernah membebaskan sandera dari OPM hanya dengan ajudannya tanpa menembakkan satu peluru pun.
Menyerahkan pistolnya sendiri sebagai gestur perdamaian.
Keberanian yang seharusnya sudah mendapat Bintang Sakti dari dulu.
Dan baru diakui sekarang setelah puluhan tahun.
Tapi dalam upacara yang sama
Teddy yang baru 14 tahun dinas dan 3 tahun saat Syamsudin pensiun menerima penghargaan yang sama.
"Ini ketidakadilan yang sangat nyata."
Dan soal Gibran ini yang belum banyak disorot:
Seorang wakil presiden secara otomatis mendapat 17 bintang tanda jasa negara.
Gibran Rakabuming usia 37 tahun, baru sebentar jadi walikota, belum ada rekam jejak pengabdian panjang secara otomatis sudah punya 17 bintang.
Sementara jenderal bintang empat yang sudah 35 tahun mengabdi belum dapat satu pun.
Sistemnya memang sedang diobrak-abrik.
Dan ini pertanyaan yang paling fundamental:
Apa yang istimewa dari Teddy?
Apa prestasi luar biasa yang membuat dia layak melewati 15 tingkatan penghargaan dalam 14 tahun dinas?
Negara belum pernah menjelaskan.
Tidak ada buku biografi yang diverifikasi sejarawan.
Tidak ada karya ilmiah tentang dirinya.
Tidak ada rekam jejak operasi lapangan yang bisa diverifikasi publik.
Yang ada hanya satu hal:
kedekatan dengan presiden.
Dan kedekatan dengan presiden bukan prestasi pengabdian seharusnya tidak pernah menjadi dasar penghargaan tertinggi negara.
Bintang Mahaputra bukan sekadar lencana.
Itu adalah simbol pengakuan negara atas pengabdian luar biasa yang sudah teruji oleh waktu, oleh medan, oleh tanggung jawab yang nyata.
Ketika simbol itu diberikan kepada orang yang belum melewati satu pun dari 15 tahapan yang seharusnya bukan hanya Teddy yang dirugikan.
Yang dirugikan adalah semua orang yang sudah melewati semua tahapan itu dengan jujur.
Dan yang paling dirugikan adalah presiden itu sendiri. Karena setiap penghargaan yang kehilangan legitimasi moralnya akan menghantui pemberi penghargaan jauh lebih lama dari yang menerimanya.
"Jangan karena seorang Teddy semua kepangkatan, jabatan, pemberian bintang, tanda jasa diacak-acak semua."
Jika seseorang pernah mengaku terlibat dalam penculikan lebih dari 23 aktivis dan beberapa diantaranya hilang/tewas, lalu berdalih itu perintah atasan. Kemudian saat proses hukum hendak berjalan justru lari dari tanggung jawab dan kabur ke luar negeri.
Maka ketika bertahun-tahun kemudian orang yang sama tersebut berkata, “Saya akan bertanggung jawab jika…”
Apakah kalian masih akan tetap percaya?
gue mau cerita sesuatu yang kejadian kemarin sore waktu gue lagi cek kosan ibu gue di Rawamangun.
sebenernya iseng aja. rutin. nggak ada yang gue rencanain.
tapi pulangnya gue nggak bisa berhenti mikirin satu orang.
waktu gue baru sampe, gue liat ada penghuni kosan lagi liatin kotak token listrik di depan kamarnya.
gue abaikan. gue lanjut cek lantai satu dan dua seperti biasa.
sekitar 30 menit gue muter-muter. terus waktu gue turun, gue ketemu lagi sama penghuni yang tadi.
dan kali ini gue liat mukanya.
dia lagi nangis.
gue mau jalan terus. tapi nggak tega.
gue berhenti.
"Mbak, ada yang bisa saya bantu?"
dia geleng cepet. ngelap mukanya.
"Nggak apa-apa mas. Token saya habis, lagi nungguin temen buat minta isiin."
"Dari kapan habisnya mbak?"
"Dari pagi mas."
gue diam sebentar.
dari pagi. berarti udah seharian dia di kamar gelap. tanpa listrik. nunggu temennya yang nggak tau kapan datengnya.
"Biasanya isi berapa mbak?"
"Isi 20 ribu."
"Mana nomornya? Saya isiin aja."
dia langsung geleng. "Nggak mas nggak usah..."
gue tetap minta nomornya. gue isiin. lebih dari 20 ribu.
"Tuh, udah terisi tokennya."
dia liat HP-nya. mukanya berubah.
"Wah makasih banyak, kok banyak mas?"
"Hehe santai mbak. Biar kamu nggak nangis lagi."
gue berhenti sebentar.
"Eh, kamu udah makan belum?"
dan dia jawab sesuatu yang bikin dada gue langsung berat.
"Belum mas."
"Lho kok nangis? Dari pagi belum makan?"
"Dari kemarin mas."
dari kemarin.
gue berdiri di situ beberapa detik nggak ngomong apa-apa.
dari kemarin dia belum makan. token habis dari pagi. nunggu temen yang nggak kunjung dateng. sendirian di kamar.
dan dia bilang ke gue tadi: nggak apa-apa.
gue keluarin HP gue.
"Mbak, berapa nomor Dana atau GoPay-nya? Kamu harus makan."
"Nggak apa-apa mas saya kuat kok."
gue tatap dia sebentar.
"Mbak, saya yakin kamu berdoa dan berharap Allah bantu kamu. Kalau saya ini jawaban dari doa kamu, trus kamu tolak gimana? Nanti Allah-nya kecewa lho."
dia langsung nangis lagi. makin deras.
tapi dia sodorkan HP-nya.
gue transfer. cukup buat beberapa hari.
dia liat angkanya. sesegukan.
"Mas banyak banget..."
"Kalau butuh pertolongan lagi, kamu bisa WA saya. Nomor saya ada di grup kosan, paling atas."
dia liat HP-nya lagi.
"Lho, itu kamu?"
"Iya hehehe. Saya pamit ya mbak. Bye."
gue pulang dengan satu pikiran yang terus muter:
berapa banyak orang yang lagi dalam kondisi kayak dia sekarang.
yang bilang nggak apa-apa padahal udah dari kemarin nggak makan.
yang nunggu bantuan tapi nggak mau minta duluan.
yang nangis di depan kotak token listrik sambil berharap ada yang perhatiin.
gue nulis ini bukan buat pamer.
gue nulis ini karena kemarin gue hampir jalan terus.
hampir abaikan.
hampir nggak jadi nanya.
dan gue bersyukur gue nggak jadi.
kalau hari ini kamu ketemu seseorang yang kelihatannya baik-baik aja tapi matanya nggak baik-baik aja, coba tanya.
satu pertanyaan kecil.
"Ada yang bisa saya bantu?"
kadang itu yang mereka tunggu dari pagi.
sc : _edw4rrddddd(threads)
Dear Batak Tolol, stop bela musuh.
kalo lu kristen batak dan naif, tolong caritau pandangan calvin dan luther soal yahudi.
stop bikin malu, kalo udah tau doktrinnya salah, gapernah terlambat buat akuin kesalahan dan tobat, gua batak dan gua kristen, orang orang dogol ngeyel batu keras kepala kaya lo ketimbang ikut Tuhan lo di perjanjian baru malah kuat banget awet bertahan di perjanjian lama.
padahal eksistensi Yesus di dunia ini buat bilang “lo semua ribet anjing, lo semua sotoy tai, udah ikut gua aja, simple” sekenceng kencengnya ke orang Yahudi, iya orang yang eksistensinya sampe hari ini gamau akuin Tuhan lo, bahkan ngehukum Tuhan lo, kalo mereka akuin Tuhan lo, sukunya bubar dan agama serta adatnya jadi ga valid.
sampe mereka mati mereka gaakan anggap lo kawan, gaakan, jangan konyol.
lo tertulis KRISTEN di KTP karena CHRISTIAN = lo follow CHRIST, bukan follow TALMUD-TORAH-KITAB YAHUDI.
kalo mau ttp Kristen, ikut Tuhan lo, bukan jalan hidup suku bangsa orang, kalo lo mau ngeyel bebal dan dogol, silahkan, gua gamau di associate sama orang dongo modelan elo, lo bisa riset bisa baca, tp milih jadi idiot ya cocok
joinan sama orang amerika dan proxy bonekanya yahudi, goodluck kalo lo diterima dan ga diludahin karena kulit lo keling, pala lo kotak, dan aksen bicara lo kaya orang udik.
Semalam, khatib tarawih ceramah yg bikin gue overthinking..
Gimana kalau selama ini kita tuh cuma lagi pakai headset VR canggih? Dan realita yang kita lihat sekarang hanya sekadar "Simulasi"? 🤯
Dan saat kita mati, VR-nya dilepas, lalu kita terbangun dan menyadari... "Oh, ini toh kehidupan yang SESUNGGUHNYA"
"Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah senda gurau dan permainan. Sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, seandainya mereka mengetahui" QS Al Ankabut 64
QS Al Ankabut itu nyebut jelas banget bahwa kehidupan dunia itu cuma GAME, kayak kita itu ada di dalam game RPG (Role-Playing Game) atau Virtual Reality.
Kita seolah-olah adalah player yang lagi login ke dalam game bernama "Dunia". Kita diturunkan ke server ini dengan satu Main Quest yang jelas: Beribadah, jadi manusia yang bermanfaat, dan ngumpulin bekal buat Endgame.
Tapi, instead nyelesain Main Quest, kebanyakan dari kita malah habis-habisan ngerjain Side Questnya. Side Quest-nya emang didesain super menggiurkan. Numpuk harta sampai triliunan, ngejar validasi sosial, gila jabatan, pamer kemewahan.
Kita habis-habisan grinding sampai lupa sama Main Quest-nya. Padahal waktu main (umur) kita di game ini ada limit-nya.
Terus suka kesel kan ngelihat orang jahat, licik, penindas, tapi hidupnya kelihatan "menang" dan enak banget di dunia?
Nah, sadar nggak sih, bisa jadi mereka itu cuma NPC (Non-Player Character) atau obstacle yang emang di-setting buat jadi ujian rintangan buat kita para Player?
Kemenangan orang-orang jahat itu semu. Mereka cuma "kelihatannya" aja menang, tapi ya itu simulasi aja.
Saat timer kita habis (mati), headset VR ini bakal dicopot paksa. Di momen kita "terbangun" di dimensi yang sesungguhnya, semua harta, mobil mewah, dan score duniawi tadi nilainya hangus jadi NOL BESAR.
Sekaya apapun di game, yang dihitung ya pencapaian kita di Main Quest kan? Sia-sia banget kalau waktu yang dikasih malah habis buat ngejar hal-hal fana yang nggak bisa dibawa log out.
Jadi tamparan keras sih buat diri sendiri pas lagi tarawih semalam. Kadang kita terlalu serius mikirin Side Quest sampai lupa kalau ini cuma mampir bentar.
Fokus ke Main Quest, Players. Jangan sampai pas VR-nya dilepas, kita cuma bisa nyesel karena salah prioritas.
Semoga di sisa waktu Ramadhan yang masih singkat ini bisa kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya.