titik terendahku selama jadi ibu kayanya hari ini deh, bawa bocil naik kereta antar kota for the first time tapi ternyata sepanjang perjalanan dia tantrum dan gamau diem. jujur cape dan trauma banget sampe nangis di lorong penghubung saking gakuatnya😭😭
Yang bikin cape bukan anak tantrum nya, bukan anal rewelnya tp ketakutan ttg kenyamanan dan pandangan orang lain thdp prilaku anak kita tuh asli
cc:threadtrianarizkii
Ada seorang kenalan yg ngajakin ketemuan di Sbux, saya tolak dengan alasan saya boikot. Eh dia malah ngolok2 katanya nggak ngaruh.
Saya bales: "Lu tuh muslim, masa nggak tau semut aja berusaha madamin apinya Nabi Ibrahim walau tau nggak ngaruh."
Dia nggak bales WA-nya lagi.
Islam mengajarkan saya untuk tidak mencelakakan diri sendiri maupun orang lain. Islam juga mengajarkan saya untuk selalu bersyukur terhadap nikmat sehat yang diberikan. 🙏🏻🙏🏻
Hal paling menyebalkan yang baru gue sadari sebagai perempuan di lingkungan gue adalah, seberapa pun lu berprestasi dan cerdas dengan pencapaian yang nggak semua orang punya, tetap aja dianggap nggak ada artinya kalau belum menikah dan punya anak 🥲💔
bapak/ibu skalian saya mau tanya in this economy.. kalo untuk beli rumah dengan kpr tuh pilihan bijak gak ya skrng ini? btw saya bekerja di perusahaan swasta dengan salary around 6.5jt blum bonusan 4-5x setahun, kadang freelance fotografer juga di weekendnya
@ardisatriawan Yang pengen ganti HP tahan
Yang pengen ganti motor baru tahan
Yang pengen ganti mobil baru tahan
1 tahun aja, jangan lupa pake semua subsidi, gak usah gengsi dibilang miskin, itu dari duit kita juga kok.
Kapan lagi boikot pemerintah sendiri.
Ave Neohistorian!
Sejarah Indonesia seharusnya membuktikan bahwa peradaban selalu maju ke depan, bukan mundur ke belakang tetapi dengan munculnya normalisasi istilah "tobrut" membuktikan bahwa kita telah berdosa mengkhianati tanggung jawab terhadap Sejarah!
Istilah "tobrut" dalam slang Indonesia menyoroti aspek masalah berkelanjutan tentang objektifikasi perempuan. Berasal dari kata "toket" (payudara) dan "brutal," istilah ini mencerminkan penekanan vulgar terhadap tubuh perempuan, memperkuat stereotip dan mereduksi perempuan menjadi atribut fisik, seonggok objek seksual yang tidak bernyawa. Ekspresi linguistik ini merupakan bagian dari masalah sosial, di mana tubuh perempuan sering dilihat sebagai objek untuk kesenangan dan pengawasan pria saja.
Dalam Sejarah, objektifikasi perempuan seharusnya telah lama dipajang dalam daftar rasa malu peradaban. Budaya, ekonomi, dan politik di mana tubuh perempuan diidealkan atau dikomodifikasi untuk memenuhi standar masyarakat harus dibuang ke dalam museum kejahatan manusia.
Kita melihat dari lukisan hingga iklan, penggambaran tubuh perempuan sering mengutamakan daya tarik estetis atau erotis daripada kemanusiaan individu. Objektifikasi ini berkontribusi pada pelbagai masalah, termasuk diskriminasi gender, gangguan citra tubuh, dan melemahkan perjuangan untuk kesetaraan gender.
Seiring "tobrut" mendapatkan perhatian di platform seperti TikTok, istilah ini tidak hanya mencerminkan tetapi juga memperburuk peradaban modern Indonesia, mengingatkan kita tentang sifat meresap dari objektifikasi tersebut dan kebutuhan akan perubahan sosial yang lebih dalam untuk menghormati dan menghargai perempuan lebih dari sekadar fisik mereka.
Referensi:
Kontributor Wiktionary, "Tobrut," Wiktionary, Kamus Bebas, terakhir diubah pada 17 Juli 2024. https://t.co/RrxtIqsp6H.
Sandra Lee Bartky, "Femininity and Domination: Studies in the Phenomenology of Oppression" (New York: Routledge, 1990).
Bismillahirrahmanirrahim
Dengan ini kami sampaikan, bahwasanya gelaran Dieng Culture Festival 2024 resmi kami buka dengan tema "Back To The Journey"
Sampai bertemu di Negeri Atas Awan, Kak! 🫶🏻
99,9% usia spesies manusia dihabiskan dengan akses makanan yang secara umum terbatas, jadi secara genetik manusia kurang dibekali kemampuan mengatur dengan baik pola makannya ketika menghadapi lingkungan yang berlimpah kalori alias terlalu mudah akses makanan.🙂
Aku kerja sebagai terapis tumbuh kembang anak. Aku miris banget ngeliat anak” yang terpapar gadget. Apalagi semenjak pandemi, permasalahnya tuh jadi banyak banget. Hampir semua sensori bahkan bisa bermasalah, belum lagi pola asuh orang tuanya plus screentime yg luar biasa smh 🤦♂️
♥️ Daily reminder;
ayahku dulu pendatang di satu dusun yang di dusun itu pekerjaan orang-orangnya adalah peternak sapi dan kambing.
ayahku menanam banyak pohon kedondong pagar sepanjang tanahnya dan diikuti orang lainnya.
ayahku juga memasang tiang listrik di dusun itu, yang tadinya gelap gulita, ada penerangan dan orang ga takut lagi kalo pulang kemalaman.
ayahku juga menanam berbagai pohon berbuah seperti kedondong buah, jambu biji, pisang dan banyak lagi.
dua tahun setelah semua ayah kerjakan itu, ayahku berpulang. apa manfaat bagi ayahku setelahnya? gada wkwkw. beliau sudah di alam barzakh.
tapi manfaat bagi sekitar jadi banyak;
warga sekitar gaperlu susah lagi cari makanan ternak, kalau malas ke hutan ambil rumput liar, mereka bisa ambil kedondong pagar sebagai opsi.
masyarakat juga ga takut lagi pulang malam karna insha Allah tiang lampu masih berdiri tegak pas terakhir kali aku kesitu tahun lalu.
buah yang ayah tanam, insha Allah bisa jadi makanan hewan liar. burung, tupai, kelelawar, bisa makan dari pohon yang berbuah.
ayahku berpedoman dengan apa yang Rasulullah bilang;
Rasulullah pernah bersabda, “Jika Hari Kiamat akan tiba sesaat lagi dan engkau masih membawa tunas sebatang pohon untuk kamu tanam di semak belukar, teruskan niatmu dan tanamlah.”
kita pun bisa demikian, jangan karna semua tanda sudah muncul, hilang semangat untuk melakukan hal baik.
jafi gapapa aja, kerja keras, nyari side income, berhemat dan nabung, eh tau tau ketimpa rudal 😭
yourpal,
jellypastaa :)