WOWO kurban 1.098 sapi dananya dari APBN, kurban atas nama PRABOWO SUBIANTO
kalau pake dana APBN sebutnya jangan dari Presiden dong, yang berkurban adalah rakyat indonesia yang bayar PAJAK
Jadi memang ada penelitian yang menunjukkan bahwa
๐๐ฎ๐๐ฎ๐๐ฎ๐ป ๐ง๐๐น๐ถ๐ ๐ง๐ฎ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐ง๐ฒ๐ฟ๐ป๐๐ฎ๐๐ฎ ๐๐ฒ๐ฏ๐ถ๐ต ๐๐ณ๐ฒ๐ธ๐๐ถ๐ณ ๐๐ป๐๐๐ธ ๐๐ฒ๐น๐ฎ๐ท๐ฎ๐ฟ ๐ฑ๐ถ๐ฏ๐ฎ๐ป๐ฑ๐ถ๐ป๐ด๐ธ๐ฎ๐ป ๐ ๐ฒ๐ป๐ด๐ฒ๐๐ถ๐ธ ๐ฑ๐ถ ๐๐ฎ๐ฝ๐๐ผ๐ฝ
Jujur deh, lo pernah nggak sih belajar lama, berusaha bikin catatan di laptop atau tablet, tapi tetep ngerasa nggak nyangkut di otak?
Sama, gue juga!
Sampai akhirnya gue nemu penelitian menarik ini! Penelitian yang gue baca ini ngerangkum 24 studi yang bandingin handwritten notes vs typed notes.
Hasilnya menunjukkan bahwa orang yang ๐ป๐๐น๐ถ๐ ๐ฐ๐ฎ๐๐ฎ๐๐ฎ๐ป ๐ฝ๐ฎ๐ธ๐ฎ๐ถ ๐๐ฎ๐ป๐ด๐ฎ๐ป ๐๐ฎ๐ฎ๐ ๐บ๐ฒ๐ป๐ฑ๐ฒ๐ป๐ด๐ฎ๐ฟ ๐ธ๐๐น๐ถ๐ฎ๐ต/๐ฝ๐ฒ๐น๐ฎ๐ท๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐ป ๐๐ฒ๐ฟ๐ป๐๐ฎ๐๐ฎ ๐ฑ๐ฎ๐ฝ๐ฒ๐ ๐ป๐ถ๐น๐ฎ๐ถ ๐๐ฎ๐ป๐ด ๐น๐ฒ๐ฏ๐ถ๐ต ๐๐ถ๐ป๐ด๐ด๐ถย dibandingkan dengan yang nyatet dengan mengetik di laptop.
Alasannya adalah karena waktu kita nulis catatan kita dengan tangan, otak dipaksa meringkas, memahami, dan memproses ulang informasi, bukan cuma ngetik cepat tanpa mikir. Effort-nya lebih besar, tapi dampaknya juga lebih kuat.
Selain itu yang gak kalah menarik adalah penelitian ini bilang peluang untuk lulus mata kuliah bisa 58% lebih tinggi kalau kita nyatet pakai tangan.
Nah yang perlu diingat di sini adalah bukan berarti mencatat dengan laptop itu jelek. Laptop lebih unggul kalau butuh catatan super lengkap dan cepat, atau punya kondisi tertentu yang bikin kita mau gak mau harus mengetik.
Gua pribadi kalau belajar menggunakan kombinasi tulisan tangan dan mengetik di laptop.
Sumber:
Flanigan (2024). Typed Versus Handwritten Lecture Notes and College Student Achievement: A Meta-Analysis.
From woman to woman
menurut kalian, gimana cara self improvement biar lebih naikin value as highclass woman
aku mau upgrade diri tapi bingung mau mulai dari mana๐ฅบ
Heโs dismissive of her opinions, resorts to insults, then when she responds, he gets super defensive & emotional, this is not a man, this is a child, the only reason he canโt see a guy & girl being friends is because he views women as objects and not as an equalโฆgross
Pasangan lansia di Desa Orahua Nias. Hidupnya sederhana. Tiga lampu kecil dan satu rice cooker. Itu semua yang mereka pakai. Token listriknya awet karena mereka memang hidup sehemat mungkin.
Dan justru itu yang bikin mereka kena masalah.
Pemakaian mereka dianggap aneh oleh petugas. Terlalu hemat. Mencurigakan.
Warga sekitar udah kasih penjelasan. Udah bilang memang begitu gaya hidup mereka. Memang orang tua yang hidupnya sederhana.
Tapi petugas tetap cabut meterannya.
Dan setelah meteran dicabut mereka diminta bayar 600 ribu rupiah supaya listriknya bisa nyala lagi. Dan uang 600 ribu itu diambil dari dana bansos mereka.
Dana bantuan sosial. Yang memang dikasih negara buat bantu orang orang yang tidak mampu. Diambil buat bayar biaya yang seharusnya tidak pernah ada.
Gw mau lo pahami betapa absurdnya ini.
Di negara yang pejabatnya korupsi miliaran dan kasusnya butuh bertahun tahun buat diproses pasangan lansia yang hidupnya terlalu hemat justru langsung dicabut meterannya dalam hitungan hari.
Yang boros tidak dipersoalkan. Yang hemat malah dicurigai.
Dan ini bukan kasus pertama model begini. Di Indonesia ada fenomena yang udah lama diketahui oknum petugas yang menjadikan pencabutan meteran sebagai ladang pungli. Datang dengan tuduhan pemakaian tidak wajar. Minta bayaran buat pasang lagi. Dan yang paling gampang jadi korban adalah orang tua yang tidak paham prosedur dan tidak punya kekuatan untuk melawan.
Yang paling menyakitkan dari semua ini
Negara ngasih bansos buat bantu mereka survive. Tapi sistem yang harusnya melindungi mereka justru yang mengambil uang bantuan itu kembali lewat cara yang tidak bisa mereka tolak.
Dikasih dengan satu tangan. Diambil lagi dengan tangan yang lain.
Dan pelakunya kemungkinan besar tidak akan kena sanksi apapun yang berarti.