@SoloMenfess Sedang mendalami perjalanan menuju keseriusan yang sepertinya gagal lagi diusia 30an, menikmati masa mandiri aja tanpa terlilit masa lalu, tenang
@tanyakanrl Ga tidak ada yang telat belajar, aku yakin kamu bisa, temenku ada yang baru bisa kuliah sambil kerja ketika umur 24 tahun, keren banget loh kalian yang progresnya berbeda tapi tetep prioritasin pendidikan. Ga banyak orang bisa kayak kalian. Keren, semangat ya
@tanyarlfes Kalo ga salah, secara sekilas aku inget, itu buat mereka mengikat, mengontrol kalo ga salah, jadi kalo ada yang berkelakuan buruk langsung tau, kalo ga salah inget begitu tapi jelasnya banget gimana engga tahu
@tanyarlfes Yang ku tau karena adek pernah kedinasan, itu seragam pada waktu tertentu dan masa tertentu wajib dipakai, bukan karena pamer tapi aturan. Soalnya kalo ada yang ketahuan ga make sesuai aturan pas dia balik ke sekolahnya, bakalan dihukum. Kalo dah lepas masa aturan ini bebas kok
@tanyakanrl Kalo ada waktu reset ulang, apakah mau hidup lagi dan jadi anak yang sama? Jawabanku enggak. Aku ga mau hidup lagi seperti ini, berat banget jadi anak, takut mengomong salah. Karena aku tau ga akan ada solusi pasti selain memilih untuk telan sendiri. Maka jangan hidup lagi
@tanyakanrl Kadang emang ada orang tua yang ga baik banget sama anaknya, "kebaikan" itu dibuat untuk anaknya tetap menurut dan patuh tanpa membantah. Entah apa masalah kakaknya, semoga hatimu lapang, karena aku tau rasanya untuk diam agar tidak dicap durhaka. Maka telan dan pergi
@tanyakanrl Semua orang selalu bilang padaku untuk ya maafin orang tua mu, mereka juga pertama kali jadi orang tua. Tapi kalo keadannya dibalik? Aku juga pertama kali hidup jadi anak, apakah perasaanku tidak valid? Sampe sekarang dari pada menjawab aku lebih memilib diam, aku takut durhaka
@godblessfattah@ggggfox@kapten__monyet Sorry, tapi lebih baik aku jadi pendendam daripada aku harus maafin ayahku. Aku bisa maafin beberapa orang, tapi aku ga bisa maafin ayahku.
Aku ga punya dalil, tapi aku bukan Allah, bukan Nabi dan rasul yg punya hati seluas itu buat maafin orang 🤣🤣
Dan sering kali, yang paling melelahkan bukanlah lukanya, tapi usaha untuk terlihat baik-baik saja di depan orang tua. Mereka belajar menahan respon, memilih kata, bahkan mengubur keinginan untuk didengar demi menjaga suasana tetap tenang. Tidak jarang, mereka mengalah terus-menerus, sampai akhirnya lupa bagaimana cara menyampaikan apa yang sebenarnya mereka rasakan.
Di sisi lain, ada harapan kecil yang terus hidup harap agar suatu hari nanti orang tua bisa mengerti tanpa harus dijelaskan terlalu detail. Harap bahwa hubungan bisa terasa lebih hangat, lebih terbuka, tanpa rasa takut disalahpahami. Tapi karena harapan itu tidak selalu langsung terwujud, mereka kembali memilih diam sebagai jalan yang paling aman.
Sebagian dari mereka juga mencoba memahami sudut pandang orang tua, menyadari bahwa setiap orang tua punya keterbatasan, pola pikir, dan cara didik yang berbeda. Namun memahami bukan berarti tidak merasa sakit. Mereka tetap merasakan luka itu, hanya saja mereka berusaha tidak membiarkan luka tersebut berubah menjadi kebencian.
Mereka bukan tidak ingin bicara. Mereka hanya belum siap menghadapi kemungkinan bahwa kejujuran mereka tidak diterima. Jadi selama itu belum terasa aman, mereka memilih memendam, bukan karena lemah, tapi karena sedang menjaga hubungan dengan cara yang mereka mampu.
Anak yang menyimpan kecewa pada orang tuanya, bukan berarti ia kehilangan rasa hormat atau berhenti berbakti. Justru seringkali, ia terlalu mencintai hingga takut salah dalam menyampaikan perasaannya sendiri. Ia memendam, bukan karena tidak peduli, tapi karena bingung bagaimana mengungkapkan luka tanpa terdengar seperti perlawanan.
Di dalam diamnya, ada hati yang ingin dimengerti tanpa harus menjelaskan panjang lebar. Ada air mata yang ditahan, karena takut dianggap durhaka hanya karena jujur tentang rasa sakitnya. Mereka bukan anak yang membangkang, mereka hanya manusia yang terluka yang masih belajar menyeimbangkan antara bakti dan perasaan yang belum sempat sembuh.
@tanyarlfes Lebih milih tidak hidup, aku ga mau melihat susahnya berjuang dimana mana, tidak meminta untuk dilahirkan, bahkan setiap sen yang diberikan seperti hutang wajib untuk dikembalikan, aku takut ga bisa mengembalikan uang untuk ku hidup, jadi ga usah dilahirkan ga papa.
@sbyfess Cok bangsat, iso ga seh menungso seng selingkuh ngene ndang mati ae. Membangun hubungan angel ndelok wong kok enak selingkuh, ndang mati kon kabeh seng selingkuh wes hama dadi sampah pisan.
@baseconvo Matamu aturan amburadul dari milenial, kau benci sama milenial karena terlihat sama dengan mu kah? Oh sabar gen z, kau bakal dibales habis habisan sama gen dibawahmu. Tenang, ada waktunya ngaca nanti. Apa sih saingan gen goblok.