Waktu itu lagi di kantin kampus, trus temenku langsung bilang "kita tukaran tempat duduk, kamu kan risih kalo banyak org di depan kamu".
Aq dlm hati: 🥺🥺🥺
baru sadar, orang yang beneran sayang itu yang notice sama hal-hal kecil.
kayak tau kalo kita ga suka es teh manis, atau inget kita alergi sama beberapa makanan. selain itu cuma orang yang lagi gabut suka doang
Saya ada cerita seorang bapak.
Dia kerja 20 tahun buat biayain anaknya kuliah S1.
Lembur.
Utang.
Sampai jual tanah warisan.
Anaknya lulus. IPK bagus.
Wisuda lengkap dengan toga.
Sekarang anaknya kerja serabutan. Gaji di bawah UMR.
Dan si bapak masih senyum bilang,
"Mungkin belum rezekinya."
Yang bikin saya merenung bukan cerita anaknya.
Tapi cerita si bapak.
Dia lahir tahun 70-an.
Gak tamat SMA pun bisa buka toko,
punya rumah,
besarin anak dengan layak.
Logikanya simpel dan masuk akal:
"Dulu gw gak sekolah tinggi aja bisa. Kalau anak gw kuliah,
hidupnya pasti jauh lebih baik dari bapaknya."
Logika itu benar. Di zamannya.
Masalahnya bukan orang tua yang salah didik.
Bukan juga anaknya yang kurang usaha.
Tapi janji yang mereka pegang sudah kedaluwarsa.
Ijazah dulu adalah tiket.
Sekarang ijazah adalah syarat minimum.
Yang bahkan kadang pun masih belum cukup.
Dua hal yang kelihatannya sama, tapi sebetulnya beda jauh.
Bayangin ya.
Tahun 1995,
fresh graduate langsung diperebutkan perusahaan.
Sekarang,
lowongan entry level minta pengalaman 2 tahun,
skill digital, bisa multitasking, dan siap ditempatkan di mana saja.
Gajinya?
UMR aja belum tentu.
Hampir sama kalau dikonversi ke harga waktu itu.
Tapi harga rumah, kontrakan, dan beras sudah tidak ikut berdiam di angka yang sama.
Generasi 90-an pasti hafal nasihat ini:
"Rajin sekolah, biar dapat kerja bagus."
"Kuliah dulu, baru enak hidupnya."
"Investasi terbaik itu pendidikan."
Nasihat itu bukan bohong.
Di zamannya, itu benar dan terbukti.
Tapi zamannya sudah ganti.
Nasihatnya tidak ikut ganti.
Dan anak-anak kita tumbuh sambil pegang peta zaman dulu
yang sudah tidak cocok sama jalanan yang mereka hadapi sekarang.
Saya pernah ngobrol panjang sama seorang teman.
Dia cerita,
"Bokap gw sampai jual motor buat bayar UKT semester terakhir gw."
Saya tanya, "Sekarang kerjanya apa?"
"Freelance desain. Kadang ada job, kadang enggak."
"Bokap lu tau?"
"Tau. Dia bilang sabar, rezeki ada aja. Tapi gw liat matanya... dia bingung."
Si bapak bingung bukan karena anaknya gagal.
Tapi karena cara yang dulu berhasil sekarang tidak lagi bekerja.
Dan dia tidak punya peta baru untuk dikasih ke anaknya.
Kalau anakmu masih sekolah atau mau kuliah,
jangan cuma pikirin jurusannya.
Tapi ajarin juga:
1. Ajarin dia cara kerja uang sejak kecil.
2. Bekali satu skill konkret yang bisa langsung menghasilkan.
Sebelum dia lulus dan bingung mau mulai dari mana.
3. Kasih ruang buat gagal kecil sekarang.
Biar dia gak gagal besar pertama kali justru di dunia nyata.
4. Jangan cuma bekali ijazah. Bekali juga kemampuan bertahan.
Bukan berarti kuliah tidak penting. Tapi kuliah saja sudah tidak cukup.
Soalnya begini.
Orang tua yang paling menyiapkan anaknya bukan yang paling banyak bayar biaya kuliah.
Tapi yang paling jujur bisa ngomong ke anaknya:
"Dunia yang kamu masuki berbeda dari dunia yang Ayah dan Ibu kenal.
Kita harus cari tau bareng-bareng."
Kejujuran itu lebih berharga dari SPP mana pun.
Dan seperti biasa, selalu ada dua kubu.
Kubu pertama bilang,
"Orang tua salah. Harusnya ajarin skill, bukan kejar gelar."
Kubu kedua bilang,
"Orang tua sudah benar. Anaknya yang kurang mau usaha."
Tapi ada kemungkinan ketiga yang jarang ada yang mau nyebut:
Dua-duanya sudah berusaha sebaik yang mereka bisa dengan informasi yang mereka punya.
Tapi sistemnya yang tidak pernah jujur ke keduanya.
Generasi kita mungkin adalah generasi pertama yang hidupnya lebih susah dari orang tuanya.
Bukan karena malas. Bukan karena manja.
Tapi karena peta yang diajarkan ternyata sudah tidak relevan saat mereka datang.
Dan orang tua mereka masih dengan tulus menunjuk ke peta yang didapat dulu.
👵🏻 :“kamu sesekali dandan kalau mau keluar, jangan kayak orang baru bangun tidur aja”
🧕🏻: “segala cara dilakukan manusia agar tetap merasa muda, hanya untuk perasaan kemenangan semu & illusi keabadian atas perlawanan terhadap kematian bu”
👵🏻: “buku-buku dikamar ibu bakar ya”
Proses budidaya dan distribusi bunga potong itu ga lepas dr perlakuan senyawa kimia anorganik. Di negara manapun ya.
Budidaya di Indo? Selalu pakai pestisida semprot, anorganik ya, bukan ngarang, tmn kuliah yg pernah kerja di G rosefarm cerita sendiri, doi bingung krn hama makin-
Aplikasi iPusnas kamu sering eror?
Selamat! Karena bakal eror terus sampai kiamat.
Gara-gara apa?
Ya, gara-gara program korupsi terang-terangan MBG (Maling Berkedok Gizi).
2030 INDONESIA BUBAR.
2030 INDONESIA (C)EMAS.
Laras sakit di dalam tahanan, dikasih obat EXPIRED A.K.A KADALUWARSA sama polisi.
CATAT DALAM BUKU HARIAN KALIAN. JANGAN PERNAH LUPAKAN. NEGARA PERNAH BERBUAT LANCANG DAN TIDAK MANUSIAWI PADA PEREMPUAN.
Betapa mirisnya negeri ini, DPR yang hanya bekerja 5 tahun sudah dapat pensiunan seumur hidup, beliau yg sudah mengabdikan diri selama 34 tahun cuma diangkat PPPK paruh waktu, beliau mengabdi di sekolah SMK kab. Bima,
Beliau hanya menikmati status PPPK PW 7 hari dan tgl 29 Desember 2025 dia pensiun.
Gajipun tak seberapa hanya merasakan jd ASN cuma 7 hari, setelah itu selesai tanpa uang pensiun.😢😢
Beliau seharusnya yg lebih pantas dapat pensiun daripada anggota DPR yg bisanya cuma habisin uang rakyat.