Semalem gue mutusin cowok gue yang udah nemenin gue 5 tahun.
Nggak ada selingkuh. Nggak ada KDRT. Dia juga bukan cowok jahat.
Tapi semalem, pas gue lihat dia asik main PS sementara gue sibuk beresin piring kotor bekas dia makan, tiba-tiba gue sadar satu hal:
Gue nggak mau menikah sama dia.
Selama 5 tahun ini gue selalu bilang ke diri sendiri:
"Ah wajar dia berantakan, namanya juga cowok."
"Ah wajar dia lupa tanggal anniversary, cowok kan emang cuek."
Gue pikir gue lagi jadi cewek yang pengertian.
Ternyata gue cuma terus-terusan nurunin standar dan membiasakan dia untuk nggak perlu banyak usaha.
Gue yang mikirin mau kencan ke mana.
Gue yang ngingetin hal-hal kecil.
Gue yang bantu ngerapiin hidupnya.
Lama-lama gue bukan merasa punya pasangan.
Gue merasa punya tanggung jawab tambahan.
Pas gue bilang mau putus, dia kaget.
Dia bilang:
"Kenapa? Aku kan nggak selingkuh. Aku juga nggak pernah mukul kamu."
Dan di situ gue sadar...
Sejak kapan standar seseorang dianggap baik cuma karena dia nggak melakukan hal buruk?
Nggak selingkuh dan nggak menyakiti pasangan itu memang penting, tapi itu adalah dasar.
Hubungan bukan cuma tentang tidak menyakiti.
Tapi juga tentang saling peduli, saling membantu, saling meringankan hidup satu sama lain.
Gue nangis bukan cuma karena kehilangan dia.
Gue nangis karena sadar selama ini gue terlalu sibuk mempertahankan hubungan sampai lupa bertanya:
"Apakah gue bahagia di dalamnya?"
Kadang kita bertahan bukan karena hubungan itu sehat, tapi karena takut membuang waktu yang sudah kita habiskan.
Padahal waktu yang sudah lewat nggak akan kembali, tapi masa depan masih bisa kita pilih.
Lebih baik memulai lagi daripada memaksakan hubungan yang membuat kita merasa sendirian.
Menurut kalian, apakah hubungan yang tidak ada selingkuh dan kekerasan sudah cukup untuk dipertahankan, atau tetap butuh usaha dan peran aktif dari kedua pihak agar hubungan bisa berjalan sehat?
Jadi ada muridku yg tiap kali pelajaranku pasti selalu ngobrol dgn teman sebangkunya, jadi sering ku marahin. Tapi ternyata aku baru tau kalo dia itu tuna rungu🥺 dan temen sebangkunya itu lagi menerjemah apa yg aku omongin ke dia🥺
@radenrauf 24th, INFP, kesibukan skrg sibuk cari cuan walau gajinya masih imut🤏🏻 yg mau mutualan boleh juga langsung follow aja ntar langsung tak polbek, thankss🫰🏻