Prabowo: "Silakan kalau mau cari negara lain."
Gue:
Lah, emang nih negara punya elu doang?
Ini negara gue juga. Gue lahir di sini, kerja di sini, bayar pajak di sini. Hidup gue kagak dibiayain sama elu.
Gaji pejabat negara juga dibayar dari APBN yang berasal dari pajak rakyat. Jadi jangan mentang-mentang lagi pegang jabatan, terus nyuruh rakyat cabut.
Ngkritik pemerintah bukan berarti kagak cinta Indonesia. Justru karena ini negara gue, gue punya hak buat ngomong kalau ada yang gue anggap salah.
Yang mesti dibenerin itu kebijakannya, bukan mulut rakyatnya.
Just remember that this human experience is temporary. You arrive with nothing, you spend your whole life chasing everything, but still leave with nothing. So make sure that your soul gains more than your hands.
Semoga kita tar meninggal udah gak ada temen yg gosipin kita, bikin ribut sodara/keluarga atau temen, gak ada utang gak ada bebanin orang. Kek yg udah ketutup tanah yauda gitu kelar perkara.
Heran bgt ada org meninggal belum juga 40 hari udah dirungsingin banyak orang 😌
Banyak orang ga sadar, ketrampilan penting untuk hidup bahagia salah satunya adalah "baik baik saja saat bosan"
Bosan terus ngemil, bikin ga bahagia
Bosan terus scrolling HP, bikin ga bahagia
Bosan terus sabotase hubungan sehat, bikin ga bahagia
Terbiasalah dengan bosan
Imagine se Banten, Jakarta dan Jabar tiba² Menghilang
seluruh infra internet dan data center di indonesia mati semua
and some people call it "Bukan Bencana Nasional"
Pernah denger Bapak yg sedang menasehati temennya :
Jika Harta, Tahta dan Kekuasaan sebagai tolak ukur kekuasaan.
Coba kau pikir lagi, mungkin panutanmu bukan lagi Rasullullah, tapi fir'aun.
Kita melihat angka itu 712 Tewas, 507 Hilang dan kita tahu, itu bukan sekadar statistik. Itu adalah ratusan jiwa yang terenggut oleh lumpur busuk, ribuan keluarga yang hancur, dikubur oleh kegagalan sistematis yang tak pernah mau belajar.
Bayangkan kesunyian yang mencekik itu: lumpur tebal menelan rumah, meninggalkan hanya sisa atap yang menyembul . Di balik angka 507, ada ratusan orang yang masih ditunggu di pinggir sungai yang kini hanya berisi puing. Mereka hilang, tapi kita tahu ke mana mereka pergi: mereka diambil oleh nafsu serakah para pembalak yang dilindungi.
Mereka yang berwenang akan mengumumkan "masa berkabung," mengeluarkan pernyataan belasungkawa resmi yang dingin. Mereka akan berbicara tentang "takdir" dan "bantuan logistik." Ironisnya, mereka menangisi korban tewas, sementara mereka menolak menyebut nama pembunuhnya yaitu para pengusaha yang mengantongi izin palsu dan pejabat yang menutup mata.
Duka ini adalah kontrak mati yang ditandatangani oleh pemangku kebijakan di balik meja mewah.
Kita, sebagai rakyat, hanya bisa berduka dan merangkul sisa-sisa yang tertinggal. Kita terpaksa menerima kenyataan pahit ini: negara hadir dalam wujud upacara pemakaman, tapi absen saat hutan dibabat. Kita sedih, tapi juga marah tak berdaya. Karena kita tahu, duka ini akan terulang lagi, selama impunitas bagi perusak hutan tetap dilestarikan.
Kami berduka atas nyawa yang hilang, dan kami mengutuk sistem yang merampas hak mereka untuk hidup.