Dear diary…
Tahun 2024, saat pertama kali kami berkenalan, aku memperkenalkan diri sebagai seorang perempuan yang sedang tidak baik-baik saja. Saat itu, dia datang membawa perhatian dan kehangatan yang terasa seperti pelukan.
Hari demi hari berlalu. Hubungan ini berjalan tanpa nama, tanpa kepastian, tanpa status yang benar-benar jelas. Namun aku tetap bertahan. Aku menikmati setiap percakapan dan setiap perhatian. Aku percaya pada apa yang kuterima.
Selama itu pula, tanpa aku sadari, dia menyimpan sebuah kebohongan dengan sangat rapi. Sebuah kebohongan yang begitu terjaga hingga tak pernah benar-benar terlihat olehku. Aku mengira aku sedang mengenal seseorang dengan jujur, padahal ada bagian penting dari hidupnya yang tidak pernah ia tunjukkan.
- - - - - - - - - - - -
Kadang aku sibuk mencari jawaban karena berharap rasa sakit ini berkurang jika semua potongan cerita akhirnya tersusun dengan jelas. Padahal, sering kali setelah semua jawaban ditemukan, rasa sakitnya tetap ada.
Aku bisa melihat bahwa pikiranku terus berusaha menyusun semua bagian yang selama ini tidak kuketahui. Tapi ada satu hal yang perlu kubedakan: antara apa yang mungkin benar dan apa yang benar-benar bisa kuketahui.
Saat dia berkata, “Kamu memberikan apa yang aku butuhkan,” mungkin itu memang dimaksudkan sebagai pujian. Tapi dari posisiku, kalimat itu bisa terasa menyakitkan. Karena yang terdengar bukan hanya “aku menghargaimu”, melainkan juga “aku mendapatkan sesuatu darimu.”
Sementara yang sebenarnya ingin kudengar mungkin adalah, “Aku sadar apa yang sudah kuambil darimu.”
Dan di situlah letak perbedaannya.
- - - - - - - - - - - -
Lalu pikiranku mulai dipenuhi pertanyaan:
“Kalau dia sampai melakukan semua itu, apa mungkin dia benar-benar tidak sayang?”
“Kalau semuanya bohong, kenapa dia mau melakukan sejauh itu?”
Masalahnya, dua hal itu bisa saja sama-sama benar.
Seseorang bisa benar-benar senang bertemu denganku, menikmati kebersamaan denganku, bahkan mungkin punya perasaan terhadapku, tetapi tetap melakukan kebohongan yang menyakitkan.
Yang membuatku terjebak sekarang mungkin bukan karena aku percaya dia tidak punya perasaan. Justru mungkin karena aku sadar bahwa dia memang punya perasaan, memang menikmati hubungan itu, memang merasa dicintai dan disayangi. Namun di saat yang sama, dia juga menyembunyikan sesuatu yang sangat penting.
Dua kenyataan itu bisa berjalan berdampingan.
Banyak orang mengira termasuk aku, jika seseorang benar-benar sayang, maka dia pasti akan bertindak dengan benar. Padahal kenyataannya tidak selalu begitu.
Seseorang bisa merasa sayang, rindu, nyaman, bahkan takut kehilangan, tetapi tetap egois. Tetap berbohong. Tetap membuat orang lain terluka.
Dan sebenarnya, itu belum cukup menjawab pertanyaan yang selama ini ada di kepalaku.
- - - - - - - - - - - -
Kadang yang paling sulit kuterima bukan karena tidak ada permintaan maaf, tetapi karena masih ada satu pertanyaan yang terus menggantung:
“Kenapa ini bisa terjadi?”
“Kenapa kamu melakukan ini padaku?”
Dari semua yang sudah terjadi, aku menyadari bahwa semua pertanyaanku tidak akan pernah menemukan jawabannya. Dan itu sangat menyakitkan.
- - - - - - - - - - - -
Setelah dikhianati, aku sempat berpikir:
“Kalau aku tahu alasannya, mungkin aku akan lebih tenang.”
Tapi setelah direnungkan lebih jauh, muncul pertanyaan lain:
“Memangnya alasan seperti apa yang bisa membuat semua ini terasa masuk akal?”
Misalnya dia berkata:
“Aku takut kehilanganmu.”
“Aku egois.”
“Aku nyaman denganmu.”
“Aku tidak tahu cara mengatakannya.”
Mungkin jawaban-jawaban itu bisa menjelaskan kenapa dia bertindak seperti itu.
Tapi apakah itu benar-benar akan menghilangkan rasa sakitku?
Kemungkinan besar TIDAK.
- - - - - - - - - - - -
Aku… tidak pernah tahu kapan hati ini akan ikhlas untuk bisa memaafkan. Untuk saat ini, aku tidak mau memaksakan diriku untuk itu. Ku kira rasa sakit beberapa tahun lalu ialah yang terakhir, tapi kali ini, aku tidak bisa menjelaskannya…
@sakiyyatpuc Saat ini aku ga berani resign sih kak. Kebayang2 pas nganggur dulu gimana, ditambah kondisinya kayak sekarang, huhuhu. Sembari nyari side job aja sih ini.
Ga sopan kak.
Kalau emang penasaran soal kondisi ekonominya, sebenarnya bisa kebaca dari banyak hal tanpa harus nanya gaji secara langsung. Misalnya dari gaya hidupnya, cara dia mengelola uang, hobinya, atau aktivitas yang biasa dia lakuin.
Obrolin aja hal-hal ringan kayak, “Emang sering ke sini?”, “Kalau lagi libur biasanya ngapain?”, “Hobinya apa?”, atau “Tempat nongkrong favoritmu di mana?”. Dari situ biasanya kita bisa dapat gambaran kisaran pengeluaran dan gaya hidup dia gimana.
Nah kalau hubungan udah mulai serius, baru obrolan soal keuangan jadi lebih relevan untuk dibahas lebih terbuka. Soalnya keluargaku aja ga tau secara tepat gajiku berapa, apalagi orang lain 😁 kurang nyaman aja gitu kalau ditodong “Gajimu berapa?”
Tergantung kak. Aku lagi itu putusin cwoku gara2 saat itu dia belum bisa menjawab terkait kapan kita menikah, lagi itu udah pacaran 5 tahun. Sehabis putus itu pula aku cari orang baru. Beberapa kali coba kenal dan dekat dengan orang baru, tapi selama itu pula belum ada yang lebih baik dari cwoku sebelumnya. Aku sibuk cari orang baru, tapi cwoku fokus kerja, ga cari cwe lain. Lalu 2 tahun kemudin ketika dia sudah siap untuk menikah, dia datang lagi ke aku. Ya akhirnya aku terima lagi karena orang baru yang aku kenal ga lebih baik dari dia, kita putus pun bukan karena ada orang ketiga atau hal buruk lainnya, dan kita masih sama2 sayang. Tarik ke belakang dan paham salah kita saat itu di komunikasi.
Lanjut aja fast respon, gapapa. Nikmatin aja. Mau di-mute, diarsip, bahkan di-lock chat sekalipun, ujung-ujungnya bakal dicek lagi. Malah jadi makin uring-uringan.
Mau sok sok an slow respon juga biasanya susah. Jarinya gatel banget pengen bales, otaknya kepikiran terus. Dipaksa nunggu malah jadi makin fokus ke chatnya.
Jadi ga usah terlalu dihindarin lah. Jalanin aja sampai nanti capek sendiri. Kapan capeknya? Ya “waktu” tiap orang beda-beda. Semakin dipaksa buat nggak mikirin, biasanya malah makin susah. Nanti kalau udah capek juga bakal sadar sendiri, terus ilfeel. Baru deh keluar kalimat, “Bisa-bisanya aku nangisin modelan manusia kayak kamu 💩”
Setelah melewati 3x op dan akhirnya diamputasi 10 bulan lalu, maaf nggih Pak aku baru bisa beliin kursi roda ini sekarang 🥺 doain aku biar lancar terus rezekinya dan bapak juga sehat2 🤍