Ternyata kalo lagi di luar rumah tu, gue lagi istirahat. Tapi kalo di rumah, justru gue lagi bekerja. Wkwk hari kebalikan ternyata tiap hari di kalender gue 🙏🏼
Kan orang mah kalo emang lagi ga mood, jangan sampe kena ke orang yak. Udah ditahan tahan, ada aja orang yg malah kebalikannya. Mau apa si ya tu orang 🙃
Selama nonton film how to make millions before grandma dies, intensitas sedih sih lebih sedikit. Lebih mikir dan ngebatin ke arah “uang tu ga kenal sodara, jangan ciptain sandwhich generation, kalo udah tua jangan nyusahin anak ataupun cucu, ayo kerja keras semasa muda” 🥲
Guru-guru yang dulunya anak punk, hardcore, grindcore, emo dll itu ada banyak. Ada yang masih rutin ngeband, ada yang hanya menonton saja. Bahkan masih ada guru-guru yang suka ikut acara Gigs sampai sekarang.
Kemudian, kasus lagu band Sukatani muncul, lagunya dilarang, dan diduga, dipaksa meminta maaf oleh aparat. Mereka, para guru ini, pasti akan berpartisipasi dalam gerakan, sekecil apapun. Kombinasi antara impian masa remaja, nostalgia serta aktualisasi lagu dan realita.
Pembungkaman lagu yang mewakili keresahan hanya akan menvalidasi keresahan yang ada. Itulah paradoks ketika kepalsuan sudah bukan rahasia.
Tentu saja hal ini telah mengaktivasi gerakan. Gerakan masyarakat sipil, telah diperkuat oleh identitas ganda Guru-punk. Kini lagu Sukatani telah jadi identitas bersama. Kenyataan dalam lirik lagu tersebut lebih terang daripada cahaya. Hanya Kegelapan yang menghalanginya.
Selamat datang Gelap Gempita
Ternyata Vokalis Band sukatani adalah seorang Guru SD
Kini sang guru SD tersebut diduga dipecat oleh Pihak Sekolah lantaran pihak sekolah tempatnya mengajar mendapat surat dari pihak kepolisian. #kamibersamasukatani
Sekarang kalo gue mau mikirin diri sendiri dan masih suka ngajak ribut orang orang yang ga sependapat mah kayanya udah malu aja sama umur gitu. Mau orang kata gue gimana juga bodo amat sekarang dah 😌🙏🏼