"Kami mau melapor ke polisi, polisi punya dapur SPPG. Kami mau melapor ke TNI, tentara punya dapur SPPG. Kami mau melapor ke DPR RI, anggota DPR banyak yang punya dapur SPPG," kata Iman Zanatul Haeri, seorang guru, di hadapan Mahkamah Konstitusi.
Kenapa setiap kritik dibalas pembungkaman, dan setiap masukan ditanggapi dengan emosi? Karena yang diberi saran memiliki ego yang lebih besar dibandingkan otak yang lebih pintar.
Disuruh santun di sebuah negara yang meledek rakyatnya adalah sebenar-benarnya anomali
“kami mau melapor ke polisi, polisi punya dapur sppg, kami mau melapor ke TNI, TNI punya dapur sppg, kami mau melapor ke DPR, DPR pun punya dapur sppg. jadi ini jalan terakhir kami untuk mengadu, kepada konstitusilah kami berharap”
—ucap seorang guru, pendidik anak bangsa. ironi.
@txtdarigenz97 Terharu banget liatnya 🥹
Sampe segitunya rakyat minta suaranya didengar, tapi tetap aja ga pernah didengar. Penguasa bilang rakyat akan baik-baik aja, tapi kenyataannya kita ga baik-baik aja. Miris.
“yaudah, kalau ngga bisa beli bensin jalan kaki aja”
TROTOAR LU NOHHHHH BOLONG BOLONGGGG trotoar aja dipake buat parkir liar segala gala nyuruh jalan kaki
Pertamax di Indo: 16.250
UMR di Jakarta: 6 jt
BBM di Jepang: 20.000
UMR di Tokyo: 23 jt
😭😭😭
“Tapi pajak di sana juga gede loh….”
TAPI KAN GAK DIKORUUUPPP🫵🏻🫵🏻
Pernah gak? Duduk berdua sama orang tua tapi rasanya jauh banget? Mau ngobrol, tapi gak tau harus mulai dari mana. Turns out, silence hits different when it happens with someone who's supposed to feel like home. Bukan karena gak sayang, tapi karena dari dulu kita gak pernah benar-benar diajari cara saling dekat. Dan di situ kita mulai ngeuh... kedekatan itu bukan otomatis, tapi sesuatu yang harus dibangun dan dipelajari juga.