Hi, aku Nara. Perempuan 33th, karyawan swasta di kota besar, baru menikah beberapa bulan lalu dgn laki-laki yg baru ku kenal selama 1th.
Dan ini adalah page ku agar bisa bernafas lebih ringan.
Dulu, aku pernah mikir pernikahan adalah pelengkap dari fase kehidupan. Kayak semua orang pasti akan melalui fase sekolah-kerja-menikah-punya anak dan mengurus keluarga.
Lalu, karna berkali-kali dikecewakan ternyata fase yg ku lewati adalah ‘tidak menikah dan membahagiakan diri sendiri pun ga masalah’.
Sampai pemikiran itu berubah lagi karna keinginan orangtua utk melihat anak menikah.
Suami ku adalah laki-laki sabar, bertanggung jawab thd keluarga, hidupnya sangat lurus dan ga neko-neko.
Oh! Tambahan rajin beribadah dan soft spoken. Typical favorit orang tua.
Semua pertanyaan rasanya sudah ku ajukan selama masa pengenalan, tentang rencana masa depannya, pengelolaan keuangan, tanggung jawab yg tetap dia ingin lakukan sbg anak, pembagian tugas di rumah, tentang nafkah. Semua hasil diskusi kami masih bisa ditolerir rasanya pada waktu itu.
Sampai pada waktu persiapan pernikahan, mulai terasa ‘beratnya’.
‘Ah cuma cobaan sebelum menikah’ pikirku.
Mulai dari tabungannya yg ternyata tidak cukup utk biaya acara dgn konsep sederhana. Dimana konsep ini adalah hasil diskusi dia dgn orangtua ku.
Saat ku tanya berapa banyak yg dia punya, kemudian dia menyebutkan sejumlah angka. Ku pikir, ‘ok segitu gapapa, masih bisa ku tambah sedikit utk konsep yg sudah disepakati’.
Tapi ternyata nominal pastinya ga pernah jelas berapa, dan uangnya pun ga ada di rekening dia.
Disimpen di keluarganya. Dgn alasan dia ga bisa saving sendiri dan akan boros kalo pegang uang.
Tau kan kemana alur cerita ini selanjutnya berjalan?
Biaya lamaran hanya ditanggung 30% oleh dia, sisanya aku.
Biaya pernikahan, hanya ditanggung 30% dan sisanya aku.
Sisanya? Bukankah sisa seharusnya punya porsi yg lebih sedikit?
Btw, kami sama-sama berjuang utk kebutuhan kami sendiri tanpa bantuan orangtua.
Saat periode penyamaan visi misi, dia dgn sangat yakin blg akan memberikan seluruh penghasilannya utk ku olah dan dia hanya kan pegang sesuai kebutuhannya sebulan aja. Dan dia izin utk tetap memberikan bantuan kpd orangtuanya setiap bulan. Ku bilang ga masalah, asalkan dia harus memenuhi kebutuhan dasar rumah tangga kami dulu.
Kebutuhan dasar ‘sandang, pangan, papan’. Selayaknya aku hidup normal saat single.
Teori dan konsep itu aku yg aku pahami dan meyakinkan aku utk mencoba menjalani hidup berumah tangga bersama dia.
Walau pun beberapa waktu sblm mendaftarkan rencana pernikahan, baru ku tau kalau orangtuanya masih selalu ingin memegang kendali kpd anaknya dlm hal rencana hidup maupun pengelolaan keuangan.
Lucu. Membantu pun tidak, tapi ingin selalu dilibatkan dan didengarkan pendapatnya yg sudah tidak applicable dgn jaman skrg.
Waktu itu ku bilang ke dia bahwa aku tidak akan bisa sejalan dan sepemikiran dgn keluarganya? Seberapa yakin dia utk bisa hidup mandiri tanpa bayangan keluarga? Karna menurutku hal paling basic dlm berumah tangga adalah kemandirian dan kebebasan pasangan suami istri utk menentukan pilihan hidup utk keluarga barunya.
Siap katanya. Dgn dia memutuskan utk berkeluarga adalah sebuah keputusan yg sudah dipikirkan utk sepenuhnya hidup mandiri tanpa mengesampingkan baktinya kpd orangtua.
Ok sepakat. Lanjut setelah pernikahan,
Saat bulan awal, ku liat ga ada tanda-tanda dia akan memberikan penghasilannya kepada ku seperti yg pernah dia katakan sblm penikahan.
Lalu ku bilang, ‘jangan lupa penghasilanmu utk bayar ABCD sesuai yg sudah ku breakdown ya, ga usah dikasih ke aku gapapa lgsg dialokasikan ke masing-masing pos aja. Kasih ke aku hanya utk menabung, porsinya 12% dari pendapat’.
Ingatkan? Dia blg ga bisa saving sendiri, makanya uang tabungannya dititipkan ke keluarganya. Makanya uang itu yg ku minta utk dititipkan ke aku sbg istrinya.
Lalu jawabannya, ‘apa ga bisa jumlahnya lebih dikecilin lagi? Kamu kan ga mau tau aku harus kasih makan peliharan’.
Iya, dia punya beberapa hewan peliharaan yg mungkin sampai skrg memiliki tempat yg lebih istimewa dibanding istrinya sendiri.
Di bulan pertama, dia menuruti ku utk besaran tabungan yg ku minta. Karna menurutku dgn angka yg ku sebut dan break down yg ku jelaskan, dia msh bisa menjalani hidupnya spt sebelum menikah. Tidak ada porsi yg kuambil utk kebutuhanku, diluar kebutuhan pokok yg ku ajukan di awal. Tidak ada nafkah utk aku pribadi karna aku bekerja dan bisa memenuhi kebutuhanku.
Hasilnya? Di bulan pertama yg dia penuhi hanya biaya sewa rumah, listrik, dan IPL.
Kebutuhan rumah tangga; makan sehari-hari, sabun, laundry semua menggunakan penghasilanku.
Ada waktu dimana masa adaptasi sbg istri sangat berat buatku, bangun lebih awal, menyiapkan bekal makan siang dan kebutuhan suamiku, lalu sepulang kerja jg harus masak menyiapkan makan malam.
Kemudian di bulan selanjutnya aku blg ga usah nabung dulu sementara, cukupkan kebutuhan kamu sendiri. Belajar dari yg sebelumnya dia kekurangan uang karna kejadian tak terduga dan akhirnya ku berikan lagi uang tabungannya utk memenuhi kebutuhannya sendiri.
Penghasilannya memang tidak besar, menurut angka survey pemerintah ideal utk hidup 1 orang. Dari awal pun aku udah tau dan menerima, pun dgn permintaan izin dia tetap membantu keluarganya.
Semua sudah sangat jelas ku tanyakan tentang apa rencananya utk upgrade diri? Bagaimana cara dia memenuhi kebutuhan kalau dia sendiri pun tau dgn hitungan dia yg sekarang blm bisa memenuhi seluruh kewajibannya. Dan jawabannya sangat menyakinkan, pada saat itu.
Sejujurnya, aku tidak masalah dgn keuangan karna aku pun biasa memenuhi kebutuhanku sendiri. Tapi yg menjadi berat adalah ketika orangtuanya mulai ikut campur.
Seminggu tidak dikunjungi keluar kalimat ‘baru awal menikah udah lupa keluarga’, suami mulai membatasi akses dibilang durhaka.
Lalu ada waktu ketika berkunjung dan Ibunya mengingatkan agar lebih sering menghubungi Ayahnya karna Ayah seringkali gengsi jika kangen. Tapi Ibunya blg kalau beliau tidak akan sungkan utk menghubungi suamiku kalau ada kekurangan di rumah.
Aku pun lgsg mengkonfirmasi ke suami ku, apa ada yg dia berikan selain uang bulanan itu diluar sepengetahuan ku? Aku minta dia sebutkan semua tanpa ada yg ditutupi, ku blg kalau kamu msh ada lebihan tolong bantu aku karna aku sangat berat menanggung kebutuhan kami berdua.
Saat itu dia blg ga ada yg lain, hanya yg sudah disebutkan saja. Ok clear, kami jalani seperti biasa.
Lalu, tiap kali kami berkunjung ke rumah orangtuanya selalu ada hal unik lain.
Kali ini orangtuanya menguliti satu per satu, berapa biaya sewa rumah, listrik, dan IPL yg harus dibayarkan suamiku. Dan menyarankan kami utk pindah cari tempat sewa lain. Tanpa bertanya bagaimana kami memenuhi kebutuhan lain selain tempat tinggal.
Kemudian Ayahnya menyalakan ceramah saat penceramahnya mencontohkan suami yg korupsi karna gaya hidup istrinya.
Kalau kalian pikir kami tinggal di perumahan mewah, tidak sama sekali. Harga sewa rumah kami standard sewa rumah di kota besar.
Kami hampir tidak pernah makan diluar, karna aku selalu menyempatkan masak. Beli makan diluar hanya sesekali, dan pergi ke coffee shop berdua ku jadwalkan hanya sekali sebulan agar tetap waras.
Karna awal pernikahan, ku pikir itu adalah proses adaptasi. Tidak ada pernikahan sempurna yg tidak memiliki cobaan.
Ku trace back apa trigger yg selalu membuat ku meledak, ku coba komunikasikan apa yg terasa sangat membebaniku. Dan yg ku pelajari; suami ku akan mau berubah dan menyesuaikan hal apa pun kecuali 2 hal yaitu keluarga dan peliharaannya. Sampai di level tertentu aku tidak lagi memiliki tenaga utk sekedar menyampaikan perasaanku karna dianggap terlalu menjaga jarak dgn keluarganya
Sekedar mengingatkan, cerita ini dibuat bukan utk minta perhatian. Terima kasih saran dan dukungan teman-teman.
Utk perempuan yg sudah berkeluarga mungkin paham rasanya ‘menggunakan sepatuku’. Dulu pun saat blm menikah, dgn mudahnya aku berpendapat ‘kenapa harus meneruskan hubungan yg dirasa tidak sehat?’. Tapi ternyata ketika dihadapkan dgn situasi serupa, rasanya tidak semudah itu utk mengambil keputusan.
Utk perempuan muda yg blm menikah, perlu diketahui tidak ada masa ‘expired’ pada umur perempuan. Aku pun tidak menikah dgn tujuan utk dinafkahi, bertemu lelaki sempurna, atau menjalani rumah tangga seperti di drama.
Utk lelaki yg tersinggung dgn tulisanku, mungkin ini adalah segelintir cerita yg dirasakan oleh perempuan yg menjalani cerita hidupnya bukan dgn laki-laki baik seperti kalian. Beruntunglah istri-istri kalian, dan semoga selalu seperti itu.
Terima kasih teman-teman yg sudah meluangkan waktu utk membaca cerita ini, it means a lot.
cc namora.ilgi
Peringatan darurat 🚨🚨🚨🚨
Seruan aksi, Indonesia menggugat
⏰Waktu : Senin, 3 Agustus 2026
📍Tempat : Gedung Grahadi Surabaya
“ Cocot Bosok, Awal Mula Kegelapan ”
- Perbaiki Kebijakan Ekonomi
- Perbaiki Tata Kelola Pendidikan
- Penegakan Hukum Berkeadilan
Jadi pesan ustad syam d nikahan Nathalie Holscher itu
'suami itu akan dzolim kalau buat istrinya bekerja.
Bahkan sangat dzolim kalau membuat bekerja untuk dirinya.
Dewi perssik langsung nyaut dengarrrrrrr itu
Bayangin, tanganmu diborgol, kakimu diiket, terus kamu diceburin ke waduk. Ngga ada yang liat seberapa tersiksanya kamu waktu air mulai penuhin paru paru. Ngga ada yang liat seberapa putus asanya kamu waktu matamu masih bisa natap matahari dan langit biru, tapi kamu sadar, kamu ngga bisa ngapa ngapain. Alm Bapak Sumarna, security Waduk Jatiluhur yang meninggal. Dia meninggal karena berupaya membubarkan kerumunan anak muda tapi dia dilakban dan diceburkan ke waduk. Jasadnya baru ditemukan jam 11.00 Katanya para pelaku masih SMP
semoga seluruh pelaku segera ditangkap dan diproses sesuai hukum yang berlaku. @prabowo@ListyoSigitP@DivHumas_Polri@DediMulyadi71 bantu di followup bang budi @BudiBukanIntel
LAPORAN DEMO JUMAT 24- JULI-2026
💛🔥 Menyalaaaa adek adek Mahasiswa, berita kalian sudah menjadi perbincangan di luar Negri betapa bobroknya rezim sekarang dgn segala kebijakan di luar konstitusi Negri ini dgn kegilaan program serta gebrakan yg membuat BANGKRUT NEGARA
Kalo ada konten demo lewat diberanda kalian langsung like dan posting ulang!
Jika itupun kalo Kalian peduli dengan kecemasan negara saat ini, dengan melakukan itu secara tidak langsung kita membantu perjuangan temen" yg disana melalui sosial media, karena media terbungkam!
GILA!!!!! LUSA DEMO SEKEOS INI YANG LEWAT DITL CUMA 2-4 DOANG. UDAH DIDIBUNGKAM ITUKAH KITA??
KEMANA MEDIA LOKAL KITA? SWASTA??
MASAK KITA TAUNYA DARI NEGARA TETANGGA??
kalian bisa bungkam media lokal, swasta, tapi tidak dengan media global. Apa itu setan gunung Kawi???dajjal aja sungkem sama pemerintah
Gila sebobrok ini Indonesia dipimpin Prabowo🇲🇨 Demo sebesar itu ga ada stasiun tv yg nampilin, semua di bungkam! I know,, kita masih kebawa Euforia bola.. tapi inget ada yg lagi berjuang melawan bangsa sendiri!!! Udah separah ini lo guys??! biasanya rame di timeline kok sepi banget ga ada yang upp!!?!!
Ceritanya suamiku lagi goreng tahu
👩🏻🦱: Mas, misalnya kamu jadi bapak rumahtangga mau gak?
🧑🏻: Kamu mau jadi TKW?
👩🏻🦱: Enggak, bukan gitu.. Maksudku misalnya aku jadi wanita karier, terus gajiku sekitar 2,5-3jt, tapi kamu harus di rumah aja nyiapin keperluanku mulai dari masak, nyiapin bekal buat aku, beberes rumah, nyuci, terus pas aku pulang semua harus udah rapi.
🧑🏻: (diem 🙈🙈)
👩🏻🦱: Kamu juga gak boleh dekil. Harus selalu wangi dan pake baju bagus. Tapi kamu cuma aku kasih 2jt/bulan. Mau gak?
🧑🏻: Kalau kerjaan sebanyak itu, 2jt aja gak cukup donk!!
👩🏻🦱: Laaaaahhhh kamu ada ngasih aku segituuuuu????
🧑🏻: Hehehe iya ya (sambil garuk-garuk kepala)
Bukti kalau perannya dibalik, cowok gak akan mampu 🤣🤣