Saya lihat respon dan quote-quote dari post ini, banyak yang marah atau ngejelekin suami...
That is exactly the reason why men choose to be "stupid" at home
With all due respect dan tanpa mengurangi respect ke para wanita/istri, pria udah kerja mati-matian di luar sana buat menafkahi keluarga
- Yang kerja jadi sales, dianjing-anjingin sama calon customer
- Yang kerja jadi tim IT, disuruh mengakomodasi kegaptekan orang 1 kantor
- Yang kerja di finance, ngelayanin klien yang duitnya agak banyak, tapi kelakuan udah kayak sekaya Warren Buffet
- Yang businessman berperang mulai dari sisi legal, revenue, customer, segala macem
- Yang blue collar banyak yang kerja ke lingkungan yang antara menjijikkan, berat banget kerjanya, bahkan membahayakan nyawa
(bukan berarti perempuan gak begitu, saya ngomong mayoritas ya)
Belum lagi capek commuting, drama di jalan, segala macem
Pengennya ya
Pengennya laki-laki tu pas sampai rumah ya jadi rumah. Jadi "TENANG" dan tempat kembali. Gak pengen mikir
Pengennya rumah jadi tempat damai. Energinya udah habis buat battle di luar sana
Kondisi lain adalah: Ya udah nurut aja daripada ribet. Sok biarin istri sama anak yang nentuin. Bapak yang tinggal bayar. Tanpa harus mikir banget. Karena kalau si bapak ikut mikir dan ngambil keputusan:
- Nanti kalau gak sesuai, cekcok lagi (tau kan selera bapak-bapak suka aneh)
A person learning in real time why statisticians & economists use consumption/expenditure as the more appropriate proxy for income in the developing countries but then thinking this proves that national socio-economic survey has malicious intention.
Saya baru disensus BPS, pantas saja banyak yg meragukan akurasi datanya. Iseng sy jawab : saya ga berpenghasilan, saya makan tabungan
Si mba survei ternyata tidak punya kolom isian untuk jawaban semacam itu, jadi dia tanya : sehari hari pengeluaran habis berapa? Ternyata itu diakui sebagai sumber pendapatan. Dia tidak peduli ternyata pengeluaran kita itu dari hutang atau jual-jual aset.
Ya pantas saja diatas kertas ekonomi kita terus naik kalau cara pencatatanya begitu
cc : ige_pranata
Ini framing yang cukup berbahaya sih. Coba riset dulu sebelum menarik kesimpulan.
Sensus Ekonomi (SE) adalah kegiatan rutin BPS yang dilaksanakan setiap 10 tahun sekali pada tahun yang berakhiran angka 6. Kegiatan ini sudah berlangsung sejak 1986, jadi tidak ada kaitannya dengan poin-poin yang disebutkan pada unggahan di bawah.
Memang apesnya, pelaksanaan SE tahun ini bertepatan dengan kondisi ekonomi yang sedang sulit. Wajar kalau masyarakat sedang sensitif. Tapi bukan berarti kita bisa sembarangan membangun narasi seolah-olah Sensus Ekonomi muncul karena kondisi ekonomi saat ini.
Yang paling kasihan justru petugas lapangan. Mereka hanya menjalankan tugas, penghasilannya juga tidak besar, apalagi setelah berbagai kebijakan efisiensi. Kalau bisa, mari bantu mempermudah pekerjaan mereka, bukan malah memperkeruh keadaan dengan informasi yang keliru.
Di sisi lain, ini juga menurut saya menjadi bahan evaluasi bagi tim humas BPS. Kenapa masih banyak masyarakat yang bahkan tidak tahu bahwa Sensus Ekonomi adalah agenda rutin setiap 10 tahun? Saya sering merasa publikasi BPS masih terlalu berputar di lingkungan internal BPS. Coba lihat media sosialnya, kontennya lebih banyak berisi dokumentasi kegiatan pejabat dibanding edukasi yang menjawab pertanyaan paling mendasar masyarakat: apa itu Sensus Ekonomi, mengapa dilakukan, dan apa manfaatnya bagi masyarakat.
Saya juga melihat masih ada petugas yang kurang siap menjawab pertanyaan-pertanyaan dasar dari responden. Bahkan ada yang langsung membawa-bawa RT, kepala desa, atau aparat ketika responden menolak. Pendekatan seperti itu justru memperburuk persepsi masyarakat dan menimbulkan kesan seolah mereka sedang dipaksa.
Kalau masyarakat belum paham, itu bukan semata kesalahan masyarakat. Bisa jadi komunikasi publik kita memang belum efektif. Edukasi yang baik akan jauh lebih membangun kepercayaan dibanding pendekatan yang terkesan mengintimidasi.