@un_bel0ved ㅤTerhormat sekali dirinya dianggap sebagai sahabat. Sayang sekali, momennya kurang tepat untuk merayakannya.
ㅤ“Sebatas menggendong Hirito pulang saja sudah sangat membantu,” ia pun melirik ke anaknya yang masih tantrum, bahkan hingga membenamkan wajah ke bantalan sofa.
@ve_riahano ㅤ“Hiwwito.. anen Ceima...” pengakuan anaknya itu membuat Naoya mengerjap matanya, seakan tak menyangka jawaban atas masalahnya.
ㅤ“Hiwwito mau ama Ceima!! Anan keca waki!” si kecil lanjut berceloteh di sela isakannya, celotehan yang diperhatikan sang ayah dalam diamnya.
@ve_riahano ㅤKesabaran, ketenangan, empati. Walau ia tak begitu paham dunia berkuda yang digeluti nonanya, tahu betul ia bahwa olahraga tersebut mengasah setidaknya ketiga hal itu. Wajar saja jika masa tantrum anaknya itu lebih cepat reda, usai mendapati sang nona dalam peluknya. ×
@ve_riahano ㅤTangisan si kecil pun semakin terdengar lantang, sama seperti sewaktu awal ia dijemput ayahnya. Satu-satunya perbedaan adalah di mana sang anak melampiaskan tangisannya. Dari yang awalnya diarahkan entah ke mana, kini ditumpahkan ke pakaian sang nona, kala si kecil memeluknya.
ㅤ“Baiklah, hati-hati di jalan,” bergegas mengonsumsi obat migraine tanpa meminum air, demi menguatkan diri dalam menghadapi anaknya yang masih merajuk.
ㅤ“Sama-sama,” tuturnya selagi duduk di dekat anaknya yang masih saja tantrum.
ㅤ“Membiarkannya menangis seperti ini, maksud Anda?” saat yang tepat untuk mengeluarkan obat migraine dari sakunya.
"terima kasih," ucapnya sambil meraih cangkir kopi
"Saya rasa Hirito-kun butuh waktu untuk memproses perasaannya—jadi untuk saat ini, hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah memberinya ruang."
“Gomensai...” lalu tutup mulut pakai tangan supaya nangisnya tidak tambah besar. Kalau begitu permen dan bonekanya diserahkan padanya kalau-kalau Hirito-kun mau.
ㅤDi satu sisi, Naoya telah kembali dengan senampan kopi dan beberapa makanan ringan untuk disajikan. Melihat anaknya yang lanjut menangis, ia menghela nafas.
ㅤ“Saya rasa Anda juga tidak bisa menyelesaikan masalahnya, ya. Silahkan, kopi dan cemilannya.”
Akira diam dan membiarkan si kecil menangis di pojok sofa. Ia berhenti membujuk dan hanya memberikan anak itu ruang untuk meluapkan emosinya sambil terus mengawasi dengan tenang
ㅤTolong, kenapa pasiennya bertambah menjadi dua orang.
ㅤ“Ruka-san, terima kasih atas usaha Anda. Pulanglah saja, serahkan tantrum Hirito kepada saya,” walau rasanya migraine kepalanya hendak mengalami migraine juga.
"iya, aku nggak tahu," jawabnya pelan—membiarkan dirinya dipukuli oleh tangan mungil itu.
"Karena aku nggak tahu, Hirito-kun harus memberi tahuku, oke?"