“Ada yang mengatakan bahwa puasa adalah untuk menghayati kemiskinan. Terus orang miskin menghayati apa? Kemiskinan kok dihayati? Kalau berani ya jadi miskin seperti Rasulullah. Menghayati itu kan seperti akting saja.”
— Emha Ainun Nadjib
Kalau bisnis sepi biasanya masalahnya di Marketing
Kalau rame tapi yg beli sedikit biasanya masalahnya di Sales
Kalau rame, banyak yg beli, tapi ga ada repeat order biasanya masalahnya di produk
Kalau rame, banyak yg beli, repeat order, tapi rugi, biasanya masalahnya di management atau accounting
Di bisnis yang kalian handle, masalahnya ada dimana?
@Strategi_Bisnis kata ditemukan itu kesombongan orang Eropa, sama seperti mereka mengatakan menemukan benua Amerika. Jauh sebelum kedatangan orang Eropa, Greenland sudah berabad-abad dihuni orang Inuit, salah satu sukubangsa Eskimo.
Petarung, Bukan Pewaris
Zaman sekarang, istilah “privilege” sering dilempar buat ngecilin orang lain. Padahal, nggak semua sukses datang dari warisan keluarga; banyak yang lahir dari luka dalam dan perjuangan panjang yang bikin capek jiwa raga.
Beasiswa ke luar negeri, artikel di Oxford-Cambridge, dua PhD, sampe jadi dosen tetap di kampus top dunia—semua itu bukan gara-gara nama abah saya lho. Mereka bahkan nggak kenal siapa abah saya. Di dunia akademik global, yang dihargai cuma merit, kerja keras, dan integritas. Titik.
Saya lahir dari keluarga Kiai, ya. Tapi realita alam: yang belajar serius dan gigih pasti maju, entah santri biasa, Gus, Ning, atau siapa pun. Man jadda wa jada. Yang males? Ya stuck aja.
Beasiswa saya? Bukan titipan Kemenag atau lobi-lobi gelap. Saya perang mati-matian, jatuh bangun, baru bisa dapet beasiswa S3 langsung dari kampus Australia dan Singapura. Saingannya? Calon dari seluruh dunia, bukan cuma lokal.
Saya nggak nolak privilege—itu ada, dan harus diakui biar kita sadar ketimpangan sosial. Tapi pake itu buat ngebasmi perjuangan orang lain? Itu iri buta dan buruk sangka banget, mas bro!
Kunci sukses itu, pertama, kerendahan hati buat terus belajar meski udah tahu banyak, dan, kedua, keteguhan buat nggak nyerah walau pintu dunia keliatan nutup rapet. Dua hal ini nggak bisa diwarisin, harus dibangun sendiri cuy 🤣
Saya ini petarung tulen, bukan pewaris. Anda? Tukang nyinyir?
Komentar-komentar merendahkan, bahkan melecehkan, seolah bilang: “Santri? Kolot, kampungan, mana bisa tembus internasional. Kalo ada yang sukses, pasti anomali doang—atau karena lo Gus dengan jalur VIP.”
Mereka nggak tahu: banyak santri biasa (bukan Gus/Ning) lagi ngajar di Jerman, Amerika, Belgia, Kanada, Jepang, dst. Belum lagi ratusan santri yang rebut PhD lewat beasiswa dengan susah payah.
Kebencian dan kurang wawasan lo jangan dipamerkan di depan umum. Lo lagi ngejek akal sehat lo sendiri, lho 😏
Santri-santri, ayo gaspol maju dengan senyum dan doa. Balas caci maki dengan prestasi nyata 👍👏
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Namanya Khairil Anam (27). Ia lahir dari keluarga petani tembakau yang sudah turun temurun hidup dari tembakau. Tidak hanya untuk kebutuhan perut, tapi juga pendidikan.
Panggilan akrabnya, Cak Anam. Bertemu dengannya di Desa Ketowan, Kecamatan Arjasa, Kamis, 24 Juli 2025. Persis di daerah bawah sebelum masuk ke pegunungan Desa Kayumas. Pertemuan itu terjadi di tengah upaya saya mengulik tembakau di Situbondo, selain Tambeng.
Sejak kecil, Cak Anam selalu senang jika ikut orangtua ke sawah. Motifnya sederhana: karena makan siang di sawah jauh lebih nikmat, ditemani pemandangan hijau dan semilir angin.
“Kalau di rumah, makan itu cuma menghabiskan satu centong, tapi di sawah bisa lebih dua centong,” ucap Cak Anam sambil tertawa mengenang masa kecilnya.
Baca selengkapnya di https://t.co/SpWCRMXsMO
Robohnya Pesantren Kami
Musibah runtuhnya Ponpes Al Khoziny di Sidoarjo bukan sekadar ambruknya beton dan besi. Ini runtuhnya kelalaian yang disembunyikan di balik jargon keikhlasan. Takdir memang kuasa Tuhan, tapi kelalaian adalah pilihan manusia.
Kita sering berlindung di balik kalimat “sudah takdir”, seolah-olah Tuhan yang disalahkan atas kecerobohan kita. Padahal Allah memberi akal untuk menghitung beban, memberi aturan demi keselamatan, dan ilmu agar kita tak membangun di atas kesalahan. Bila itu diabaikan lalu kita menyebutnya “musibah”, bukankah itu bentuk kezaliman terhadap amanah-Nya?
Masalah kita juga ada pada cara berpikir: menganggap rencana bisa diganti niat baik, prosedur diganti doa, dan keselamatan digadaikan demi percepatan. Kita ingin mendirikan pesantren tapi lupa bahwa pondok bukan hanya tempat mengaji, tapi rumah bagi akal sehat. Pesantren harus menjadi tempat yang nyaman dan aman.
Di antara reruntuhan itu, ada darah yang berserak, tubuh yang remuk, air mata dan jeritan. Santri datang mencari cahaya, bukan untuk terkubur di reruntuhan pondok.
اللَّهُمَّ ارْفَعْ دَرَجَاتِهِمْ فِي الْجَنَّانِ، وَاجْعَلْ دِمَاءَهُمْ شَهَادَةً عَلَى طُهْرِ نِيَّاتِهِمْ، وَعَلِّمْنَا أَنْ نَبْنِيَ بِالْعِلْمِ قَبْلَ أَنْ نَبْنِيَ بِالطُّوبِ وَالْإِسْمَانْتِ.
رَبَّنَا، لَا تَجْعَلْ غَفْلَتَنَا سَبَبًا فِي هَلَاكِ الْأَبْرَارِ، وَلَا تَكْتُبْنَا مِنَ الْمُقَصِّرِينَ الَّذِينَ يَقُولُونَ “قَدَرُ اللَّهِ” وَقُلُوبُهُمْ تَعْلَمُ أَنَّهُمْ فَرَّطُوا.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ دُمُوعَ أُمَّهَاتِهِمْ مِفْتَاحًا لِرَحْمَتِكَ، وَآهَاتِ آبَائِهِمْ سُلَّمًا يَرْتَقُونَ بِهِ إِلَى جَنَّاتِ النَّعِيمِ.
“Ya Allah, angkatlah derajat para santri yang gugur di sisi-Mu, jadikan darah dan debu mereka sebagai saksi kesucian niat mereka. Ajarkan kepada kami untuk membangun dengan ilmu sebelum kami membangun dengan bata dan semen. Jangan biarkan kelalaian kami menjadi sebab hancurnya jiwa-jiwa suci. Jangan catat kami sebagai hamba yang mudah berlindung di balik kata takdir padahal kami tahu kami telah lalai. Ya Allah, jadikan air mata ibu-ibu mereka kunci rahmat-Mu, dan keluh kesah para ayah mereka tangga menuju surga-Mu yang penuh kedamaian.”
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Membahagiakan orang tua itu mudah, yang susah itu selalu membahagiakan orang tua.
Sholat itu mudah, yg susah itu sholat terus.
Shodaqoh itu mudah, yg susah itu selalu shodaqoh.
Singkatnya, berbuat baik itu mudah, yg susah itu selalu berbuat baik (Istiqomah).
Karena kebaikan itu harus disalurkan kepada yg membutuhkan dan berhak menerimanya. Agar kebaikan saling terhubung, saling memberi manfaat, sebagai manifestasi syukur kita kepada Tuhan YME.
Soalnya, orang yang ga punya dana cadangan dan bergantung cuma pada 1 sumber penghasilan akan terjerat utang konsumtif hanya untuk mencukupi kebutuhan dasarnya.
Sehingga kelompok inilah yg bakal jadi korban paling awal.
Tapi uniknya, dari sebuah riset bilang, kalo orang yg bisa survive di tengah krisis bukan orang kaya saja!