Buat kalian yang mendukung Board of Peace dan setuju Indonesia ikut bergabung, beberapa jam yg lalu Israhell kembali melakukan serangan udara ke Gaza...
Sejak 'gencatan senjata' disepakati pada akhir tahun lalu, Israhell udah melanggar gencatan senjata lebih dari 1.300x serta membunuh 480 orang Palestina... 🇵🇸
Ada seorang kenalan yg ngajakin ketemuan di Sbux, saya tolak dengan alasan saya boikot. Eh dia malah ngolok2 katanya nggak ngaruh.
Saya bales: "Lu tuh muslim, masa nggak tau semut aja berusaha madamin apinya Nabi Ibrahim walau tau nggak ngaruh."
Dia nggak bales WA-nya lagi.
Early this morning, a massive fire struck residential areas and rows of kiosks at Kasongan Market, Katingan Regency, Central Kalimantan, Indonesia 🇮🇩(26/26)
The fire spread rapidly, destroying nearby buildings. No official details yet on casualties.
Pohon di hutan yang ditebang, umurnya-bisa jadi-lebih tua dari Indonesia. Paradok "Cinta Tanah Air", kalangan ultra nasional garis kenyal paling suka dibohongin dengan jargon NKRI harga mati. Harga-nya dinego mereka, mati-nya buat kalian.
Tim Jurnalisme Data @hariankompas mengungkap data selama 34 tahun terakhir, laju deforestasi di Pulau Sumatera yg mengakibatkan bencana besar beberapa hari lalu. Hutan Sumatera lenyap dg cepat selama 34 tahun terakhir (1990-2024). Sila yg mau baca
https://t.co/vgAMXrsWoa
Pernyataan presiden Prabowo yang menonjolkan “karunia kelapa sawit” di tengah bencana ekologis di Sumatera bukan saja tidak peka, tapi menyesatkan secara politik maupun ekologis.
Lebih dari 900 orang tewas dan ratusan ribu lainnya mengungsi karena hutan di hulu digunduli untuk sawit, tambang, dan HTI, yang dibutuhkan publik adalah pengakuan atas kerusakan dan komitmen menghentikan ekspansi, bukan promosi sawit sebagai bahan bakar.
[1] Pidato seperti ini tampak memutihkan peran industri sawit dalam deforestasi dan krisis ekologis yang kini meledak di Sumatera. Data organisasi lingkungan menunjukkan jutaan hektare hutan di Sumatera berubah menjadi kebun sawit dan konsesi industri lain, menurunkan daya serap air, merusak daerah tangkapan, dan memperparah banjir serta longsor setiap musim hujan.
Dengan menyebut sawit sebagai “berkah” tanpa menyentuh jejak kerusakan dan konflik agraria, sama artinya dengan mengabaikan fakta bahwa banyak korban bencana justru tinggal di sekitar kebun-kebun besar yang menggantikan hutan mereka.
[2] Narasi bahwa sawit sebagai solusi energi “hijau” adalah bentuk greenwashing yang berbahaya. Biofuel berbasis sawit mungkin mengurangi impor BBM fosil, tetapi jika diproduksi dengan merusak hutan dan lahan gambut, menggusur masyarakat adat, maka total emisi dan kerusakan ekologisnya bisa lebih besar daripada manfaat yang diklaim.
Dan, di tingkat tapak, bioenergi sawit itu berarti perluasan kebun, penggusuran masyarakat adat dan petani, serta krisis air dan pangan; dan ini jelas bertolak belakang dengan semangat keadilan iklim yang seharusnya melindungi kelompok paling rentan dari dampak krisis iklim.
[3] Pernyataan seperti ini justru memperlihatkan betapa dalamnya pemerintah terikat pada kepentingan korporasi ekstraktif. Di tengah penderitaan warga, yang diutamakan bukan perlindungan ruang hidup, audit izin, dan penghentian ekspansi di kawasan rawan bencana, tetapi memastikan industri sawit tetap dianggap pahlawan ekonomi dan energi.
Jika cara pandang semacam ini terus dipertahankan, bencana ekologis akan berulang dan semakin parah, sementara negara kian kehilangan legitimasi sebagai pelindung rakyat, berubah menjadi juru promosi bagi bisnis yang justru menjadi bagian dari sumber masalah.
- 961 orang meninggal dunia
- 293 orang hilang
- 5.000 orang luka-luka
- 1.057.482 pengungsi
Duhai pemilik konsesi hutan dan korporat bertopeng birokrat! Tangan kalian berlumuran lumpur dan darah.
Rezim neo orba biadabbb!!!. Hutan2 dijarah para pemilik modal. Rakyat dimiskinkan. Giliran bencana melanda rakyat yg harus menanggung akibatnya. Negara ini sudah rusak dikuasai mafia & mustahil untuk dibenahi. Penyakitnya sdh kronis. Demokrasi & sistem hukumnya dirusak.
Gua bacot masalah Morowali mungkin kalau gua dah gak ada umur baru kerasa dampaknya. Ini semua akan bermuara pada kemajuan teknologi dan korporasi.
Bahan baku baterai dikeruk besar-besaran dari Indonesia. Nanti saat teknologi itu datang massive, Indonesia cuma jadi target pasar.