Dalil bahwa sesungguhnya kaum perempuan diciptakan sebagaimana penciptaan hewan melata dan tumbuh-tumbuhan. Maka dia (perempuan) menyerupai anak kecil. Akan tetapi, kenikmatan (bagi laki-laki) tidak akan sempurna kecuali dengan adanya beban hukum (taklif) bagi mereka (perempuan).
kenapa yah, ulama mutaqaddim itu suka pakai sighoh begini. kaya seakan wanita tuh lebih buruk dari lelaki gitu. padahal kek aku gamau juga seujon ama beliau", tapi tetep ga terima gitu baca ini. atau emang ilmu ku yang belum nyampe yah?
jujur jadi pengen research soal ini
โjangan ada apiโ see? even the crowd was reminding each other not to start a fire when things were chaotic. so who are these people claiming that the fire at the bus stop was caused by the crowd, when the crowd itself kept warning not to start a fire?
BREAKING:
Bentrokan di kawasan Semanggi kembali pecah, sekitar pukul 23:19.
Disini Mimin menjumpai sebuah anomali dalam penanganan aksi, sejujurnya agak kaget melihat kenyataan ini.
Sebelumnya Mimin mau kasih disclaimer dulu, bahwa postingan ini bukan bertujuan untuk memprovokasi atau untuk mendiskreditkan Polri, tapi pyur Mimin mau kasih nutrisi untuk Polri agar lebih profesional.
Untuk itu patut rasanya Mimin tag Pak @prabowo, juga Pak @ListyoSigitP dan Pak @ahriesonta . Tak lupa juga Pak @fadlizon dan @bang_dasco .
Tadi Mimin sempat lewat di lokasi dan menjumpai kerumunan anak-anak SMU atau STM serta remaja yang sedang terlibat bentrokan dengan aparat kepolisian di sekitar Semanggi. Terlihat para remaja ini sesekali jongkok , pertanda mulai letih dan ingin menyudahi 'pertikaian'.
Mimin ajak pulang, karena memang sudah larut malam. Mereka menyetujui, karena memang sudah tidak ada lagi suara tembakan dan hanya terlihat kobaran api dari halte busway yang terbakar.
Melihat kelompok garis depan mundur, maka kelompok di belakangnya juga berangsur meninggalkan lokasi. Namun belum sampai 5 menit, terdengar suara leusan dan sepertinya dari senjata pelontar gas air mata.
Benar saja, sesaat kemudian jatuh tabung gas air mata yang menyemburkan asap putih. Serangan ini membangkitkan kembali emosi para remaja yang sedianya mau meninggalkan gelanggang pertarungan, sehingga secara otomatis mereka kembali maju sambil menggenggam batu sebagai senjata.
Bentrokan yang sempat mereda kini pecah lagi, bahkan terlihat serangan gas air mata semakin gencar.
Dalam hati Mimin berkata, apa sih ini.? Massa aksi sudah mulai mundur teratur kok malah ditembaki lagi.?
Spontan Mimin berasumsi bahwa pihak kepolisian seakan tak ingin mengakhiri bentrokan.
Dalam benak Mimin juga akhirnya muncul pertanyaan, apakah misi sebenarnya yang sedang diemban oleh pihak kepolisian..??
Ingin meredakan gejolak dan aksi massa kah..??
Mau asah skill melontarkan gas air mata..??
Atau ada misi lain..??
Mimin dan mayoritas masyarakat Indonesia sekuat tenaga untuk membantu pemerintah dalam meredakan situasi, agar roda perekonomian kembali lancar dan iklim investasi meningkat. Tapi peran aktif masyarakat justru seperti termentahkan oleh sikap aparat kepolisian yang terkesan ingin memperpanjang eskalasi.
Dengan kondisi pikiran campur aduk, antara kaget dan kecewa, seperti yang Pak Prabowo sampaikan dalam statement resmi tadi siang. Ya, Pak.. Mimin juga bisa kaget dan kecewa.
Mimin mengira peristiwa yang merenggut nyawa Affan telah menjadi bahan pembelajaran bagi aparat kepolisian, sehingga terpacu untuk merubah mindset anggotanya untuk meraih kinerja yang lebih profesional.
Kejadian malam ini justru menghadirkan gambaran yang sebaliknya.
Kalau kita mau fair dalam menganalisa kejadian, sebenarnya massa itu datang karena merasa tertantang oleh arogansi para pejabat dan aparat. Mereka ingin membuktikan bahwa dirinya tak serendah apa yang dibayangkan oleh para pejabat juga aparat.
Jika mereka tidak menemukan lawannya, maka mereka dengan sendirinya akan membubarkan diri.
Terbukti saat aparat menghentikan tembakan, mereka juga berhenti menyerang. Artinya langkah persuasif lebih efektif ketimbang represivitas.
Dan fakta yang tak bisa kita ingkari, bahwa kedatangan massa adalah reaksi yang timbul dari sikap provokatif para pejabat negara, terutama anggota DPR dan para menteri kabinet. Sikap dan kebijakan yang bertentangan dengan aspirasi masyarakat.
Dalam hal ini menurut Mimin yang musti segera diperbaiki adalah gaya komunikasi para pejabat dengan publik, sebagai pejabat tak perlu rasanya berpamer ria. Cukup laksanakan tugas dan memberikan kebijakan yang aspiratif.
Speechless, Pak.. Segitu aja dulu deh, semoga bisa menjadi kritik dan saran dari Mimin, semoga menjadi kontribusi yang sifatnya konstruktif.
Kurang dan lebihnya, biarkan netizen yang menilai. ๐