Begitu ada pidato yang menyederhanakan masalah dengan kalimat "rakyat desa enggak pakai dolar", mereka langsung menyadari adanya ketidaksesuaian antara narasi tersebut dengan realitas yang mereka hadapi.
Gaya komunikasi yg menempatkan desa seolah-olah "benteng tradisional yang kebal dari dinamika global" cocoknya buat komunikasi politik taun 70an. Sekarang, publik menuntut transparansi dan komunikasi yang berbasis data serta empati yang realistis, bukan sekadar jargon penenang.
Mereka melihat langsung berita bahwa Rupiah melemah hampir menyentuh Rp17.700-an per dolar AS.
Mereka membaca analisis ekonomi lewat konten-konten pendek yang dibuat kreator konten edukatif.