selain menemukan spark hidup, semoga kamu nemuin juga spark dalam beribadah. sholat tepat waktu, gak terburu2, baca bacaan sholat dengan jelas, betah sujud di atas sajadah, dan tenangnya hatimu ketika berdoa
Aku pikir kunci hubungan awet tuh ketemu the right person, ternyata ah sudah lah.
Baca jurnal hari ini dan nemu fakta menarik, relationship satisfaction itu literally bertumpu sama intimasi, cara kalian handle konflik, dan gimana mindset kalian berdua soal hubungan itu sendiri. hal-hal kayak umur, gaji, atau fisik malah bukan faktor utama.
Tapi happy di hubungan โ happy sama hidup secara overall.
Kalau ngomongin life satisfaction, yang paling ngaruh tuh mental health (kayak symptoms depresi) sama kesehatan fisik. mental yang lagi berantakan bakal otomatis ngaruh ke hubungan kamu. jujurly make sense sih, internal issues dari dalem diri kita tuh sadar nggak sadar pasti kebawa-bawa ke hubungan.
Ubah mindset kamu jadi โmental gue udah cukup sehat belum? dan se sehat apa hubungan kita?โ
punya hubungan yang green flag emang ngebantu naikin kepuasan hidup, tapi tetep aja kesehatan fisik, kondisi mental, dan gimana cara kalian berantem tuh punya porsinya masing-masing.
Terus harus gimana dong?
Jurnal ini nyaranin buat jangan struggle sendirian. Misal kamu lagi ada isu mental atau fisik, partner kamu harus diajak involved. nah kalau isunya emang di hubungannya, fokus aja perbaikin komunikasi, belajar conflict management yang sehat, jaga intimasi, dan coping stress bareng-bareng. Tiap couple kan dinamikanya beda-beda ya, jadi emang nggak ada one size fits all solution alias disesuaiin aja sama kondisi masing-masing.
Kita justru menghancurkan hubungan yang sebenarnya kita takut kehilangan.
Relationship sabotage tuh ga melulu soal sengaja nyari ribut. Kadang bentuknya malah milih ngejauh (avoidant parah), gampang nyerah, atau stop effort saking takutnya ujung-ujungnya bakal disakitin juga.
Ternyata ada 3 pola utama kita nyabotase hubungan. Defensiveness, trust difficulty, sama lack of relationship skills. Intinya sih dikit-dikit ngerasa diserang terus bawaannya defensif, trust issue mendarah daging (dikit-dikit overthinking atau cemburu buta), dan literally clueless gimana caranya ngadepin konflik dengan sehat.
Kadang apa yang kita kira sebagai coping mechanism buat ngelindungin diri, eh jatohnya malah jadi bom waktu yang ngancurin hubungan pelan-pelan. Risetnya juga nge-spill kalo pola-pola ini relate abis sama insecure attachment yang bikin vibes hubungannya makin drop.
Terus how to stop this cycle? Bukan berarti kamu harus maksa jadi pasangan green flag tanpa celah ya. Tapi lebih ke naikin self-awareness buat ngenalin red flag di diri kita sendiri.
Belajar buat gak langsung tantrum atau defensif pas dikritik, berani ngasih trust tanpa jadi controlling freak, dan biasain komunikasi sampe clear bukan malah ngasih silent treatment. Pelan-pelan mulai upgrade relationship skills dan healing insecure attachment kita. Biar kita gak kejebak muter-muter di toxic cycle yang itu-itu aja.
"kenapa giving space (memberi ruang) adalah love language yang underrated?
karena membiarkan pasangan memiliki ruangnya sendiri itu menuntut rasa percaya yang luar biasa"
Ternyata pacaran tuh bisa ngubah cara kita ngelihat diri sendiri.
Kita mikirnya sebuah hubungan itu cuma proses ngenalin orang lain. Padahal, pelan-pelan kita juga lagi "nyerap" sebagian dari diri mereka ke dalam diri kita.
Mulai dari cara mikirnya, selera musiknya, kebiasaannya, sampai cara mereka ngelihat dunia.
Kayaknya ini deh alasan kenapa orang tertentu bisa terasa menarik banget.
Bukan karena sifatnya yang kita suka, kita tertarik karena dia bawa sesuatu yang belum pernah kita punya.
Dunia baru, sudut pandang baru, pengalaman yang beda. Dekat sama dia bikin dunia kita rasanya jadi ikut lebih luas.
Tumbuh bareng pasangan bukan berarti kita harus berubah jadi mirip dia. Kalau di psikologi ada yang namanya Self Expansion Theory di mana kita ngambil hal-hal baru dari pasangan buat memperkaya diri.
Masalahnya baru muncul kalau kita terlalu banyak kompromi dan berubah, sampai akhirnya lupa mana diri kita yang asli.
Jadi hubungan yang sehat itu mungkin bukan nemuin orang yang bisa "melengkapi". Tapi nemuin orang yang bikin kita berkembang, tanpa harus bikin kita kehilangan jati diri.
Di salah satu videonya, Dr. Francesca Bocca-Aldaqre, seorang ahli psikologi Islam dan neuroscience, membahas satu kebiasaan yang mungkin tanpa sadar dilakukan sebagian Muslim: suppression atau menekan emosi.
Beliau mengangkat topik ini karena sebagian dari kita mungkin punya gambaran bahwa Muslim yang โidealโ adalah yang tidak menunjukkan marah, tidak mengeluh, dan tidak mengakui ketika sedang mengalami kesulitan.
Beliau membedakan antara menahan emosi dan menekan emosi. ๐๐ป
Yg bikin sedih, utk orang yg secara ekonomi udh kalah, we can't afford to lose. If we fail, it hits two times harder because to "retry" always comes with a cost. Bisa menikmati proses itu privilege. Nikmati selagi bisa, soalnya ada yg sibuk berjuang dan terlalu fokus di hasil.