Jujurly, I lihat banyak fenomena laki-laki ketika srress; sering menganggap bahwa pasangan mereka lah penyebabnya. Padahal kalo ditelaah :
1. Mereka memiliki manajemen emosi yg buruk
2. Lingkungan kerja mereka toxic
2. Beban kerja mereka ada pressure dimana-mana
Klean sehat?
Sepakat banget sama hal ini. Bukannya mengkritik kebijakan dalam penyelesaian masalah oleh menteri tersebut malah semakin merendahkan perempuan sampe statement Mba Nana dan Prilly dikaitin segala trus dibuat konten.
Kek berasa kaum mereka dikorbanin. MEMALUKAN.
Yang asbun menteri.
Lo tai2in lah si menteri.
Tapi enggak.
Bukannya dipake buat highlight:
1. Jeleknya kualitas problem solving pejabat
2. Jeleknya public speaking pejabat
Lo semua malah jadiin excuse buat rendahin perempuan.
Goblok.
https://t.co/mUR3DLN2id
Noh, Bapak nya aja yang enggak punya duit, tapi emak nya tetap cinta dan nggak ninggalin. Jadi, stop glorifikasi kalimat cuma Ibu lo pada yang bisa nerima kalau kaum kalian ndak punya duit.
@darthchart Ini REAL. Apalagi jika ibu nya pure bergantung pada anaknya tersebut. Ngurangin jatah bulanan saja bisa langsung dicecar dengan ribuan pertanyaan. Ini sepupuku mengalaminya sendiri. Jadi, bullshit banget yang ngomong โlaki2 ndak ada duit cuma ibu nya doang yang cintaโ ๐ญ
โPara bapak, sudahi prinsip: mendidik anak laki-laki itu mudah. Turun tangan, didik anak laki-lakimuโ
Semalam 16 mahasiswa FH UI disidang sampai jam tiga pagi, sidang terbuka, disaksikan secara live oleh ribuan orang.
Kejadian ini tidak tiba-tiba. Ini akumulasi. Terlalu lama society menelan mentah-mentah prinsip: โmendidik anak laki-laki itu mudah.โ
TIDAK.
Justru karena dianggap mudah, banyak hal yang tidak diajarkan. Lihat saja pola yang sering diremehkan:
Berawal dari obrolan santai yang melecehkan, jadi kebiasaan, jadi cara pandang, lalu jadi perilaku nyata (liat gambar piramida perkosaan)
Tidak semua langsung jadi pelaku kekerasan seksual. Tapi hampir semua berangkat dari titik yang sama: normalisasi.
Society sibuk mendidik anak perempuan: jaga diri, jaga batas, jaga perilaku. Tapi kendor pada anak laki-laki.
โNamanya juga laki-laki.โ
โCuma bercanda.โ
โNanti juga ngerti sendiri.โ
"Boys will be boys"
Tidak.
Karakter tidak tumbuh sendiri. Ia dibentuk. Dilatih. Ditegaskan.
Orang tua, perhatikan obrolan anak laki-lakimu. Kalau sudah mulai ada convo yang melecehkan: Tegur. Luruskan. Jangan ditertawakan atau dianggap enteng. Karena di situlah fondasi dibangun.
Terutama para bapak. Anak laki-laki belajar bukan dari teori, tapi dari contoh.
Bagaimana kamu bicara tentang perempuan. Bagaimana kamu memperlakukan pasanganmu. Bagaimana kamu menempatkan perempuan sebagai manusia, bukan objek. Semua itu direkam.
Dan akan mereka ulang.
Ketika seorang bapak menganggap mendidik anak laki-laki itu mudah, dia sedang memilih untuk menjerumuskan anak dengan tidak hadir secara penuh, tidak waspada, hingga di satu titik si anak bisa jadi pelaku ataupun korban.
Anak kemudian dibesarkan oleh algoritma, oleh teman, oleh budaya yang seringkali permisif terhadap pelecehan dan standar moral yang yang tidak sehat.
Kalau kita tidak serius mendidik anak laki-laki hari ini, jangan kaget dengan realitas besok. Karena pelaku tidak lahir tiba-tiba. Mereka dibentuk pelan-pelan, dari hal-hal yang selama ini dianggap โsepele.โ
Just incase ada yang komen: "emang siapa yang bilang mendidik anak laki-laki itu mudah? Saya dididik dengan sangat keras"
Oh well, cara pandang itu sudah mengakar sejak lama di masyarakat.