Ini gila banget 😆😆😆
2 komedian Russia belaga jadi pejabat Jerman, vid call dgn Reza Pahlevi (putra Shah Iran yg digulingkan, dan sekrg jd pion zionis untuk ditempatkan memimpin Iran begitu rezim Tehran runtuh), dan dia terang2an menyatakan rencana amrik dan yahu memang merencanakan perang ini.
Parah bener ini prank dan rencana busuk yg terbongkar ini 😆
Ini terjemahan bahasa Rusia si akhir video
https://t.co/xlZW0mG6We
In southern Lebanon a Sunni scholar out of respect for the Shia prayed with his hands down, out of respect for the Sunni scholar, the Shia scholar raised the Sunni scholars hands to his prayer position.
This is coexistence, tolerating each others beliefs
🇮🇱 Israeli soldier: Maybe you think you are in Malmo; you are not in Malmo, my friend. Okey?
🇸🇪 Young Man: You maybe think you are in Israel?
🇮🇱 Israeli soldier: I am in Israel.
🇸🇪 Young Man: You are in Palestine.
Diplomat Israel langsung kalah telak dan terdiam seribu kata saat dikasih paham oleh Avi Shlaim. 😂
Puas banget ngeliat propaganda Zionis dipatahin kayak lidi begini. Wkwk
Seorang WNA menyatakan tdk ingin kembali ke Indonesia krn menganggap sistem pajak di Indonesia tdk berpihak pd rakyat. la mengaku bahwa di negara tempatnya bekerja, pajak yang dibayarkan berbanding lurus dengan fasilitas seperti jaminan kesehatan dan kesejahteraan tenaga kerja.
Cinta yang Tak Berlalu Meski Ramadan Pergi
“Tuhan yang kamu sembah di bulan Ramadan itu sama dengan Tuhan yang kamu sembah di luar bulan Ramadan. Lantas, mengapa caramu beribadah berbeda?” — Rumi
Pertanyaan ini menghantam pelan tapi dalam. Mengapa saat Ramadan datang, hati kita terasa hidup, sajadah tak pernah kosong, dan malam-malam menjadi taman rindu? Tapi ketika Ramadan berlalu, gairah itu ikut surut. Padahal Tuhan tak pernah pergi. Tak berubah. Tak berpaling.
Pertemuan dengan Ramadan membuat hidup lebih jernih. Waktu terasa suci, dan dada dipenuhi harap ampunan. Tapi perpisahan dengannya seolah mengembalikan kita pada dunia lama—tempat di mana doa-doa sering tertinggal dan hati kembali beku. Padahal Tuhan yang kita sembah sebelum dan sesudah Ramadan tetap sama. Lantas, kenapa cinta kita berbeda?
Mungkin inilah ujian cinta sejati. Pecinta tak menunggu momen, tapi menciptakan momen. Ia mencinta dalam hadir dan dalam jarak. Tak peduli musim. Tak peduli waktu. Karena yang dicinta tetap satu, tak berubah dan tak bergeser. Cinta itu menetap, bukan sekadar singgah.
Malam ini—malam ke-29—mungkin adalah malam ganjil terakhir. Mungkin pula malam perpisahan. Tapi jika ini perpisahan, biarlah ia jadi luka yang indah—luka karena takut tak mampu menjaga cahaya yang telah dinyalakan Ramadan.
Kalau ini benar malam terakhir, biarlah ia menjadi malam janji. Bahwa selepas Ramadan pun, kita tetap mencintai Tuhan yang sama, dengan rindu yang sama. Karena cinta sejati tak mengenal akhir. Ia bukan singgah sesaat saat kita butuh atau nyaman. Ia bukan ritual musiman yang on - off. Tapi ikatan jiwa yang tak lepas, relasi yang hidup sepanjang usia. Dan semoga, sepanjang usia itu, kita tetap bersama-Nya—dalam perjumpaan, juga dalam perpisahan dengan Ramadan.
Mungkin ini malam ganjil terakhir kita.
Mungkin ini Ramadan terakhir dalam hidup kita.
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Random abis nemu podcast yang bahas teori psikologi (empat temperamen) dan hubungannya dengan Islam, ternyata menarikkk, jadi mau share yg ak catet mwehehehe
Dari WAG...
Pengadilan Den Haag Gempar Semalam!
Pada 19 Maret, Rodrigo Duterte hadir di Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) dengan kursi roda untuk menjalani sidang.
Begitu hakim ICC membacakan dakwaan "kejahatan terhadap kemanusiaan," mantan Presiden Filipina berusia 79 tahun itu langsung melontarkan tiga "bom data":
1. "Militer AS membantai 350.000 warga sipil di Afghanistan, ICC pura-pura buta selama 20 tahun!"
2. "Israel telah membunuh 50.000 anak-anak di Gaza, di mana surat perintah penangkapan kalian?"
3. Ia kemudian memutar rekaman operasi anti-narkoba di Kota Davao, yang menunjukkan bahwa setelah pemberantasan narkoba, tingkat kriminalitas di wilayah itu turun drastis hingga 73%.
Hakim panik dan berusaha menghentikan dengan mengetuk palu, namun Duterte justru mengeluarkan setumpuk foto—gambar mayat anak-anak yang menjadi korban kartel narkoba, disandingkan dengan foto kehancuran akibat serangan drone militer AS. Dengan suara lantang, ia bertanya: "Mana yang lebih mirip kejahatan terhadap kemanusiaan?"
Ruang sidang langsung riuh! Warga Filipina yang hadir bersorak dan meneriakkan "Hidup Presiden!" hingga para petugas keamanan kesulitan mengendalikan situasi.
Pemerintahan Marcos kini dalam posisi sulit. Mereka awalnya ingin menggunakan ICC untuk menyingkirkan Duterte, tetapi justru popularitas Wakil Presiden Sara Duterte melonjak hingga 39%
Di hadapan pengadilan, Duterte bersumpah: "Jika saya dinyatakan bersalah, maka tangkap juga Biden dan Netanyahu untuk diadili
Pernyataan ini langsung menelanjangi kemunafikan ICC, yang hanya berani menindak negara-negara kecil, tetapi tak pernah menyentuh pemimpin negara adidaya.
Kini, ICC menghadapi dilema besar:
Jika Duterte dinyatakan bersalah, negara-negara di Global South mungkin akan ramai-ramai keluar dari ICC.
Jika ia dibebaskan, negara-negara Barat bisa menghentikan pendanaan ICC yang bernilai ratusan juta euro.
Pada akhirnya, "persidangan abad ini" berubah menjadi cermin besar—yang menampakkan borok sistem hukum internasional sekaligus menandai kebangkitan tatanan dunia baru......
Selamat sore teman-teman semua.
Semoga ke depan, dunia ini terbebas dari kekerasan dan tidak ada lagi pertumpahan darah di antara sesama. Mari kita bersama-sama berdoa agar dunia berubah menjadi tempat yang lebih damai dan sejahtera.