magnet:?xt=urn:btih:13ffbf49431b19b85fdee41beb565ed5beb611aa&dn=d6993ad34309.tar.zst.age
sha256 40c686202840b8af0325fcac54e2eb43f4f5a736bd9818cbbea78ce1226a5d7f
encrypted archive, please help safeguard, decryption key to be published
Ada lohh cewek yang kelihatannya serba bisa dan mandiri banget.
Padahal aslinya… dia cuma gak punya opsi untuk jadi lemah.
Udah kebiasaan ngurus semuanya sendirian, sampai tanpa sadar tiap hari jadi makin tangguh.
Semangat selalu ya para cewek hebat yang ada disana 🥹✨
“Para bapak, sudahi prinsip: mendidik anak laki-laki itu mudah. Turun tangan, didik anak laki-lakimu”
Semalam 16 mahasiswa FH UI disidang sampai jam tiga pagi, sidang terbuka, disaksikan secara live oleh ribuan orang.
Kejadian ini tidak tiba-tiba. Ini akumulasi. Terlalu lama society menelan mentah-mentah prinsip: “mendidik anak laki-laki itu mudah.”
TIDAK.
Justru karena dianggap mudah, banyak hal yang tidak diajarkan. Lihat saja pola yang sering diremehkan:
Berawal dari obrolan santai yang melecehkan, jadi kebiasaan, jadi cara pandang, lalu jadi perilaku nyata (liat gambar piramida perkosaan)
Tidak semua langsung jadi pelaku kekerasan seksual. Tapi hampir semua berangkat dari titik yang sama: normalisasi.
Society sibuk mendidik anak perempuan: jaga diri, jaga batas, jaga perilaku. Tapi kendor pada anak laki-laki.
“Namanya juga laki-laki.”
“Cuma bercanda.”
“Nanti juga ngerti sendiri.”
"Boys will be boys"
Tidak.
Karakter tidak tumbuh sendiri. Ia dibentuk. Dilatih. Ditegaskan.
Orang tua, perhatikan obrolan anak laki-lakimu. Kalau sudah mulai ada convo yang melecehkan: Tegur. Luruskan. Jangan ditertawakan atau dianggap enteng. Karena di situlah fondasi dibangun.
Terutama para bapak. Anak laki-laki belajar bukan dari teori, tapi dari contoh.
Bagaimana kamu bicara tentang perempuan. Bagaimana kamu memperlakukan pasanganmu. Bagaimana kamu menempatkan perempuan sebagai manusia, bukan objek. Semua itu direkam.
Dan akan mereka ulang.
Ketika seorang bapak menganggap mendidik anak laki-laki itu mudah, dia sedang memilih untuk menjerumuskan anak dengan tidak hadir secara penuh, tidak waspada, hingga di satu titik si anak bisa jadi pelaku ataupun korban.
Anak kemudian dibesarkan oleh algoritma, oleh teman, oleh budaya yang seringkali permisif terhadap pelecehan dan standar moral yang yang tidak sehat.
Kalau kita tidak serius mendidik anak laki-laki hari ini, jangan kaget dengan realitas besok. Karena pelaku tidak lahir tiba-tiba. Mereka dibentuk pelan-pelan, dari hal-hal yang selama ini dianggap “sepele.”
Just incase ada yang komen: "emang siapa yang bilang mendidik anak laki-laki itu mudah? Saya dididik dengan sangat keras"
Oh well, cara pandang itu sudah mengakar sejak lama di masyarakat.
Kenapa rape jokes & obrolan yg melecehkan GA BOLEH walaupun di trongkrongan inti?
1. Menormalisasi kekerasan seksual
2. Membentuk cara berfikir, awal nya sekedar obrolan, lama-lama itu bisa jadi kebiasaan ketika memandang perempuan
3. Mengobjektifikasi perempuan
4. Echo chamber
OH SATU LAGI, pas salah satu membela orang tua anak saya korban dan gak salah, dari tim negosiasi ada yang ngomong, anak ibu sudah mengaku
tau gak jawabannya apa? “itulah saya sayangkan harusnya jangan mengaku dahulu”
Ngeliat kasus FH UI, aku semakin yakin kalau ngajarin anak laki-laki jauh lebih susah daripada anak perempuan.
Ngajarin jangan body shaming, ngajarin respect, ngajarin harus ada boundaries, educate biar gak ngelecehin perempuan.
PLEASE ✨ EDUCATE ✨ YOUR ✨ SON
pelaku punya kakak perempuan???
1. lu punya kakak perempuan and that's how you talk about females???
2. lu perempuan dan adik cowo lu jadi pelaku pelecehan trs lu belain???
FUCKASS SIBLINGS MAN, NUKE THE WHOLE FAMILY TREE
“Irfan pernah bilang, dia bisa ngancurin karir orang lain di kampus dengn powernya.”
— tipikal omongan seonggok sampah masyarakat yang hobi berlindung di balik ketek mami-papi dengan background “berseragam” yang hobi nyirem air keras & suka bun*h orang.