“Salah satu sebab terkuat orang menjauh ogah dari pernikahan adalah rusaknya iklim moral sosial. Tabarruj merajalela, aurat diumbar-umbar, dan ikhtilat dinormalisasi.
Akibatnya orang yang masih punya ‘iffah jadi was-was mendapat pasangan yang meremehkan kehormatan diri -
ابقَ حيث تكون أقوى؛ فالأسد ملك في الغابة، ولكنه فريسة في الماء
Tetaplah di tempat di mana kamu paling kuat. Singa adalah raja di hutan, tetapi mangsa di air.
ننهزم دائماً أمام من نحب .. ليس لأنهم أقوياء ..
بل لأن قلوبنا تقف في صفهم
Kita selalu kalah oleh orang yang kita cintai ...
Bukan karena mereka kuat, tapi karena hati kita ada di pihaknya.❤️
☕️🌹
Seeing the Kaaba from this view gave me chills realizing these stones date back to the time of Prophet Ibrahim (peace be upon him). O Allah, increase its honor, majesty, and blessings, and bless all who visit it for Hajj or Umrah.
Doa dini hari ini:
YaRabb jadikan saya sibuk dengan urusan pribadi saya sendiri dan jangan biarkan saya menjadi orang yang fudhul (sok tau/kepoan) dengan kehidupan orang lain.
:)
Dalam kitab Ighatsah al-Lahfan, Imam Ibn al-Jauzi mengatakan:
“Pada dasarnya, manusia memiliki naluri atau kencenderungan mencintai dirinya sendiri, sehingga ia memandang dirinya baik dan benar; ia membenci orang yang berselisih dengannya, sehingga yang dilihat darinya hanyalah keburukannya. Bahkan, ketika kecintaannya kepada diri sendiri semakin kuat, ia bisa sampai pada titik melihat keburukan dirinya sebagai kebaikan.”
Misalnya, saat kita mudah membenarkan diri saat bersalah, namun cepat menyalahkan orang lain meski belum tentu benar. Dalam perdebatan, kita merasa paling logis; dalam konflik, kita merasa paling tersakiti. Padahal bisa jadi itu hanya bias cinta diri. Karena itu, terkadang, kita perlu berhenti sejenak sebelum bertindak, dan bertanya dengan jujur pada diri: “Apakah ini kebenaran, atau hanya pembelaan untuk diriku sendiri?”
Allah ﷻ says ;
“Whoever turns away from the remembrance of Allah —
a devil becomes his close companion.”
(Qur’an 43:36)
Ibn al-Qayyim رحمه الله said:
“Shayṭān’s strongest hold over a servant is during fear, grief, and excessive sadness.”
(Zaād al-Maʿād, )