Toh acap kali dalam institusi seni itu akan ada pendanaan elit? Sebelum ada Didit, ada Freeport dan yang sudah pasti dan rutin yah Sultanate.
Situasionist International (SI) seperti Asger Jorn malah menaruh karya-karyanya di gakeri borjuis dan hasil penjualannya digunakan untuk protes Mei 68 Prancis. Istilahnya Dètournement, merampok kelas borjuis. Bagi SI mereka gak pengen mengubah seni—tapi hidup—karena seni cuma ‘alat’.
Kalau pake ‘kacamata’ SI, ya bisa dianggap subversi nyata. Kalau dianggap ini hipokrisi naratif (diam dan menunjukan seolah-olah pemberontakan) yah jadinya The Spectacle.
Makanya, monggo jika ingin seniman independen tidak bersandar sepenuhnya pada ‘elitis’, bareng-bareng meredefinisikaj “sukses” dalam xenixenian dan mencari/mencatat preseden model ekosistem alternatif otonom. Tapi otonom di sini yah bukan berarti juga anti-modal (seperti mengartikan mentah-mentah jika kita anti-kapitalis itu tidak bekerja sama sekali atau harus hidup macam Unabomber).
Siapa penyedia layanan HIV/AIDS care terbesar—25% dari jumlah total—sedunia? Gereja Katolik Roma.
Salah satu denominasi tua yg paling tegas ttg urusan seksualitas dan reproduksi, bahkan sampai sekarang melarang penggunaan kondom, tapi bisa menerapkan prinsip non-diskriminasi.
Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD) menilai banyak kejanggalan dalam proses peradilan militer atas kasus penyiaraman air keras terhadap aktivis HAM KontraS Andrie Yunus. TAUD menyebutnya sebagai peradilan sandiwara.
Berikut beberapa kejanggalan menurut TAUD.
[Pamflet Politik edisi MayDay!]
"Di beberapa negara, pemerintah menyatakan mogok kerja ilegal atas nama pertahanan negara, sedangkan di lapangan, negara kapitalis yang sedang berperang menempatkan pekerja pada penderitaan dalam ekonomi perang."
https://t.co/QF2nnfzhKp
Poin penyampaian aspirasi buruh Koalisi GEBRAK disampaikan oleh Sunarno pada audiensi dengan pimpinan DPR saat aksi May Day 2026 di depan Gedung DPR RI:
1. Jamin kepastian kerja, hapus outsourcing.
2. Terapkan upah layak nasional.
3.Buat regulasi pro-buruh dengan libatkan serikat.
3. Ratifikasi Konvensi ILO 188 dan 190.
4. Lindungi buruh perempuan dan penyandang disabilitas.
5. Hentikan PHK Massal.
6. Perluas kesejahteraan lintas sektor, termasuk pekerja platform seperti ojol.
7. Kritik kepemimpinan saat ini yang dinilai militeristik.
8. Hentikan kriminalisasi gerakan rakyat, bebaskan semua yang ditahan.
9. Jalankan reforma agraria, hentikan penggusuran, dan tolak perang.