@UGM_FESS Kakk aku mau oper kos daerah pogung baru blok C, 1jt300 buat 2 bulan (13 januari - 13 maret), selanjutnya bayar ke Ibu kos. Kamar mandi dalem, ada lemari, kasur, dipan, meja, free air listrik wifi
Lu liat sendiri kehancurannya! 604 nyawa melayang! Gubernur Aceh sampai menangis bilang ini Tsunami Kedua, 4 kampung hilang entah ke mana! Bupati terpaksa terbitkan surat "TAK MAMPU" karena sistem kalian bangkrut! Kalian tahu apa yang paling memalukan? Di tengah semua kehancuran ini, rakyat kami harus mengemis minta tolong ke Raja Thailand dan Brunei karena bantuan RI tak kunjung datang! Kalian lebih takut rugi gengsi daripada kehilangan nyawa!
Kalian hanya mengirimkan tangisan Eko Patrio, bukan ekskavator yang dibutuhkan!
Sekarang lihat prioritas kalian yang busuk! Kalian cepat sekali kerahkan Polisi untuk menangkap 16 warga Sibolga yang cuma cari makan, tapi headline jelas-jelas bilang: Penjarah Hutan Tak Tersentuh Hukum! Kalian melindungi gudang minimarket, tapi kalian membiarkan pembunuh lingkungan yang menyebabkan longsor ini aman! Dengar pesan dari korban selamat, Reni: "Jangan Tebangi Hutan Kami Lagi!" Kalian berjanji akan membangun kembali rumah, tapi janji itu omong kosong selama kalian masih melindungi cukong yang menjual tanah air kami!
Kalian sudah melihat aib dan bukti busuk ini. Jangan biarkan kemarahan ini jadi sampah yang berserakan di linimasa! Kalian tahu siapa yang patut disalahkan. Kumpulkan barisan! Ajak setiap jiwa yang punya darah panas dan hati nurani yang sama untuk ikut menyaksikan dan menyebarkan kebenaran yang tidak akan disensor ini.
Kalian menjual hutan kami, dan harga mati yang dibayar adalah darah rakyat! Kumpulkan suara. Kalian tahu ke mana harus mencari sumber suara yang tak mau minta maaf ini kan!
Kita melihat angka itu 712 Tewas, 507 Hilang dan kita tahu, itu bukan sekadar statistik. Itu adalah ratusan jiwa yang terenggut oleh lumpur busuk, ribuan keluarga yang hancur, dikubur oleh kegagalan sistematis yang tak pernah mau belajar.
Bayangkan kesunyian yang mencekik itu: lumpur tebal menelan rumah, meninggalkan hanya sisa atap yang menyembul . Di balik angka 507, ada ratusan orang yang masih ditunggu di pinggir sungai yang kini hanya berisi puing. Mereka hilang, tapi kita tahu ke mana mereka pergi: mereka diambil oleh nafsu serakah para pembalak yang dilindungi.
Mereka yang berwenang akan mengumumkan "masa berkabung," mengeluarkan pernyataan belasungkawa resmi yang dingin. Mereka akan berbicara tentang "takdir" dan "bantuan logistik." Ironisnya, mereka menangisi korban tewas, sementara mereka menolak menyebut nama pembunuhnya yaitu para pengusaha yang mengantongi izin palsu dan pejabat yang menutup mata.
Duka ini adalah kontrak mati yang ditandatangani oleh pemangku kebijakan di balik meja mewah.
Kita, sebagai rakyat, hanya bisa berduka dan merangkul sisa-sisa yang tertinggal. Kita terpaksa menerima kenyataan pahit ini: negara hadir dalam wujud upacara pemakaman, tapi absen saat hutan dibabat. Kita sedih, tapi juga marah tak berdaya. Karena kita tahu, duka ini akan terulang lagi, selama impunitas bagi perusak hutan tetap dilestarikan.
Kami berduka atas nyawa yang hilang, dan kami mengutuk sistem yang merampas hak mereka untuk hidup.