aku ga suka konsep tarik ulur like mind games in relationship. some ppl say aku terlalu welcome n too easy to approach karena aku genuine. sometimes aku kepikiran juga, “aku salah apa ya sampai dilepas?”
but then i realized, i’m not wrong, i’m just being kind n treating people with respect.
just bcs i’m genuine doesn’t mean i’m not good enough. love should b easy, not confusing. i don’t want a relationship where i hv to pretend to b cold, hard to get, or harus main game biar dihargai.
kalau memang aku dilepas, maybe they’re just not my person. buka berarti aku kurang. the right person will appreciate my kindness, not take it for granted 🥹🤏🏻
Tapi di sisi lain, lo udah lihat pola yang sama berulang. Lo udah ngerasa capek yang sama. Lo udah tau kalau nerusin cuma bakal nambah luka. Akal sehat lo bilang ini harus diakhiri, tapi perasaan lo masih nolak.
Itu yang bikin paling sakit. Bukan karena lo harus lepas, tapi karena lo harus lepas padahal lo masih pengen nahan. Lo harus jalan menjauh padahal kaki lo masih berat.
Rasanya campur aduk antara sayang, kecewa, marah, dan kosong. Dan lo harus nerima bahwa kadang sayang aja nggak cukup buat nahan sesuatu yang udah nggak sehat.
Perasaan paling gaenak itu pas lo bener-bener gamau nyerah sama orang ini, tapi di sisi lain lo udah tau, lo memang harus nyerah.
Di satu sisi, masih ada rasa. Masih ada harapan kecil yang bilang "mungkin masih bisa". Masih ada bagian di dalam lo yang pengen nahan, pengen coba lagi, pengen percaya bahwa semuanya bisa balik seperti dulu. Lo belum siap bilang cukup. Lo masih nempel.