Aku sendiri nerapin ini sih, karena kali aja ada salah paham yang masih bisa diluruskan daripada jadi hal buruk yang dipendam. Cuma ya harus ketemu lawan bicara yang emotional intelligence-nya bagus dan mau dengerin juga biar ga nganggep setiap pembicaraan sebagai serangan :)
Kadang kita perlu berani buat "uncomfortable conversation"
Uncomfortable conversation itu bukan buat berantem, tapi buat jujur. Kalo gaberani ngomongin hal yang ngga nyaman, rasa ngga enak, atau cemburu bahkan kecewapun. berarti dua-duanya cuma jaga image biar keliatan baik-baik aja.
dari hubungan ku yang sekarang dia berhasil buat aku benar2 secure, dia bahkan gak ngasih celah aku buat curiga dan negative thinking ke dia, cara dia dalam penyelesaian masalahnya itu yang buat aku benar2 amaze sama dia.
ada saat dia marah, dia masih tetap tone down suara nya, tetap manggil aku sayang, dan bahkan ketika aku yang salah yang bujuk malah dia.
"perempuan tenang terbentuk dari laki2 yg tau cara berkomunikasi", karna komunikasi bukan cuma sekedar aku udh bangun, aku udh sampe, aku berangkat.
alesan kenapa gue selalu menanyakan dan membicarakan hal yang mengganjal, karena gue pengen membangun relationship yang baik sama orang yang ada disekitar gue. dan gue juga pengen tau apakah orang ini memang masih bisa berhubungan baik sama gue atau gak
dia bukan avoidant, bukan bingung. he’s just a loser and that’s your closure.
mentalnya msh belum stabil. komunikasinya jelek. jgn capek2 nyari “deep meaning” dari orang yang emang belum punya kapasitas buat communicate like an adult😉
Justru di situ seninya belajar, the feelings of doing something badly and know that you can always try again.
Gak perlu merasa malu kalau kita belum bisa dan belum tahu. Kesadaran ini bikin kita jadi mau belajar terus. Justru bahaya kalau sampai merasa udah tahu semuanya.
kenapa ya tiap abis seneng-seneng, something bad happens right after?? sampe kadang takut sendiri kalo lg terlalu bahagia tuh, kayakk nanti ada aja part gaenak nya
Percaya ga? Sebentar lagi Allah bakal kasih surprise yang bikin kamu menangis saking bahagianya setelah kesabaran yang panjang, sambil bilang "qodarullah, ternyata ini maunya Allah."
sometimes aku tuh gamau menjelaskan about how i feel, about how my prespective point, even worse sometimes aku membiarkan suatu kesalahpaham terjadi in front of me, karena aku malas menjelaskan, karena orang tuh gabakal cukup ngerti diposisiku dan maksudku, yang lead me into bad-
lagi baca novel terus ada bagian sedihnya, habis itu nangis. tapi nangisnya sampai nggak berhenti-berhenti, ternyata sekalian nangisin hal-hal yang kemarin nyakitin tapi ketahan sampai sekarang. and somehow, it became a release that left me feeling deeply at peace.
gimana ya cara ngejelasin kalau kita tuh emotionally unavailable and easily socially overwhelmed karena sensory issues. gak ada niat gak menghargai atau nganggep orang gak penting. i just genuinely get exhausted from having to reply to chats, answer calls, maintain conversations, or meet up regularly, even when i look active online & free. belum lagi kalau lagi hyperfocused on something.
kadang capek juga sama standar “kalau peduli pasti bales”, “kalau sayang pasti nyempetin”, “kalau gak ngabarin berarti gak penting.” and this isn’t even exclusively about romance. pertemanan juga sering kayak gitu. padahal sama orang tua sendiri aja kadang gue butuh waktu buat bales chat wkwkwk yes im the distant daughter, makanya seringnya ditelpon karena kalau chat lama balesnya.
selama ini kita berusaha masking dan mengikuti standar social availability orang lain, tapi any meaningful relationship we have still can’t magically override our limitations. punya kepedulian sama orang lain gak ujug-ujug bikin social battery gue bertambah.
bahkan sama temen-temen yang gue genuinely enjoy being around, kadang dari awal gue udah bilang, “lagi males ngomong ya” then i just sit there with them, listen to them, watch them do their thing, and genuinely enjoy their company. i want your presence, i just dont always want interaction.
sering juga lagi overwhelmed tapi maksain ketemu orang-orang, malah tiba-tiba nangis karena saat itu kepala gue masih penuh mikirin final project wkwk makanya gabisa dadakan dan harus selalu mentally prepared dulu karena kita jadi gak “hadir” diajak ngomong aja zoning out😹😹😹
and romantic interests somehow feel even more pressuring. once someone starts expecting constant replies, calls, updates, attention, or access to my time, i immediately feel overwhelmed. especially when we’re barely anything yet. you’re not even my husband, why am i already being treated like i owe you constant availability? i really dont like men who act controlling or entitled to my time and attention. you’re still practically a stranger to me. and yes, i can be interested in someone, think he’s a genuinely good guy, and still not be comfortable giving him that much access to me.
interest does not automatically equal access. the moment i feel being demanded, it stresses me out and makes me anxious. merasa bisa mencapai milestone tapi maintainingnya gak tau.
i dont think i would survive lansekap romansa era modern bruh, kayaknya harus hidup di zaman 70an, ngabarin orang pakai surat nyampenya seminggu sekali😹😹😹
Alih-alih sibuk menghafal jln menuju surga, sy pikir Tuhan akan lebih senang jika sy berhasil melewati hari tnp menciptakan neraka kecil bagi orang lain
Mungkin dr ucapan yg kita anggap candaan, dr perlakuan yg kita anggap kebiasaan, dan dari sikap yg trnyta meninggalkan beban
masih ga nyangka bocil ini ternyata memasuki fase quarter life crisis yang kalo bengong dikit kepikiran hidup arahnya mau dibawa kemana, ngebandingin pencapaian diri sendiri sama orang lain, ngerasa stuck gaada perkembangan & ngerasa bersalah tiap seneng dikit .