Prabowo labels journalists, analysts, and NGOs as “londo ireng”:
“Londo-Londo Ireng ini sampai sekarang masih ada. Hanya dia sekarang pakai baju lain, kan? Wartawan, jurnalis apa itu? Pengamat, LSM. LSM harus kita tanya, yang gaji lo siapa? Yang bayar listrikmu siapa? Yang bayar handphonemu siapa?”
(https://t.co/a0chzOs76I)
Boleh ngga, kita sudahi dulu (paling gak sejenak) euforia Spanyol ngalahin Argentina dan jadi juara dunia, beserta segala teori konspirasi nya.
Saatnya berikan apresiasi kepada timnas putri negeri sendiri.
Garuda Pertiwi juara AFF, BACK TO BACK pula !
Kalau mau lihat bentuk gastrokolonialisme yg nyata bisa lihat apa yang terjadi di Mentawai. Bahwa, kolonialisme dengan mengubah pola makan bisa mengubah budaya, bahkan agama.
Jadi, pergeseran pangan di Mentawai dari sagu dan talas ke beras bukanlah perubahan yang terjadi secara alami, melainkan hasil proyek kolonial yang memaksakan cara makan baru sekaligus cara hidup baru. Inilah salah satu contoh paling jelas dari gastrokolonialisme: penggunaan pangan sebagai alat untuk menguasai masyarakat.
Hingga akhir abad ke-19, masyarakat Mentawai tidak menjadikan nasi sebagai makanan pokok. Mereka hidup dari sagu, talas, pisang, dan pangan hutan yang sesuai dengan ekologi setempat. Setelah Belanda mendirikan garnisun di Muara Siberut pada 1911, pangan lokal dicap sebagai simbol keterbelakangan. Orang Mentawai bahkan dilabeli “malas”, “primitif”, dan “bodoh”, sehingga dianggap harus “diperadabkan”.
Beras kemudian diperkenalkan bukan semata sebagai tanaman, melainkan sebagai instrumen kolonialisasi. Bersama misionaris Protestan Jerman, pemerintah kolonial mempromosikan sawah sebagai jalan menuju “kemajuan”, “kerja keras”, dan agama Kristen. Sagu dan talas dianggap kurang bergizi, sementara beras diposisikan sebagai makanan masyarakat yang lebih beradab. Dengan kata lain, perubahan pangan menjadi pintu masuk untuk mengubah kepercayaan, pola kerja, hingga identitas budaya masyarakat Mentawai.
Ironisnya, proyek ini gagal secara ekologis. Sawah di Siberut tidak cocok dengan kondisi alam: kekurangan air saat kemarau, terendam banjir saat musim hujan, dan hasil panen diserang tikus. Namun, meski gagal di lapangan, gagasan bahwa beras lebih unggul daripada pangan lokal terus diwariskan dan kemudian diperkuat pada masa Orde Baru melalui kebijakan swasembada beras. Warisan kolonial itu masih terasa hingga kini, ketika beras tetap ditempatkan sebagai satu-satunya pangan utama, sementara sagu, talas, dan pangan lokal lainnya terus dipinggirkan.
Saat ini semakin banyak orang Mentawai yg meninggalkan keladi dan sagu beralih ke beras. Tapi, hal itu juga memicu ketergantungan lebih besar ke pangan dari luar karena produksi beras tdk bisa dipenuhi di lingkungan mereka sendiri. Ini sebenarnya proyeksi yg akan terjadi pada Papua dan daerah lain yg meninggalkan pangan lokalnya.
Kalau mau lebih lengkap bisa baca di artikel saya beberapa tahun lalu: https://t.co/je7MP6AepW
ada yang request ke abang abang pancake sd buat di buat jadi gambar namyejun
👨🏻 “anjay~ i lop” “ini yejun anjay~ prok prok jadi apa? jadi pancake~”
nangis bgttt abangnya lucu mana jadinya bagus bgttt #️⃣risepek 👏🏻😭👏🏻😭👏🏻😭👏🏻😭
Baru 7 bulan di 2026, daftar kasus korupsi terus nambah.
• Januari — Korupsi kuota haji.
• Februari — Korupsi impor tekstil (±Rp184 miliar).
• Maret — Suap proyek pemerintah daerah.
• April — OTT suap proyek infrastruktur & perizinan.
• Mei — Korupsi pengadaan barang/jasa.
• Juni — Korupsi Chromebook Kemendikbud (±Rp1,97 triliun).
• Juni — Suap proyek Disdik Muara Enim.
• Juli — Dugaan korupsi Program MBG.
• Juli — Korupsi pakan satwa Kebun Binatang Surabaya (±Rp10 miliar).
Dan hampir setiap bulan selalu ada kasus baru. Pun di tengah rentetan kasus kaya gini, RUU Perampasan Aset masih juga belum disahkan oleh DPR RI.
Keinget kemarin aku sama temenku nonton ulang di bioskop dan aku TETEP NANGIS. Mana banyak banget orang yang nonton di bioskop hmm... semoga semua orang yang nonton filmnya queer, or at least ally. Gak rela banget film sebagus ini disukain sama homofobik.
kebijakan salah arah.
negeri ini tidak butuh 10 universitas RI. negeri ini butuh reformasi sektor pendidikan tinggi: kesejahteraan dosen, UKT, dukungan riset dan inovasi, ekosistem pengetahuan.
ini gak hanya pemborosan anggaran,
tapi kesalahan mendasar tentang pemahaman dunia pendidikan tinggi.
Hari ini tg. 23/7/26 di Jakarta ada @AksiKamisan
27th trgd Tgk.Bantaqiah, pmrnth wajib mmenuhi hak2 krbn/kel.krbn mlalui pnegakan keadilan, phormatan hak msyrkt, mnrima pdpt rakyat u/mnentukn masa depanya scara bebas, bmakna, tanpa intimidasi.
@dipanggilwawan
Duhai Allah… Setiap satu Rupiah dari pajak dan atau penerimaan negara lain yg kami bayarkan kemudian dikorupsi/disalahgunakan oleh siapa pun pelayan masyarakat dan atau penggunanya, jadikan ia musibah yg pedih yg dapat menyadarkan diri mereka dan keluarganya. Serta pemberat serta memperlama mereka mendapatkan azab yg pedih di neraka…
GILA!!!!! LUSA DEMO SEKEOS INI YANG LEWAT DITL CUMA 2-4 DOANG. UDAH DIDIBUNGKAM ITUKAH KITA??
KEMANA MEDIA LOKAL KITA? SWASTA??
MASAK KITA TAUNYA DARI NEGARA TETANGGA??
kalian bisa bungkam media lokal, swasta, tapi tidak dengan media global. Apa itu setan gunung Kawi???dajjal aja sungkem sama pemerintah
tiap kali denger wacana "kurikulum pencegahan LGBT" buat anak SD, gua selalu kepikiran film Monster (2023) karya Koreeda
banyak org selesai nonton film itu terus nanya "emang monster-nya siapa?"
and that's the point, monster-nya bukan Minato, bukan juga Yori. mereka cuma dua anak kecil yang bahkan belum sepenuhnya ngerti apa yang mereka rasain
buat gua, monster-nya adalah masyarakat yang bikin anak-anak ini percaya kalo ada sesuatu yang salah dalam diri mereka, sampe mereka harus tumbuh dengan rasa takut, rasa malu, bahkan nganggep diri mereka "berotak babi" cuma karena ngerasa beda
anak queer itu exist, and will always be.
mereka bukan jadi queer karena diajarin di sekolah, nonton film, atau ketemu orang LGBT. tapi kalo dari kecil mereka terus diajarin LGBT adalah sesuatu yang harus "dicegah", then once they fully understand themselves, hal pertama yang ikut tumbuh bukan penerimaan diri, melainkan rasa takut, rasa malu, dan keyakinan bahwa mereka adalah barang rusak
kalau dari kecil negara mulai menanamkan bahwa keberadaan mereka adalah sesuatu yang harus "dicegah", yang lahir bukan generasi yang "straight", yang lahir justru anak anak yang ngabisin masa kecilnya dengan "kenapa gua salah?"
that's the real tragedy, dan menurut gua, itulah monster yang sebenarnya, I hope no other Minato or Yori ever has to grow up believing they're the monster