Woy, biadab @Kemdikdasmen!
Kenapa hal-hal kotor kayak gini pelaksanaannya atas perintah dinas di bawah naungan kalian?? Kalau cita-cita mencerdaskan anak bangsa gak bisa kalian wujudin at least jangan ngerusak masa kecil mereka dengan cara-cara bodoh kayak gini, bangsat!🫵🏻
🚨BREAKING
AKUN JURNAL MILITER MELAKUKAN DOXING DATA MAHASISWA‼️‼️
Mindrasos tidak membernarkan apa yg dilakukan oleh mahasiswa ini. tapi menyebarkan data seseorang ke internet oleh aparatur negara sungguh membahayakan bagi ruang gerak sipil.
@kompascom SOP aparat unik bgt. Mhs nolak MBG disambut barikade kyk mau war. Giliran massa pro MBG turun, eh minim pengawalan udh kyk karnaval. Keliatan bgt mana aspirasi organik & mana yg dpt 'ACC' penguasa 🤭🙈
jadi hari ini ada demo dukung program MBG, tapi di arahin sama pak polisi tercinta kita
Waduuu VIP banget treatmentnya yaa.. beda sama yg kmrn sampe dihadang, diputer2.. eh..
Guys, Bu Rani Anggrini Dewi konselor pernikahan 25 tahun lebih, sudah menikah 44 tahun bilang sesuatu yang menurut gua adalah penjelasan paling nyesek yang pernah gua dengar tentang kenapa banyak perempuan menyesal setelah menikah.
Dan ini bukan opini.
Ini dari orang yang setiap hari duduk berhadapan dengan pasangan-pasangan yang pernikahannya sedang hancur.
Jawabannya satu kalimat
mereka masuk ke pernikahan
tanpa tahu siapa diri mereka sendiri.
Dan begitu mereka masuk
semua yang membentuk identitas mereka sebelumnya karir, mimpi, ambisi,
pengembangan diri pelan-pelan hilang.
Bukan karena dirampas.
Tapi karena struktur pernikahan
yang mereka masuki memang tidak dirancang
untuk menampung itu semua.
Bu Rani bilang polanya sangat konsisten dari ribuan kasus yang dia tangani.
Perempuan menikah.
Anak lahir.
Semua fokus beralih ke peran sebagai ibu dan istri.
Pengembangan diri berhenti.
Dan di suatu titik entah dua tahun kemudian atau sepuluh tahun kemudian mereka bangun dan bertanya siapa saya sekarang?
Saya sudah S1,
saya pernah kerja,
saya punya mimpi.
Sekarang saya cuma masak
ngurus anak, dan menunggu suami pulang.
Dan yang membuat ini sistemik dan bukan hanya nasib buruk individu adalah satu fakta yang Bu Rani sebut dengan sangat tegas orang tua Indonesia sekarang sudah sadar untuk menyiapkan anak perempuannya.
Mereka kirim ke universitas terbaik.
Dorong untuk berkarir.
Ajarkan untuk mandiri secara finansial.
Tapi mereka lupa menyiapkan anak laki-lakinya.
Hasilnya adalah collision yang tidak bisa dihindari. Perempuan yang sudah berkembang menikah dengan laki-laki yang masih membawa mindset bahwa suami harus dilayani, urusan rumah tangga dan anak adalah urusan istri, dan suami harus selalu lebih tinggi dari istri dalam segala hal.
Dua orang dengan level perkembangan yang sangat berbeda masuk ke satu institusi.
Dan perempuannya yang selalu diminta untuk menyesuaikan diri ke bawah bukan laki-lakinya yang didorong untuk naik ke atas.
Dan ini yang paling menyakitkan dari seluruh cerita ini. Banyak perempuan yang menyesal bukan karena suaminya jahat.
Bukan karena pernikahannya penuh kekerasan.
Tapi karena perlahan-lahan tanpa ada satu momen dramatis yang bisa ditunjuk sebagai titik balik mereka kehilangan diri mereka sendiri.
Dan begitu mereka sadar bahwa yang hilang itu tidak bisa dikembalikan oleh siapapun termasuk oleh suami yang mencintai mereka itulah penyesalan terdalam yang Bu Rani temui dalam kasusnya setiap hari.
perempuan yang menyesal setelah menikah bukan perempuan yang salah pilih pasangan.
Mereka adalah perempuan yang masuk ke struktur yang tidak pernah dirancang untuk menampung mimpi mereka.
Dan selama struktur itu tidak berubah selama anak laki-laki tidak disiapkan dengan cara yang sama dengan anak perempuan angka penyesalan itu tidak akan turun.